Arsip Blog

Mensyukuri Keunikan dan Keistimewaan

Kita harus mensyukuri keunikan dan keistimewaan kita, dan menyempurnakannya untuk kepentingan Tuhan.

Meneladani Tuhan Yesus, kita harus menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Tuhan kepada kita. Kata yang digunakan untuk “menyelesaikan” adalah telioso yang juga berarti “merampungkan dengan sukses” atau ” menyempurnakan”. Maka kita seyogyanya mensyukuri keunikan dan keistimewaan yang Tuhan berikan kepada kita, dan menyempurnakannya untuk kepentingan-Nya. Untuk itu kita harus memperhatikan beberapa catatan.

Pertama, kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain, sebab memang kita unik dan tidak ada duanya. Membandingkan diri dengan orang lain berarti tidak menerima dan tidak mengerti kebesaran dan keagungan Tuhan. Dengan tidak membanding-bandingkan, kita tidak akan menjadi tinggi hati dan memandang rendah orang lain, tidak juga menjadi rendah diri atau minder.

Kedua, kita tidak perlu berusaha meniru orang lain yang kita kagumi, jika Tuhan tidak menghendakinya. Kita harus menjadikan diri kita seperti yang Tuhan kehendaki. Kita dilahirkan sebagai pribadi orisinal, jangan sampai kita mati sebagai pribadi imitasi. Oleh sebab itu kita harus tetap dalam pembentukan Tuhan yang memberi kita keadaan khusus, sampai menjadi bejana seperti yang Tuhan kehendaki ( Yeremia 18:4 ).

Ketiga, kita perlu menemukan tempat kita untuk mengabdi kepada Tuhan. Ini bertalian dengan bakat yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing. Di mana pun kita berada – tidak hanya terbatas dalam lingkungan gereja – kita dapat mengabdi kepada-Nya. Talenta yang diberikan Tuhan adalah milik-Nya, kita hanya pengelola semata-mata; karena itu kita harus menggunakannya untuk kepentingan Tuhan.

Kuasa kegelapan selalu berusaha membuat kita merasa tidak berarti dan tidak berguna. Tetapi dengan mengenal kebenaran, kita tidak boleh terpengaruh akan tipuan itu. Mari kita menghargai karya Allah yang agung dalam hidup kita, sebab tanpa kita dapat menghargai keistimewaan diri kita sendiri, mustahil kita dapat menghargai orang lain.

Kesempatan hidup kita sangat terbatas, sehingga hendaknya kita meletakkan kepentingan untuk berbuah bagi Tuhan lebih dari segala cita-cita dan keinginan kita. Lakukan kehendak-Nya dan selesaikan tugas yang diberikan-Nya dengan sukses, agar tidak percuma Tuhan menciptakan kita dengan keadaan yang sangat unik dan luar biasa ini.

– Sola gracia –

Iklan

Jalan Menuju Sukses

Menatap tema ini ada kegelisahan di hati, mengertikah orang-orang mengenai apa yang dimaksud dengan sukses itu. Sama seperti seseorang hendak menuju suatu tujuan, misalnya ke kota Bogor. Masalah utamanya bukan bagaimana menuju kota Bogor atau mencapai kota itu, tapi tahukah di mana dan bagaimana kota Bogor itu. Jangan sampai kota Tangerang dibilang kota Bogor. Tentu saja setiap orang selalu menginginkan sukses, dan terus berjuang untuk mencapainya sampai akhir hayatnya. Tetapi persoalannya adalah adalah apa yang dimaksud sukses itu dan bagaimana meraihnya. Untuk memahami apa sukses itu, kita harus mulai dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia. Di sini terjadi benturan konsepsi. Tergantung filosofi hidup orang itu. Filosofi seseorang ditentukan apa yang mengisi jiwanya.

Jadi pengertian sukses sangat relatif, yaitu tergantung filosofi hidupnya. Orang yang memandang materi sebagai nilai tertinggi kehidupan, menjadi orang kaya berarti suatu kesuksesan. Orang yang memandang nilai akademis sebagai ukuran suksesnya, meraih gelar berarti suatu keberhasilan. Orang yang memandang kehormatan sebagai nilai tertinggi kehidupan, bila menjadi seorang yang terhormat dalam gelanggang politik, pemerintahan dan berbagai bidang hidup akan merasa diri sukses dan lain sebagainya.

Sukses bukan saja relatif tetapi juga bergerak, artinya biasanya orang tidak merasa puas pada suatu level, ia akan selalu bergerak untuk meraih level yang lebih tinggi. Pada mulanya merasa sukses kalau sudah menjadi sarjana ( S1 ), tetapi ketika melihat orang lain memiliki gelar Master dan selanjutnya. Orang yang merasa sukses ketika memiliki penghasilan 50 juta rupiah per bulan. Tetapi ketika memiliki peluang bisa mengumpulkan uang lebih dari itu, maka ia tidak akan puas dengan jumlah uang tersebut. Ia mengingini jumlah uang yang lebih besar lagi, sampai akhirnya pengertiannya menjadi gelap, sehingga tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, citra diri dan kepantasan.

Dalam hal ini kita tidak boleh menyamakan pengertian sukses menurut anak-anak Tuhan yang diajar berdiri di atas kebenaran Alkitab dengan mereka yang tidak mengenal kebenaran Firman Tuhan. Menurut dunia, sukses adalah bila dapat menikmati dunia sebanyak mungkin. Dunia disini artinya segala kekayaan, kehormatan dan berbagai fasilitas hidup materi. Bila meningkat jumlah hartanya maka itu tanda-tanda sukses ( Lukas 12:18-21 ). Bila meningkat jumlah penghormatan yang diterima dari manusia itulah tanda-tanda sukses. Tetapi anak-anak Tuhan memiliki tanda sukses yang berbeda. Tanda sukses anak Tuhan adalah : hidup dalam persekutuan dengan Tuhan dan pengabdian kepada-Nya ( Filipi 1:21 ). Inilah maksud Tuhan menciptakan manusia. Oleh sebab itu kita tidak boleh membawa konsep sukses menurut dunia ke wilayah anak-anak Tuhan. Anak-anak Tuhan harus mengalami pembaharuan pikiran sehingga arah hidupnya benar. Konsep sukses yang salah akan membinasakan hidup seseorang.

Sangat mengejutkan ternyata terdapat banyak orang Kristen yang tidak memiliki sasaran yang jelas dalam hidup ke-Kristen-nannya. Ini berarti dalam kehidupan ini ia tidak memiliki arah yang jelas. Rasul Paulus dalam suratnya berkata : “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul” ( 1 Korintus 9:26 ). Bagai seorang atlet yang sedang turun di medan pertandingan ia tahu persis dimana garis finish-nya, ia tahu ke mana seharusnya ia melangkah. Untuk itu arah sangat penting. Bukan hanya kecepatan langkah yang harus dimilikinya tetapi juga arah langkahnya.

Hidup ini adalah sesuatu yang sangat hebat, pergumulan yang luar biasa artinya sesuatu yang harus digumuli secara serius. Pergumulan itu bukan terletak pada sukarnya mencari nafkah, sukarnya mempertahankan reputasi, membela harga diri dan nama baik, mengokohkan kedudukan dan kekuasaan dunia, yang pada umumnya dipahami sebagai kesuksesan tetapi pada mempertahankan konsistensinya pada arah perjalanan hidup yang benar. Seseorang yang hidupnya sudah benar, ia harus tetap bertahan untuk ada pada jalur yang benar, ia tidak boleh menyimpang ke kanan atau ke kiri. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, Paulus berkata : “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus ( Filipi 3:13-14). Dalam pernyataannya ini kita menemukan kembali sikap hidup Paulus yang menunjukkan bahwa ia memiliki arah hidup yang jelas. Kehidupan Paulus adalah kehidupan yang bertujuan jelas. Perhatikan perkataannya “berlari-lari kepada tujuan…”. Untuk ini sejenak kita patut berhenti merenungkan hidup kita ini apakah arah hidup kita ini sudah benar. Dari hari ke hari kita melangkah dalam kepadatan kesibukan dan tugas, coba kita periksa kemana arah hidup kita sebenarnya. Sukses bagaimanakah yang sedang didamba ?

Hendaknya kita tidak merasa gagal hanya karena belum memiliki apa yang dunia hari ini tawarkan kita. Juga jangan merasa sudah berhasil karena memiliki segala fasilitas. Kalau kita merasa kurang berkenan dengan materi maka  seseorang tidak dapat beribadah kepada Tuhan. Alkitab berkata : Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar ( 1 Timotius 6:6 ) Kata cukup dalam teks aslinya adalah autarkeias, yang dapat diterjemahkan contentment atau sufficiency, merasa cukup atau puas dengan apa yang sudah dimiliki. Kita harus merasa bahwa klimaks puas kita adalah ketika kita sampai di rumah Bapa menerima mahkota abadi ( 2 Timotius4:8 ). Tidak ada sukses yang lebih besar dari ini.

Akhirnya bagaimana kita dapat mencapai sukses yaitu kalau kita mengikut jejak Tuhan Yesus ( Matius 16:24 ). Memikul salib, adalah proses menuju kematian. Justru ketika kita mematikan cita-cita yang bertendensi kepada kebanggaan diri dan kesenangan dunia, maka itulah jalan menuju sukses. Ciri-ciri orang sukses antara lain :

Pertama, dosa tidak lagi berkuasa dalam tubuh yang fana. Ini adalah hukum terpenting dalam hidup kekristenan. Kesediaan untuk ini merupakan hal utama. Itulah sebabnya kita memberi diri dibaptis. Dalam baptisan tersebut kita menguburkan cara hidup kita yang lama yang Tuhan tidak kehendaki dan hidup dalam hidup yang baru ( Roma 6:1-4 ). Dalam hal ini kita menemukan bahwa pengertian kesucian dalam keKristenan bukan sekedar tidak berbuat dosa, tetapi tidak dapat berbuat dosa lagi. Ini berarti mengambil mengenakan kodrat Ilahi (2 Petrus 1:3-4 ). Mengenakan kodrat Ilahi sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah ( Ibrani 12:9-10 ). Kodrat Ilahi sejajar dengan kekudusan Allah. Orang yang mengenakan kodrat Ilahi adalah orang yang memiliki kekudusan Allah. Jadi kalau Tuhan Yesus mengatakan agar kita harus sempurna seperti Bapa artinya agar kita mengenakan kodrat Ilahi. Mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, teks aslinya adalah theias koinoonoi phuseous, kalimat ini hendak menunjuk pribadi yang ber”associate” dengan Allah. Ini adalah pribadi yang pikiran dan perasaannya selalu berelasi atau kontak dengan Allah terus-menerus ( to connect or bring into relations, as thought, feeling ). Pribadi yang telah memiliki kualitas hidup seperti ini adalah Tuhan Yesus Kristus. Dialah model atau prototype manusia yang dikehendaki oleh Allah untuk dikenakan setiap umat pilihan dalam hidup ini. Injil-lah tujuan hidup yang harus digumuli dan harus diraih.

Orang yang mengenakan kodrat Ilahi adalah orang-orang yang berpikir sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Allah. Tentu saja dengan kualitas berpikir dan berperasaan seperti ini, seseorang dapat melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Ia melakukan kehendak Allah bukan karena suatu tekanan perintah atau kewajiban tetapi sudah menjadi suatu nature yang otomatis bergerak dalam hidupnya ( not to do but to be ). Untuk mencapai taraf atau level seperti ini seseorang harus melalui proses pendewasaan atau pemuridan yang panjang, yaitu sepanjang umur hidupnya.

Kedua, hidup sepenuhnya bagi kepentingan Tuhan. Anak-anak Tuhan harus memiliki kesadaran bahwa tidak ada lagi bagian hidupnya yang digunakan untuk kepentingannya sendiri. Baginya hidup bagi Tuhan bukanlah sebuah kewajiban tetapi kebutuhan. Hidup bagi Allah Bapa atau kepentingan Kerajaan Allah adalah gaya hidup Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menunjukkan gaya hidup seperti ini dalam pernyataanNya “makananKu adalah melakukan kehendak Bapa” ( Yohanes 4:34 ). Dalam terjemahan lain diterjemahkan “Adapun rezeki-Ku, yaitu melakukan kehendak Dia”. Dalam pernyataan yang lain Paulus berkata : di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya ( Filipi 3:10 ). Kalimat “menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” ( being made comformable unto His death ) artinya mati seperti Tuhan Yesus mati. Kematian macam apakah yang dimiliki Tuhan. Tentu kematian di atas kayu salib. Ia menderita bukan karena kesalahan-Nya, bukan karena membela ambisi-Nya tetapi untuk kepentingan semua orang yang berdosa.

Kita harus sadar bahwa kita sebenarnya tidak berhak ada. Kalau kita bisa mengadakan diri kita sendiri, maka kita berhak memiliki keinginan sesuka kita sendiri tetapi ternyata kita tidak bisa membuat diri kita ada. Tuhan yang mengadakannya, maka Tuhanlah yang harus berhak sepenuhnya atas diri kita. Maka kita harus berani berkata dengan tegas : God doesn’t exist for me, I exist for The Lord. Orang percaya yang benar akan berusaha untuk belajar tidak berhak memiliki suatu keinginan. Segala keinginannya haruslah sesuai dengan kehendak Bapa. Orang percaya yang benar akan melayani Tuhan dengan segenap hidup, sehingga semua orang percaya menjadi fulltimer bagi Allah.

Ketiga, mengarahkan sepenuh kepada perwujudan fisik Kerajaan Allah. Untuk turut mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi, setiap orang harus mengoptimalkan potensi yang ada. Mengoptimalkan potensi berarti mengembangkan semua bakat dan kapasitas diri tanpa batas dalam berbagai bidang kehidupan. Sesungguhnya inilah pelayanan tersebut. Berbicara mengenai panggilan pelayanan, ini menunjuk kepada sesuatu yang datang dari luar, dalam hal ini Tuhan sebagai “pemanggilnya”, yaitu dipanggil untuk melayani Dia. Manusia memikul tanggung jawab untuk memilih suatu profesi dan bertanggung jawab atas profesi yang dipilihnya yaitu dengan mengusahakan agar mencapai hasil yang maksimal.

Seseorang mau tidak mau akan menempatkan dirinya pada pekerjaan tertentu sebagai upaya mencari nafkah dan kelangsungan hidupnya. Bagi manusia yang berada di lingkungan kota dan hidup pada peradaban modern, sejak dini mulai menjuruskan dirinya pada pendidikan tertentu yang akan menentukan jabatannya kelak di kemudian hari. Oleh sebab itu hal profesi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang percaya.

Pekerjaan kita haruslah tempat di mana kita dapat mengabdi bagi Kerajaan Allah, Anak-anak Tuhan memiliki dan memikul tanggung jawab atas profesi yang dipilihnya. Mengingat hal ini maka hendaknya kita memikirkan dan memperhatikan benar-benar hal pemilihan profesi tersebut. Dalam pemilihan profesi yang kita lakukan, kita tidak boleh melupakan rencana Allah atas hidup kita masing-masing. Dalam memilih suatu profesi kita harus bertanya kepada Tuhan, “Di manakah dan dengan cara bagaimanakah aku harus mengabdi kepadaMu Tuhan ?”

Semua pekerjaan adalah pekerjaan Tuhan atau pekerjaan rohani bila dilakukan dengan motivasi  bagi kemuliaan Tuhan. Pembedaan profesi harus dilihat bukan karena jenis profesi tersebut semata-mata tetapi motivasi terdalam orang melakukan pekerjaan atau memilih profesi tersebut. Dalam profesi yang kita miliki, yang di dalamnya kita bergumul dan mengisi hidup, kita berurusan dengan Allah dan Firman-Nya. Selanjutnya perintah Tuhan yang termuat di dalam Firman-Nya harus menerangi seluruh segi hidup kita, juga di dalam profesi yang di dalamnya kita bergumul bekerja. Sehingga tidak ada pemisahan antara kesusilaan pribadi dan kesusilaan profesi. Sebagai warga Kerajaan Sorga, kita harus tunduk kepada otoritas kebenaran Firman-Nya di manapun kita berada.

Untuk mencapai keberhasilan dalam bidang yang digeluti seseorang harus giat bekerja. Kita tidak boleh menyerahkan wilayah tanggung jawab kita kepada Tuhan. Berkat dan penyertaan Tuhan telah disediakan, tetapi kerja keras untuk mengembangkan diri adalah tanggung jawab kita. Berkat dan penyertaan Tuhan tidak berarti banyak tanpa kerja keras masing-masing individu. Untuk itu ada beberapa saran-saran atau nasihat yang harus ditambahkan untuk mencapai sukses :

Pertama, selalu memperbaharui gairah hidup bagi Tuhan.

Kedua, menemukan tempat di mana seseorang efektif berguna bagi pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini setiap orang memiliki tempat yang spesifik.

Ketiga, menyusun jadwal kegiatan secara konsisten dan ketat. dalam hal ini harus disadari bahwa waktu adalah harta dan sarana yang tidak bisa dibeli tetapi sangat menentukan keberhasilan seseorang.

Keempat, membuang segala kesibukan yang tidak mendukung pengembangan bidang yang digeluti. Harus belajar berkata TIDAK untuk segala kegiatan yang tidak mendukung pengembangan bidang yang digeluti.

Kelima, meninggalkan komunitas yang tidak mendukung bidang yang digeluti. Harus diingat bahwa dengan siapa seseorang berkomunitas, maka hal itu sangat memberi warna kehidupan.

Keenam, memiliki target-target dan rencana kerja yang baik. Tanpa target dan rencana kerja yang baik, banyak kegiatan sia-sia yang tersisipkan dan hal itu akan menumpulkan efektifitas waktu yang tersaji.

Ketujuh, melakukan evaluasi secara berkala atas hasil atau prestasi yang telah dicapai. Dengan adanya rencana kerja dan target-target yang harus dicapai maka evaluasi menjadi lebih mendesak dilakukan.

Solagracia

%d blogger menyukai ini: