KEPERCAYAAN KEPADA PRIBADI ALLAH

Saudaraku, nampak jelas di depan mata kita bahwa kejahatan semakin meningkat. Pelaku kejahatan semakin inovatif dalam menjalankan aksinya dan sudah tidak punya rasa takut dalam melakukannya. Sekarang ini adalah masa yang semakin sukar. Ada pepatah jawa yang berbunyi; jamane jaman edan yen ora edan ora keduman, ning isih bejo bejaning wong kang tansah eling lan waspodo, artinya; jaman sekarang sudah rusak dan kalau tidak ikut rusak maka tidak mendapa bagian, tetapi beruntunglah orang yang selalu sadar dan waspada. Dalam hal ini, Alkitab lebih tegas memberikan peringatan kepada kita akan keadaan dunia ini dengan berkata, “Dan dunia sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya (1Yoh. 2:17). Tetapi sungguh ironis jika ternyata orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus justru memercayakan hidupnya kepada dunia dan bersandar kepadanya. Sikap seperti ini merupakan tindakan yang menyakitkan hati Allah, karena sama halnya dengan tidak memercayai akan Pribadi-Nya.
Memercayai Allah sejajar dengan menghormati Allah secara pantas. Memang tidak dipungkiri bahwa Allah tidak bisa dilihat secara kasat mata karena Ia Roh adanya, sementara masalah hidup nampak jelas di depan mata. Di sinilah tantangan sekaligus seninya untuk memercayai Allah. Demi memiliki hubungan yang intim dengan roh jahat, seseorang rela melakukan apa saja dan akhirnya ia percaya bahwa roh itu ada, mengapa orang percaya tidak melakukan hal yang sama kepada Tuhan. Daud berkata, “sekalipun dalam lembah kekelaman aku tidak takut bahaya…” mengapa demikian? Daud sudah terbiasa berlatih untuk memercayai Allah ketika ia harus berhadapan dengan singa, beruang bahkan Goliat sekalipun. Ketika Daud menghadapi Goliat tidak begitu saja ia dapat berkata, …tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu (1Sam. 17:45). Daud telah melewati waktu yang panjang dilatih Tuhan sampai ia benar-benar percaya. Kemampuan dan keberaniannya untuk berperang, merupakan hasil dari pelatihannya yang didapat dari Tuhan, sehingga ia yakin betul siapa yang melatihnya untuk berperang. Daud telah membuktikan percayanya kepada Allah dengan berani menaruhkan nyawanya di hadapan Goliat.
Masalah hidup yang terjadi adalah sarana bagi kita untuk menunjukan kepercayaan kita kepada Pribadi Allah. Keberanian kita untuk menaruhkan nyawa kita kepada-Nya, adalah wujud dari percaya kita kepada Pribadi Allah. Sudahkah kita melakukannya? Amin – Solagracia –

Memercayai Allah sejajar dengan menghormati Allah secara pantas

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 11 Mei 2015, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: