Surat Gembala: HIDUP TAK BERCACAT DAN TAK BERCELA

Membaca judul di atas, sulit rasanya untuk mencapainya, sehingga membuat seseorang bersikap apatis. Paling tidak ada empat penyebab mengapa orang bersikap demikian. Pertama, pengaruh agama dan keyakinan di sekitarnya. Agama mengesankan bahwa hanya Allah yang sempurna dan manusia tempat salah adanya. Bisanya hal ini dikaitkan dengan pemahaman bahwa Allah Maha Pengampun, sehingga jika kita berbuat salah Allah pasti mengampuni. Memang benar Allah Maha Pengampun, tetapi adakah niat kita untuk tidak melukai perasaan Tuhan? Bukankah kita tidak tahu kapan meninggal?

Kedua, melihat tokoh Alkitab secara salah. Abraham, Yakub, Daud, Salomo, Elia, Yunus, bahkan sampai pada Petrus tokoh Perjanjian Baru. Mengapa orang menyoroti kesalahan mereka saja tanpa melihat bagaimana mereka berjuang untuk hidup tak bercacat dan tak bercela sehingga itu yang dijadikan teladan. Mereka semua belum bisa sempurna seperti kita, karena memang Roh Kudus belum dicurahkan secara pribadi termasuk kepada Petrus. Tetapi setelah dipenuhi Roh Kudus, kita bisa melihat Petrus berjuang untuk sempurna bahkan nyawanya ditaruhkan untuk hal itu.

Ketiga, memandang bahwa cara hidup tak bercacat dan tak bercela adalah gaya hidup yang menjauhkan diri dari kenyamanan dan kewajaran seperti kebanyakan orang, bahkan dianggap sebagai sikap menyiksa diri. Menurut dunia, pandangan ini benar, tetapi bagi orang percaya hal itu bukanlah alasan. Hidup kita harus berbeda dengan dunia (Rm. 12:2).

Keempat, seringnya mengalami kegagalan di dalam proses belajar menjadi tak bercacat dan tak bercela. Karena terlalu sering mengalami kegagalan maka menyimpulkan bahwa hidup tak bercacat dan tak bercela adalah sebuah kemustahilan. Inilah yang disebut dengan “mental block”. Keselamatan adalah usaha Allah dan gayung bersambut dari manusia untuk kembali kepada rancangan semula. Allah tidak pernah mentakdirkan nasib manusia, apalagi soal keselamatan. Allah memberikan sarananya, manusia harus bertanggung jawab untuk menyambut uluran kasih karunia Tuhan-Nya.
Allah kita adalah Allah yang sangat mengerti kemampuan anak-anak-Nya, ketika Ia memerintahkan untuk kudus maka Ia memberikan teladan-Nya, yaitu Kristus sendiri (1Ptr. 1:13-16, 1Ptr.2:21-24). Orang harus memilih terang atau gelap. Adalah anugrah jika kita menjadi anak-anak Allah, tetapi anugerah tidak serta-merta menjadikan keberadaan kita menjadi anak Allah yang kudus. Kekudusan bukanlah syariat, tetapi kodrat anak-anak Allah. Inilah fokus pengiringan kita kepada Tuhan Yesus. Amin. – Solagracia

Allah kita adalah Allah yang sangat mengerti kemampuan anak-anak-Nya, ketika Ia memerintahkan untuk kudus maka Ia memberikan teladan-Nya, yaitu Kristus.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 20 April 2015, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: