Surat Gembala: Menghargai Korban TUHAN YESUS

Tahukah kita, bahwa satu-satunya hak kita adalah binasa kekal. Arah dari segala perbuatan manusia adalah jahat di mata Allah, dan menuju binasa kekal. Keadaan ini membuat Bapa “nyesek” dan pilu hatinya (Kej. 6:6). Tuhan Yesus adalah “Logos atau Firman” yang telah menciptakan langit dan bumi serta sang Penguasa yang telah memerintah sejak purbakala dengan segala kemuliaan-Nya (Yoh.1:1-4, Mika 5:1-2). Kepiluan hati Bapa telah menjadi “passion”-Nya dan telah mendorong diri-Nya untuk meninggalkan segala kemuliaan yang Ia miliki. Kebinasaan manusia adalah kepiluan hati Allah Bapa. Allah Anak telah memilih mengosongkan diri-Nya demi kepuasan hati Bapa. Proses pengosongan diri-Nya bukanlah sebuah adegan sandiwara yang telah diatur sedemikian rupa sehingga bisa ditebak ke mana arah akhir ceritanya. Dalam menjalankan missi-Nya, Tuhan Yesus sangat berkemungkinan untuk gagal. Ada dua akibat besar yang terjadi jika Tuhan Yesus gagal; Yang pertama, manusia akan meluncur bebas masuk ke dalam kebinasaan kekal tanpa halangan, kedua, Tuhan Yesus tidak akan pernah mendapatkan kembali kemuliaan yang telah Ia tinggalkan.
Dalam hal ini pemahaman kita tidak boleh salah, karena jika salah maka penempatan diri kita di hadapan Allah pun juga salah. Kebinasaan manusia jangan disejajarkan dengan masalah hidup yang bersifat sementara, jika hal ini kita lakukan sama artinya merendahkan pertarungan Tuhan Yesus untuk memperoleh kembali kemuliaan yang telah Ia tinggalkan. Tak terkatakan betapa hancurnya tatanan jagat raya ini jika Allah Anak tidak lagi memiliki kemuliaan. Tetapi terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menang atas semua ini. Bukankah manusia juga telah kehilangan kemuliaan Allah? Jika Tuhan Yesus saja mempertaruhkan nyawa untuk memperolehnya kembali kemuliaan-Nya, lalu siapakah kita ini sehingga berani berkata “aku anak Allah” sementara perilaku kita tidak seperti Kristus. Jika melihat perbuatan kita maka tidak pantaslah menyebut diri sebagai anak-anak Allah. Perbuatan kita mencerminkan penghargaan kita terhadap pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.
Lagi-lagi Gereja tidak boleh salah mengajar umat dengan menggantikan kesulitan hidup sebagai pokok pergumulan umat. Ajarkan bagaimana Kristus berjuang dalam ketaatan-Nya, bahkan sampai pada kematian-Nya di kayu Salib. Ketaatan bukan untuk meraih berkat materi, tetapi untuk kepuasan hati Bapa sehingga kita layak dimuliakan bersama dengan Kristus. Allah bertanggungjawab dengan ciptaan-Nya, Ia memberikan matahari kepada orang jahat dan orang baik (Mat.5:45). – Solagracia

Perbuatan kita mencerminkan penghargaan kita terhadap pengorbanan TUHAN YESUS KRISTUS

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 30 Maret 2015, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: