Surat Gembala: MENGINGINI TUHAN SAJA

Mengingini Tuhan saja dapat diartikan sebagai pengembangan hasrat untuk mematikan segala sesuatu sekaligus menghidupkan hasrat untuk menyukakan perasaan Tuhan saja sesuai dengan Alkitab. Perwujudan dari pernyataan di atas adalah melakukan segala sesuatu dengan perasaan Tuhan sebagai pertimbangan satu-satunya. Paulus berkata dalam Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Seorang calon mempelai, tentunya akan menumpahkan segala rasa cintanya hanya untuk calon pasangannya, jika masih ada rasa cinta kepada yang lain maka rasa itu harus dimatikan. Ketika cinta itu timbul akan memiliki energi yang luar biasa untuk berbuat apapun demi yang dicintai.
Untuk melihat kedalaman cinta kita kepada Tuhan dapat diukur dari adakah kita memiliki hasrat atau keinginan untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki, jika belum, berarti kita belum mencintai Tuhan secara benar. Orang sering berkata, ”Aku rindu pada-Mu ya Tuhan”. Ucapan ini sering diungkapkan dalam rangka menghadapi kesulitan hidup dan untuk mendapatkan pertolongan-Nya saja. Betapa marah dan kecewanya seseorang, jika kehadiran pribadinya sebenarnya tidak diharapkan, tetapi hanya tenaganya saja yang diharapkan. Pribadi Tuhan sangatlah agung, jika keinginan kita kepada-Nya hanya tertuju kepada kasih dan kuasa-Nya, betapa sikap ini merupakan bentuk pengabaian terhadap perasaan Tuhan. Semangat dari mengingini Tuhan yang benar adalah rindu memuaskan perasaan-Nya saja. Seorang pasangan mempelai yang sedang jatuh cinta, pastilah rindu memuaskan perasaan pasangannya. Perasaan manusia tidak stabil, oleh karena itu agar keinginan kita kepada Tuhan tetap konsisten maka diperlukan kerelaan hati untuk diproses secara terus menerus sampai hal itu merupakan passion satu-satunya.
Adalah sebuah kengerian yang tak terkatakan ketika maut menjemput, sementara keinginan akan Tuhan sama sekali tidak ada. Betapa gelapnya lorong kematian itu jika tanpa Tuhan. Walaupun seluruh isi dunia sanggup kita miliki, tetapi semuanya itu tidak pernah dapat kita gunakan sebagai buah tangan untuk Tuhan di kekekalan kelak. Alam semesta Tuhan yang punya karena Ia yang menciptakan termasuk kita di dalamnya. Alangkah bijak jika kita terus arahkan keinginan batin kita kepada Tuhan yang empunya segala sesuatu dan yang berkuasa atas kekekalan. Hidup kita pasti berakhir dan akan bertemu dengan takhta pengadilan Allah, siapakah pembela kita kelak kalau bukan Tuhan? Amin – Solagracia

Adalah sebuah kengerian yang tak terkatakan ketika maut menjemput, sementara keinginan akan Tuhan sama sekalai tidak ada.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 1 Juni 2015, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: