KEPERCAYAAN KEPADA PRIBADI ALLAH TANPA SYARAT

Bagi orang percaya, memercayai Tuhan bukanlah syarat, tetapi merupakan kodrat. Bukankah kita tidak pernah mengajukan syarat apapun kepada orang tua kita sebagai jaminan pemeliharaan kita? Secara naluri, sikap orang tua seperti itu pasti ada dan tidak perlu diragukan lagi. Jika orang tua di dunia saja tahu bertanggungjawab, apalagi Bapa kita yang di Sorga. Dari sisi Bapa sudah final, tetapi sekarang masalahnya ada pada kita.
Allah memiliki 1001 cara untuk mendidik kita. Iblis mencoba membujuk Tuhan Yesus untuk meragukan kasih dan pemeliharaan Allah, tetapi Ia tetap memilih memercayai Bapa-Nya dan itu Ia buktikan sampai di Kayu Salib. Walaupun secara fisik tidak mendapatkan pertolongan tetapi Ia tetap percaya dan menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya yang “tidak” menolong dan bahkan meninggalkan-Nya (Mrk. 15:34-37).
Bagi anak-anak Allah yang benar (huios), meneladani ketaatan Tuhan Yesus adalah mutlak adanya. Dalam keadaan tertentu, Allah akan membawa kita kepada situasi dimana seakan-akan Ia tidak peduli terhadap kita. Ada dua hal yang hendak Bapa ajarkan kepada kita, yang pertama, Ia ingin agar kita tetap percaya kepada-Nya, walaupun seakan Ia tak peduli. Yang kedua, adalah kesempatan bagi kita untuk dipercayai oleh Tuhan. Mengapa Allah melakukan hal tersebut? Sebagaimana Ia telah tetapkan standar kepada Anak Tunggal-Nya maka standar itu juga harus berlaku buat kita anak-anak-Nya di dalam Kristus. Memercayai Tuhan adalah awal dari sebuah ketaatan kita kepada-Nya. Percaya tak bersyarat adalah sebuah sikap yang tidak dapat dipengaruhi oleh apapun.
Sadrakh, Mesakh, Abednego telah membuktikan iman percayanya ketika mereka berhadapan dengan tungku api yang siap melumatnya. Pernyataan imannya telah dibuktikan dengan tetap memasuki tungku api yang dipanaskan tujuh kali lipat (Dan. 3:17-18). Allah bertanggung jawab untuk membela orang-orang yang rela “membela”-Nya dengan gagah berani dan tulus. Pembelaan Tuhan pasti diberikan bagi anak-anak-Nya, tetapi bukan berarti kita bisa mereka-reka akan hal itu, karena pembelaan adalah otoritas dan hak prerogratif Allah semesta alam. Ada tiga hal yang harus kita tanamkan dalam hati; Yang pertama, apapun yang Tuhan lakukan buat kita harus kita terima dan yakini sebagai yang terbaik. Ke dua, apapun yang terjadi kita tetap percaya kepada pribadi-Nya. Yang ketiga, apapun yang terjadi tidak akan menaruh rasa curiga kepada Tuhan. Sekarang Apa yang akan kita lakukan kepada Tuhan, sebagai bukti bahwa iman kita tidak bersyarat? Amin – Solagracia

Janji kelimpahan yang Tuhan berikan bagi umat percaya sangat berkualitas tinggi terkait dengan karakter, bukan hanya hal-hal materi saja

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 4 Mei 2015, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: