Monthly Archives: Juni 2015

SIKAP TERHADAP DUNIA YANG SUKAR

Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat (Mat. 24:7). Ada pertanyaan yang harus kita jawab yaitu, mengapa kehadiran Tuhan Yesus di dunia ini tidak membenahi dunia supaya lebih baik? Mengapa justru menubuatkan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan manusia pada umumnya? Padahal manusia menghendaki agar hidupnya bahagia dan memiliki damai sejahtera.
Harus kita pahami bahwa Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa. Rasul Yohanes juga menegaskan bahwa janganlah kita mengasihi dunia dan isinya, karena jika demikian seseorang tidak akan mengasihi Bapa (1Yoh. 2:15). Percintaan dengan dunia berujung pada kebinasaan. Mencintai Tuhan tidak bisa secara instan, tetapi harus dilatih melalui segala peristiwa hidup. Oleh karena itu, Tuhan tidak tertarik membenahi dunia yang sudah rusak, tetapi Dia lebih tertarik membenahi karakter manusia yang sudah rusak. Mengapa demikian? Karena Ia sudah menyiapkan langit baru dan bumi yang baru, di mana orang percaya dipersiapkan untuk mengelolanya sebagaimana Allah memberi mandat kepada Adam ketika ia belum jatuh dalam dosa.
Memahami hal tersebut, bagaimana sikap kita seharusnya dalam menghadapi dunia yang sukar seperti sekarang ini? Ada dua hal penting yang harus kita pahami. Pertama, setiap orang harus berdamai dengan Tuhan, jika seseorang sudah berdamai dengan Tuhan, sebesar apa pun kesukaran hidup yang dialami maka tidak akan menggoyahkan cintanya kepada Tuhan. Oleh karena itu berdamai dengan Tuhan menjadi sangat penting. Orang percaya harus memiliki prinsip: Tuhan, Engkaulah perhentianku, Engkaulah pelabuhan terakhirku. Untuk memiliki prinsip seperti ini, orang percaya harus berlatih terus-menerus sampai benar-benar pada titik tidak bisa berpaling.
Kedua, Tuhan adalah pribadi yang bertanggung jawab, dengan demikian hal itu yang Dia ajarkan kepada orang percaya. Setiap permasalahan hidup yang terjadi dalam diri seseorang maka harus dihadapi dengan tanggung jawab, bukan hanya dengan doa. Banyak orang salah memahami doa, doa dianggap sebagai cara mudah untuk memperoleh jaminan penyelesaian masalah hidup. Sejatinya doa adalah dialog dengan Tuhan agar seseorang mampu memahami pikiran dan perasaan-Nya. Tuhan tidak berjanji menghindarkan manusia dari kesukaran, tetapi Ia berjanji memberi kekuatan untuk menghadapi segala kesukaran. Oleh karena itu temukan Tuhan dalam kesukaran hidup kita karena Dia-lah pribadi yang akan kita temui di kekekalan kelak. Amin. – Solagracia –

Mencintai Tuhan tidak bisa secara instan, tetapi harus dilatih melalui segala peristiwa hidup.

Iklan

Surat Gembala: TUHAN KEBAHAGIAAN

Setiap manusia yang hidup pasti mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya. Manusia menempuh segala cara untuk mendapatkannya, seluruh pikiran, tenaga dan waktunya dihabiskannya demi hal itu. Kebahagiaan adalah sebuah keadaan tenteram lahir batin atau keberuntungan lahir batin (KBBI, 2015). Jika kita mau jujur, kebahagiaan secara materi banyak orang bisa mendapatkan dengan cara apapun, tetapi bicara hal batin, hampir-hampir tidak banyak orang yang bisa mendapatkannya. Mengapa demikian? Seorang ahli fisika dari Perancis yang bernama Blaise Pascal (1662) berkata, “Ada ruang kosong dalam diri manusia yang tidak dapat diisi dengan hal-hal materi, tetapi hanya dapat diisi oleh hal yang ilahi”. Paulus memberikan penjelasan yang sangat jelas bahwa akibat jatuh dalam dosa, semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah atau karakter ilahi (Rm. 3:23). Keadaan inilah yang membuat manusia memiliki ruang kosong itu.
Allah adalah sumber kebahagiaan artinya, Dia tidak akan pernah kehabisan kebahagiaan itu. Seharusnya manusia mencari kebahagiaan hanya kepada-Nya, tetapi karena dosa, manusia mencarinya bukan kepada Allah tetapi kepada dunia. Kebahagiaan diukur dari apa yang dimiliki yaitu kekayaan, kehormatan dan kebanggaan hidup. Manusia terus menggulirkan hidupnya kepada kenyataan ini, tetapi mereka lupa bahwa semuanya itu akan terhenti kapan pun dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Jika keadaan itu terus dilakukan maka seseorang tidak akan pernah memiliki hubungan yang bernilai tinggi dengan Allah. Hubungan dengan Allah akan dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun kebahagiaan di bumi ini.
Yang dimaksud dengan Tuhan kebahagiaanku adalah, keberanian seseorang untuk hidup tanpa apa pun dan tanpa siapa pun, tetapi tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Sebesar apa pun kenikmatan hidup, pasti akan berakhir pada hitungan-hitungan waktu, demikian halnya dengan kesulitan hidup, tetapi yang terpenting adalah mampukah kita mempertahankan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup kita? Harus kita tahu bahwa suka dan duka pasti terjadi dalam setiap kehidupan anak manusia, itu pun tidak ada yang permanen. Oleh karena itu betapa bersyukurnya kita jika mampu memilih Tuhan sebagai satu-satunya kebahagian hidup. Tuhan adalah sahabat abadi, betapa bijaknya jika selama kita hidup menumpang di bumi ini terus membangun hubungan yang ideal dengan Tuhan, karena Dia-lah Sang pemilik kekekalan. Kekecewaan kita terhadap dunia seharusnya menjadi penyemangat untuk membuktikan bahwa Tuhanlah satu-satunya kebahagiaanku. Amin. – Solagracia

Yang dimaksud dengan Tuhan kebahagiaanku adalah, keberanian seseorang untuk hidup tanpa apa pun dan tanpa siapa pun, tetapi tidak bisa hidup tanpa Tuhan

Surat Gembala: MENGANDALKAN TUHAN

Kata mengandalkan berasal dari kata dasar andal yang berarti dapat dipercayai, sedangkan mengandalkan, memiliki arti menaruh kepercayaan kepada yang dipercayai atau yang diandalkan (KBBI, 2015). Apa yang dimaksud dengan mengadalkan Tuhan?
Banyak orang memiliki pemahaman yang salah dalam hal ini. Mengandalkan Tuhan dipahami sebagai keadaan pasrah tanpa berbuat apa pun maka Tuhan akan memberikan pertolongan. Harus kita tahu, Tuhan kita mengajarkan tanggungjawab, bukan hidup sembrono dan tak produktif.
Dari pihak kita harus ada upaya maksimal, dan dalam kesemuanya itu harus kita kunci dengan pengertian, bahwa apa pun hasilnya pasti baik adanya karena Tuhan-pun turut bekerja (Roma 8: 28). Ada beberapa pengertian tentang mengandalkan Tuhan, yang pertama adalah menerima apa pun keadaan yang terjadi, setelah kita berusaha maksimal tentunya. Kebaikan yang kita harapkan tidak boleh kita paksakan sebagai sesuatu yang harus terjadi dan sesuai dengan kehendak kita. Tuhan memiliki integritas dan otoritas mutlak dalam segala hal. Tuhan lebih peduli dengan karakter seseorang dibanding dengan kekayaannya (Mat. 19:21). Harta dan kekayaan hanya mampu menemani kita selama 70 tahun hidup di bumi.
Yang kedua, mengandalkan Tuhan berarti, menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup walaupun tidak sesuai dengan harapan kita. Setiap permasalahan yang Tuhan izinkan terjadi kepada setiap orang percaya merupakan kurikulum Tuhan dengan maksud untuk mengubah karakter duniawi menjadi karakter illahi sampai pada titik tertentu orang percaya tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini.
Kita tidak boleh menggunakan pengalaman bangsa Israel sebagai patokan dalam hal mengandalkan Tuhan. Dalam hal ini, bangsa Israel hanya mengaitkan dirinya dengan kepenuhan kebutuhan jasmani, walaupun pada kenyataannya Tuhan tidak bermaksud demikian (Pkh 5: 18-19). Bagi orang percaya zaman Perjanjian Baru, mengandalkan Tuhan bukan berarti tanpa berusaha keras maka berkat dan perlindungan Tuhan diberikan, tetapi manusia dikembalikan pada porsinya dimana segala sesuatu harus dijalani secara bertanggungjawab dengan benar sesuai pikiran dan perasaan Kristus.
Untuk kebutuhan makan, minum dan pakai, Tuhan sudah sediakan asal kita mau bekerja keras. Satu-satunya pergumulan kita yang terberat adalah mengubah karakter kita, dalam hal inilah kita harus mengandalkan Tuhan, karena Iblis terus berjuang memanfaatkan natur dosa dalam diri kita agar kita gagal menjadi Corpus Delictinya Tuhan. Waspadalah! – Solagracia

Mengandalkan Tuhan berarti manjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup walaupun tidak sesuai harapan kita.

Surat Gembala: MENYERAHKAN MAHKOTA BAGI TUHAN

Berdaulat memiliki arti berbahagia atau bertuah (KBBI, 2015). Agenda besar manusia adalah berdaulat atas diri sendiri atau membangun kebahagiaan hidup. Segala cara dilakukan termasuk melawan Tuhan. Sedangkan agenda Allah adalah menegakkan kedaulatan kerajaan-Nya di bumi. Mengapa harus di bumi? Kerajaan-Nya yang di Surga telah terbukti tak tergoyahkan ketika Lucifer mencoba mengkudeta. Pasca pemberontakannya, Lucifer dibuang ke bumi (Why. 12: 9, Yes. 14 : 12). Dalam perjalanannya, Lucifer yang jatuh tidak pernah berhenti untuk merongrong kedaulatan Allah di bumi, terbukti mulai dari Adam sampai kepada Tuhan Yesus dia terus menggeliat untuk mencari saat yang baik guna merongrong kedaulatan Tuhan. Kebangkitan Kristus adalah bukti dari kekalahan Iblis dan tegaknya Kerajaan Allah di bumi secara de jure, tetapi secara de facto, Iblis terus mengaum seperti singa mencari orang yang dapat ditelannya. Oleh karena itu jangan memberi kesempatan kepada Iblis (Ef. 4 : 27).
Pada dasarnya, manusia ingin memiliki kerajaannya sendiri atau berotonom, hati-hati karena hal ini dapat dijadikan celah Iblis untuk masuk dan memanfaatkan manusia memberontak kepada Allah. Manusia diberikan hak otonom oleh Allah, tetapi bukan berarti tidak berbatas. Ketika manusia mencoba keluar dari batas-batas otonominya maka ia sudah memberontak kepada Allah. Hari ini, manusia digerakkan oleh kekuatan pikirannya, dengan semangat “kamu bisa”, atau istilah yang kita kenal “positive thinking” (berpikir positif), inilah mahkota manusia hari ini. Alkitab dengan tegas mengajarkan kita untuk berpikir benar dan bertindak benar bukan sekadar berpikir positif. Ada perbedaan yang sangat jelas antara berpikir positif dan berpikir benar. Semangat berpikir positif adalah penggalian potensi diri untuk hidup tanpa Tuhan. Sementara semangat berpikir benar adalah, manusia tidak bisa hidup tanpa Tuhan, karena Tuhan adalah sumber hidup dan penguasa hidup manusia.
Hidup dalam kedaulatan Tuhan adalah sebuah tindakan untuk melepaskan si “aku-nya” kita yang selama ini menjadi mahkota diri. Tuhan telah melepaskan mahkota-Nya demi kita, siapakah kita sehingga berkeras mempertahankan mahkota kemuliaan kita? Bukankah itu semua anugerah Tuhan? Bukankah Kristus telah membayar kita lunas dengan darah-Nya? Harus kita waspadai, jangan sampai keinginan untuk berotonom dalam diri kita akhirnya tanpa disadari itu merupakan bentuk pemanfaatan Iblis sebagai agenda untuk memberontak kepada Allah. Waspadalah! Amin – Solagracia

Ketika manusia mencoba keluar dari batas-batas otonominya maka ia sudah memberontak kepada Allah.

Surat Gembala: MENGINGINI TUHAN SAJA

Mengingini Tuhan saja dapat diartikan sebagai pengembangan hasrat untuk mematikan segala sesuatu sekaligus menghidupkan hasrat untuk menyukakan perasaan Tuhan saja sesuai dengan Alkitab. Perwujudan dari pernyataan di atas adalah melakukan segala sesuatu dengan perasaan Tuhan sebagai pertimbangan satu-satunya. Paulus berkata dalam Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Seorang calon mempelai, tentunya akan menumpahkan segala rasa cintanya hanya untuk calon pasangannya, jika masih ada rasa cinta kepada yang lain maka rasa itu harus dimatikan. Ketika cinta itu timbul akan memiliki energi yang luar biasa untuk berbuat apapun demi yang dicintai.
Untuk melihat kedalaman cinta kita kepada Tuhan dapat diukur dari adakah kita memiliki hasrat atau keinginan untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki, jika belum, berarti kita belum mencintai Tuhan secara benar. Orang sering berkata, ”Aku rindu pada-Mu ya Tuhan”. Ucapan ini sering diungkapkan dalam rangka menghadapi kesulitan hidup dan untuk mendapatkan pertolongan-Nya saja. Betapa marah dan kecewanya seseorang, jika kehadiran pribadinya sebenarnya tidak diharapkan, tetapi hanya tenaganya saja yang diharapkan. Pribadi Tuhan sangatlah agung, jika keinginan kita kepada-Nya hanya tertuju kepada kasih dan kuasa-Nya, betapa sikap ini merupakan bentuk pengabaian terhadap perasaan Tuhan. Semangat dari mengingini Tuhan yang benar adalah rindu memuaskan perasaan-Nya saja. Seorang pasangan mempelai yang sedang jatuh cinta, pastilah rindu memuaskan perasaan pasangannya. Perasaan manusia tidak stabil, oleh karena itu agar keinginan kita kepada Tuhan tetap konsisten maka diperlukan kerelaan hati untuk diproses secara terus menerus sampai hal itu merupakan passion satu-satunya.
Adalah sebuah kengerian yang tak terkatakan ketika maut menjemput, sementara keinginan akan Tuhan sama sekali tidak ada. Betapa gelapnya lorong kematian itu jika tanpa Tuhan. Walaupun seluruh isi dunia sanggup kita miliki, tetapi semuanya itu tidak pernah dapat kita gunakan sebagai buah tangan untuk Tuhan di kekekalan kelak. Alam semesta Tuhan yang punya karena Ia yang menciptakan termasuk kita di dalamnya. Alangkah bijak jika kita terus arahkan keinginan batin kita kepada Tuhan yang empunya segala sesuatu dan yang berkuasa atas kekekalan. Hidup kita pasti berakhir dan akan bertemu dengan takhta pengadilan Allah, siapakah pembela kita kelak kalau bukan Tuhan? Amin – Solagracia

Adalah sebuah kengerian yang tak terkatakan ketika maut menjemput, sementara keinginan akan Tuhan sama sekalai tidak ada.

%d blogger menyukai ini: