Monthly Archives: Agustus 2015

Surat Gembala: MENGIKUT TUHAN YESUS

KESALAHAN FATAL dalam kekristenan adalah ketika menawarkan jalan mudah. Mengapa demikian? Harus kita pahami bahwa kristen artinya pengikut Kristus, sebagaimana julukan itu diberikan bagi para pengikut ajaran Kristus di Antiokia. Mereka semua tersebar setelah penganiayaan Stefanus, akan tetapi walaupun di tengah-tengah aniaya mereka tetap memberitakan Injil Tuhan Yesus (Kis. 11:20-26). Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kehilangan harta, keluarga bahkan nyawa. Tepatlah apa yang dikatakan Tuhan Yesus bahwa, “Barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya (Mat.16:25). Jelas sekali bahwa kekristenan senyawa dengan “penderitaan” (Flp. 1:29, 2 Tim.1:8). Tidak banyak orang mau mengambil resiko ini dan orang lebih tertarik kepada ajaran yang memberikan tawaran berkat dan kenikmatan hidup sesaat (80th). Tidaklah heran jika orang kristen seperti ini akan mudah pindah agama.
Pengiringan kita kepada Tuhan Yesus adalah dalam rangka menderita mengikuti jejak dan keteladanan-Nya (1Pet.2:21). Hidup Kristus sepenuhnya bagi Bapa-Nya bukan untuk diri-Nya sendiri (Yoh. 4:34). Sejatinya, orang yang mau mengikut Tuhan Yesus harus berani napak tilas jejak Kristus, artinya harus berani menjalani segala sesuatu yang Kristus kerjakan. Ketaatan-Nya membawa-Nya kepada tiang salib sampai ajal menjemputnya. Ironis jika hari ini ketaatan kepada Tuhan diimingiming dengan upah berkat jasmani. Ketaatan Tuhan Yesus telah membawa penderitaan sepanjang hidup-Nya ketika di bumi ini, tetapi kemuliaan Ia peroleh dari Bapa setelah kematian-Nya di kayu salib sebagai perwujudan dari visi-Nya yaitu menyelesaikan pekerjaan Bapa-Nya untuk mengangkut dosa dunia (Yoh. 1:29).
Umat percaya banyak ditipu oleh pemahaman bahwa menjadi kristen sudah otomatis menjadi pengikut Krsitus, akibat dari pemahaman ini adalah, umat terjebak ke dalam kegiatankegiatan agamawi saja. Mengikut Tuhan telah digantikan dengan rajin mengikuti kegiatan gerejawi, aktif dalam kegiatan persekutuan-persekutaun doa dan sebagainya sehingga lupa tugas pokok panggilan sebagai pengikut Kristus yaitu sempurna seperti Bapa (Mat.5:48). Mengapa harus sempurna? Karena Bapa yang disurga adalah sempurna. Apa yang dimaksud sempurna? Dalam teks Yunani kata sempurna menggunakan kata τέλειος, teleios yang berarti lengkap, dewasa secara mental, moral dan karakter. Tidak ada orang tua di muka bumi ini yang menyerahkan perusahaanya kepada anak yang tidak siap memimpin, oleh karena itu segala upaya dilakukan untuk mendewasakannya. Mulai dari makan, kesehatan dan pendidikannya pasti dipersiapkan dengan baik. Apalagi Bapa yang di surga, kerajaan-Nya bukanlah negeri korup yang bisa disuap, segala sesuatunya sempurna, tentunya Ia menghendaki anak-anak-Nya pun sempurna dan Tuhan Yesus-lah rujukannya.
Banyak orang berpikir bahwa ikut Kristus maka segala sesuatunya akan dibereskan, ini salah! Mungkin ada yang bertanya, bagaimana dengan pernyataan …Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskianan-Nya (2Kor. 8:9). Kemiskinan di situ berbicara bagaimana Kristus telah meninggalkan kemuliaan surga agar kita dimungkinkan kembali memperoleh kemuliaan kita yang telah hilang bersama dosa Adam (Flp. 2:6-8, Rm. 3:23).
Pengiringan kita kepada Kristus jika tidak kita sertai dengan kemauan untuk melakukan apa yang Ia lakukan adalah sebuah jalan gelap menuju kepada kebinasaan kekal. Amin

Iklan
%d blogger menyukai ini: