Surat Gembala: TIDAK MENCINTAI DUNIA

Cinta memiliki kekuatan yang sama dengan membenci. Karena cinta, orang rela melakukan apapun, demikian halnya dengan benci. Manusia memiliki kemampuan untuk mencintai dan membenci. Pada saat seseorang sedang mencintai sebenarnya ia sedang “membenci”.
Tuhan Yesus berkata bahwa tidak seorangpun yang sanggup mengabdi kepada dua tuan, karena pasti akan membenci salah satu dan mengasihi yang lain. Dosa telah mengubah orientasi manusia yang seharusnya kepada Allah namun bergeser kapada diri sendiri, apa yang menguntungkan dirinya maka dialah yang menjadi tuannya.
Kecintaan kita kepada Tuhan tidak mungkin beriringan dengan kecintaan terhadap dunia. Ketika kita berkomitmen untuk mencintai Tuhan, sejurus dengan itu maka harus kita ikuti dengan semangat untuk membunuh rasa cinta kita kepada dunia. Jika hal itu tidak kita lakukan maka dapat dipastikan justru akan membunuh rasa cinta kita kepada Tuhan. Harus kita pahami bahwa manusia daging yang telah dikuasai oleh dosa hanya bisa dipuaskan dengan melakukan dosa, sementara mencintai Tuhan berarti harus hidup kudus dan menjauhi dosa. Untuk menjadikan diri kita musuh Allah, tidak perlu menjadi perampok, pembunuh dan sebagainya, tetapi cukup bercinta dengan dunia, secara otomatis sudah menjadikan diri kita musuh Allah (Yak. 4:4).
Seseorang yang mengarahkan cintanya kepada dunia maka ia akan menganggap Allah sebagai “penghalang” saja. Di dalam cinta ada hasrat untuk memiliki, dan keadaan seperti ini pada titik tertentu bisa mematikan logika, sehingga rasa takutpun hilang. Jangan coba-coba menghalanginya, karena cinta akan menampakan taringnya. Bukankah Adam jatuh karena berhasrat untuk memiliki apa yang tidak dikehendaki Allah, sehingga keinginan itu telah membunuhnya? Hasrat memiliki peran penting dalam menentukan pilihan, oleh karena itu tidak ada pilihan lain selain terus mengarahkan hasrat kita kepada Tuhan dengan tekad yang bulat. Kenikmatan dunia hanya mampu “menemani” kita selama 80 tahun, itupun belum tentu didapatkan, tetapi keberanian untuk mematikan kecintaan kita terhadap dunia selama 80 tahun ini akan membawa kita sampai pada kekekalan Tuhan. Allah kita adalah Allah yang cemburu, oleh karena itu jangan membagi cinta kita kepada yang lain (Ul.5:9, Nah.1:2). Bukti kecintaan kita kepada Tuhan hendaknya kita wujudkan dengan membenci “dunia”. Memang hal itu tidaklah mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa kita lakukan, karena ada Roh Kudus yang akan mendampingi kita, asal kita mau. Amin – Solagracia –

Seseorang yang mengarahkan cintanya kepada dunia maka ia akan menganggap Allah sebagai “penghalang” saja.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 18 Mei 2015, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: