RESPON TERHADAP KEBAIKAN TUHAN

Pada zaman torat, orang yang mengalami sakit kusta sama halnya seseorang yang sudah mati, hanya belum masuk liang kubur. Seluruh hak hidupnya hilang bersama sakit yang dideritanya. Penyakit kusta bukan saja merupakan penderitaan fisik tetapi juga batin dan tidak menutup kemungkinan hidup rohaninya pun bisa mati. Sakit kusta merupakan penderitaan yang dahsyat pada waktu itu, di mana para penderitanya harus terbuang dari keluarga, lingkungan dan masyarakat bahkan agama sekali pun. Orang yang terkena kusta mustahil bisa beribadah ke dalam bait Allah, betapa dahsyatnya penderitaan ini. Dalam Luk.17:11-17 diceritakan ada sepuluh orang kusta telah mengalami mujizat kesembuhan dari Tuhan Yesus, tetapi hanya satu orang saja yang tahu berterima kasih dan memuliakan Dia. Sembilan orang tidak tahu berterima kasih apalagi membalas budi (Luk. 17:11-19). Sembilan orang ini mencari Tuhan Yesus murni karena ingin memenuhi kebutuhannya yaitu sembuh dari kustanya, tetapi yang seorang bukan hanya ingin sembuh dari sakit kustanya, melainkan ia juga ingin memuliakan Allah. Secara kebangsaan dia orang Samaria yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang Yahudi, ditambah kena kusta, jauh rasanya untuk bisa memuliakan Tuhan. Kalaupun sembuh rasanya berat untuk mendapatkan pengakuan tahir dari imam-imam yang adalah orang Yahudi sehingga ia bisa memuliakan Allah.
Dari kisah di atas kita bisa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Yang pertama, Tuhan adalah Kasih adanya, oleh karena itu Ia pasti berbelas kasihan terhadap orang yang kehilangan pengharapan (ay. 13-14, Yer 33:3). Yang kedua, dalam keadaan terpuruk janganlah kita bimbang, apalagi kehilangan pengharapan dan iman, karena Tuhan pasti memberikan pertolongan tepat pada waktu-Nya (ay. 19). Yang ketiga, kelegaan hidup yang kita alami janganlah membuat kita seperti ”kuda lepas dari kandang”, atau seperti “kacang lupa kulitnya” (ay. 15-18). Mengucap syukur kepada Tuhan bukanlah syarat, melainkan kodrat anak Tuhan.
Belajar dari sikap orang Samaria tadi kita harus tahu diri dan tahu budi di hadapan Tuhan. Ciri orang Kristen tahu budi adalah pertama, pastilah ia menghargai keselamatan yang sudah ia terima dan ia tidak akan pernah pindah agama hanya karena jodoh, karena Tuhan akan menyangkal orang yang seperti ini (Mat. 19:33). Yang kedua, ia akan berusaha mati-matian untuk tidak mencintai dunia (Ibr. 12:16). Dan yang terakhir, ia akan berusaha hidup sesuai dengan selera Tuhan yaitu menyelamatkan banyak jiwa (1Tes. 4:7, 1Ptr. 1: 13-16). – Solagracia

Kita harus tahu diri dan tahu budi di hadapan Tuhan, menghargai keselamatan, tidak mencintai dunia, dan berusaha hidup sesuai dengan selera Tuhan

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 16 Maret 2015, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: