Bukan Sekedar Menerima Tetapi Memberi

Menarik tetapi juga agak aneh kalau dalam merayakan Natal kita mengaitkannya dengan korban Kristus di kayu salib. Selain kita mengangkat ke permukaan hal kelahiran Tuhan Yesus, kita juga mengangkat ke permukaan peristiwa penyaliban Tuhan. Apa maksudnya? Melalui hal ini kita mengajak semua orang yang merayakan Natal bukan hanya sebagai obyek yang menerima berkat, tetapi sebagai subyek yang sepenanggungan dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian kita memiliki langkah maju dalam kedewasaan dan kematangan rohani. Sebab selama ini banyak orang dalam merayakan Natal hanya terpaku sebagai obyek yang menerima berkat Natal. Orang-orang Kristen tenggelam dalam suasana euphoria dalam menerima berkat Natal. Mereka melupakan visi utama kedatangan Tuhan Yesus yaitu menyelematkan dunia yang sedang menuju kegelapan abadi ini. Tidak heran jika dalam merayakan Natal mereka merayakan dengan “besar-besaran” dengan berbagai kegiatan, tetapi tidak mempedulikan perasaan Tuhan. Mereka hanya peduli terhadap perasaan mereka sendiri. Tetapi sekarang kita harus mau belajar berdiri sebagai subyek yang sepenanggungan dengan Tuhan. Kita bukan hanya bisa menerima tetapi juga membagi. Adalah sangat naïf kalau kita menyenandungkan lagu Natal, tetapi tidak menyenandungkan lagu pengorbanan seirama dengan Tuhan. Natal adalah bahasa pengorbanan Anak Allah. Di dalam Natal kita bukan saja diajar mengerti kasih-Nya yang menyelamatkan kita tetapi kita juga diajar hidup dalam sepenanggungan dengan Tuhan untuk menggenapi rancana Bapa di dunia yang singkat ini.

Menatap Tuhan Yesus di palungan kita sudah mulai mengerti bahwa Ia datang untuk memikul salib. Saliblah klimaks atau puncak pelayanan. Di sanalah terdapat maksud utama kedatangan Tuhan. Palungan hina merupakan bahasa pengorbanan yang mengawali debut pelayanan-Nya yang menakjubkan. Kandang domba adalah garis start perjuangan pengorbanan-Nya merebut manusia dari tangan setan. Keputusan penting yang harus kita lakukan adalah mengubah diri dari hanya seorang yang menjadi obyek kasih Tuhan, juga berlaku sebagai subyek yang sepenanggungan dengan Tuhan. Dari penerima berkat juga sebagai pembagi berkat. Hendaknya kita tidak putus asa walaupun kita sering gagal melakukan kehendak-Nya, Ia mau mengampuni dan memulihkan kita. Pada saat ini Tuhan hendak memulihkan dan memperbaharui hidup kita kalau kita sungguh-sungguh mau bertobat. Kesempatan ini bisa jadi tidak pernah terulang, oleh sebab itu jangan disia-siakan. –Solagracia

Keputusan penting yang harus kita lakukan adalah mengubah diri dari penerima berkat juga sebagai pembagi berkat.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 29 Desember 2014, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: