Monthly Archives: November 2014

Surat Gembala: MEWUJUDKAN RENCANA ALLAH

Mengapa banyak orang Kristen yang tidak berani mengenakan irama hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus? Banyak faktor sebagai alasannya. Ada beberapa alasan utama yang harus dimengerti. Pertama, mereka tidak memandang bahwa hidup ini akan berakhir. Mereka sudah terbiasa berpikir seakan-akan hidup ini terus bisa dijalani. Pada hal kalau sudah sampai titik akhirnya, maka tidak seorang pun yang dapat memperpanjang. Titik akhir tersebut seperti raksasa yang tidak takluk pada siapapun. Oleh sebab itu sikap bijaksana yang patut dimiliki adalah mempersiapkan diri menyongsongnya, sehingga menjadikan hari itu sebagai hari yang paling membahagiakan. Kalau seseorang sudah berusaha untuk hidup seperti Tuhan Yesus, kematian akan menjadi saat yang paling indah. Dengan cara inilah seseorang mengumpulkan harta di Surga. Suatu hari nanti orang akan menyaksikan berapa banyak yang telah dikerjakan
selama hidup ini untuk mengumpulkan harta di Surga. Setiap orang harus menghadap tahta pengadilan Tuhan (Ro 14:12; 2Kor 5:9-10). Hal ini sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus kemukakan mengenai talenta (Mat. 25:14-30). Setiap orang harus bertanggung jawab atas kepercayaannya menerima talenta. Talenta adalah kemampuan untuk bisa menjadi bermoral Allah. Kedua, banyak orang Kristen tidak memahami bahwa menjadi orang Kristen berarti harus hidup seperti Tuhan Yesus hidup. Jika tidak demikian, berarti menolak menjadi pengikut-Nya. Menolak mengikut Tuhan Yesus berarti kebinasaan atau tidak mendapat bagian dalam keluarga Kerajaan Allah. Betapa sangat disayangkan, kalau kesempatan yang sangat berharga ini disia-siakan hanya untuk segala sesuatu yang akhirnya akan dimakan ngengat dan karat, pencuri akan mencuri serta membongkarnya. Mengikut Tuhan Yesus adalah panggilan dan tanggung jawab yang tidak boleh dihindari. Keberhasilan hidup seirama dengan Tuhan Yesus menentukan juga penggenapan rencana Allah atas dunia ini. Betapa hebat kehormatan yang diberikan kepada orang percaya untuk bisa menjadi “saudara” bagi Tuhan Yesus, agar Dia menjadi yang sulung diantara banyak saudara. Dengan genapnya jumlah orang percaya seperti Tuhan Yesus maka rencana Allah membangun Kerajaan-Nya dapat segera terealisir. Banyak orang sibuk mewujudkan cita-citanya sendiri tetapi tidak memedulikan rencana Allah yang besar atas keselamatan umat manusia dan tegaknya Kerajaan-Nya. Orang-orang yang tidak peduli ini tidak layak menjadi anak-anak Allah. -Solagracia-

Mengikut jejak hidup Tuhan Yesus adalah panggilan dan tanggung jawab yang tidak boleh dihindari.

Iklan

Suara Kebenaran 85: Menghadirkan Kerajaan Allah (Presenting the Kingdom of God)

Sebagai warga kerajaan Allah kita dipanggil untuk menghadirkan kerajaan Allah sekarang. Pdt. Dr. Erastus Sabdono menjelaskan panggilan tersebut bagi setiap orang percaya.

Surat Gembala: BUKTI MENGHORMATI TUHAN

Akhirnya dapat kita temukan bahwa nilai tertinggi kehidupan ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, bahkan bukan diri kita sendiri, tetapi Tuhan yang menciptakan jagad raya dan manusia (Maz 73:25-26). Seberapa pun nilai atau value setiap ciptaan tidak akan dapat menandingi atau menyamai Penciptanya. Betapa hinanya orang yang menghargai suatu ciptaan lebih dari Penciptanya sendiri. Pada kenyataannya, hampir semua orang menghargai suatu ciptaan yaitu dunia ini dengan segala keindahannya lebih dari menghargai Tuhan Yesus Kristus. Perhiasan mereka bukanlah nilai-nilia rohani, yaitu Tuhan dan kebenaran-Nya tetapi segala keindahan dunia.

Hal ini dikatakan oleh pemazmur bahwa mereka berkalungkan kecongkakan (Maz 73:6). Biasanya mereka menjadi sewenang-wenang terhadap sesama yang digambarkan sebagai “berpakaian kekerasan”. Pemazmur memberi pelajaran yang berharga kepada kita dalam kesaksian hidupnya: Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Tuhan dipandang lebih berharga dari siapa pun dan apa pun dalam hidup ini. Selanjutnya Pemazmur juga menyatakan: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya”. Di sini Tuhan dipandang lebih berharga lebih dari dirinya sendiri. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa seseorang menghargai Tuhan lebih dari segala sesuatu, bahkan lebih dari dirinya sendiri? Orang yang menjadikan Tuhan sebagai nilai tertinggi kehidupan akan berusaha bagaimana menjadi manusia yang berkenan kepada-Nya atau bagaimana memiliki tselem yang baik. Ia akan berusaha hidup tidak bercela (Maz 73:13). Pada mulanya pemazmur sempat kecewa, mengapa dirinya yang berusaha hidup suci malah terkena pukulan. Ternyata, justru orang yang berusaha hidup suci akan memperoleh jalan yang tidak licin. Kata licin dalam teks aslinya adalah cheqah (הָקְלֶח) yang artinya jalan yang datar (flat) dan lancar atau halus (smooth). Mereka adalah orang-orang yang pantas dihambat atau dihalangi menuju kebinasaan. Oleh karena seseorang berusaha untuk berkenan kepada Tuhan sebagai bukti sikap hormatnya kepada Tuhan, maka Tuhan akan menasihati dan menuntunnya supaya memiliki “rupa yang tidak hina”. Orang yang rupa (tselemnya) mulia pantas juga diangkat Tuhan dalam kemuliaan (Maz. 73:25). Orang yang sungguh-sungguh menghormati Tuhan akan menjadi orang yang terhormat di kekekalan. –Solagracia

Orang yang menjadikan Tuhan sebagai nilai tertinggi kehidupan akan berusaha berkenan kepada-Nya.

Surat Gembala: DIHAJAR UNTUK MENEMUKAN TUHAN

Ketika menemukan realita dimana orang yang berusaha hidup benar malah menderita terkena pukulan Tuhan, membuat mereka menjadi bingung bahkan frustasi (Maz 73:13,16). Sudah berusaha hidup benar malah mendapat tulah dan hukum (Maz 73:14). Tulah di sini dalam teks aslinya adalah naga (עגנ), yang artinya serangan (strike). Serangan ini bisa berupa berbagai keadaan yang tidak menyenangkan sedangkan kata hukum adalah towkechah (הָחֵכוֹתּ) yang artinya adalah rebuke, correction, reproof (tegoran dan koreksi).

Firman Tuhan mengatakan bahwa yang dikasihi oleh Tuhan, ditegur-Nya (Why. 3:19) dan orang yang diterima sebagai anak dihajar-Nya (Ibr 12:6-11). Orang-orang yang diproses Tuhan menjadi umat pilihan-Nya, pada tingkat kedewasan tertentu, tidak lagi berharap hidup yang nyaman di bumi ini. Mereka harus bersedia untuk diproses menjadi manusia Allah agar dapat diangkat ke dalam kemuliaan (Maz 73:24). Kadang-kadang sampai situasi hidupnya tidak jelas sama sekali. Justru disini “mesin pembentukan Tuhan berjalan dengan normal”.

Situasi seperti ini digambarkan oleh pemazmur dalam Mazmur 73:21-24. Rupanya pemazmur ini agak keras kepala (Maz 73:3,13) sehingga pembentukannya pun juga luar biasa beratnya. Sebaiknya kita tidak keras kepala sehingga tidak perlu dipukul. Tuhan tidak akan menyakiti kalau seseorang tidak perlu disakiti, tetapi kalau keras kepala maka “terpaksa” harus disakiti sampai dilukai. Bila pembentukan ini lulus, salah satu cirinya adalah mencintai Tuhan lebih dari segala sesuatu. Inilah orang-orang yang menemukan cinta Tuhan. Memang Tuhan mencintai semua orang tetapi tidak semua menemukan cinta-Nya (Maz 73:26-27). Orang yang menemukan cinta Tuhan adalah orang yang cintanya ditemukan oleh Tuhan juga. Sebagai tanda atau buktinya adalah selalu mau melakukan kehendak Tuhan guna menyenangkan hati-Nya. Pikiran dan perasaan Tuhan itulah hukumnya atau yang hendak dituruti. Hidup mereka pasti menjadi kudus tidak bercacat dan tidak bercela. Mereka dapat dikatakan sudah menemukan Tuhan dan ditemukan oleh Tuhan. Menemukan Tuhan berarti menemukan hidup yang dikehendaki oleh Allah. Lebih baik seseorang tidak pernah menjadi manusia daripada menjadi manusia tetapi tidak pernah menemukan Tuhan.

Oleh sebab itu kita tidak boleh takut dalam menerima hajaran Tuhan sampai kita menemukan Tuhan. Masa transisi menuju tingkat rohani ini membuat seseorang di dekat Tuhan seperti hewan tidak memiliki keinginan apa-apa kecuali Tuhan (Maz 73:25-28). –Solagracia

Orang yang menemukan cinta Tuhan adalah orang yang cintanya ditemukan oleh Tuhan juga.

Suara Kebenaran 84: Membangun Menara (Building a Tower)

Mengikut Tuhan Yesus seperti seseorang yang membangun sebuah menara. Pdt. Dr. Erastus Sabdono mengajak kita merenungkan, sudahkah kita duduk dulu untuk menghitung anggaran pembangunan menara tersebut?

Surat Gembala: MENYADARI KESALAHAN TERSEMBUNYI

Kalau seseorang bertumbuh dalam kecerdasan roh melalui kebenaran Firman Tuhan, kita akan menyadari setiap kesalahan, bukan hanya yang kelihatan secara moral tetapi hal-hal yang bertalian dengan sikap hati. Kadang kita tidak perlu menjelaskan secara rinci dan lengkap bentuk kesalahan tersebut. Kita hanya berkata: ”Maafkan ketidak patutanku, aku melukai hati-Mu”. Contoh doa yang lain: “Maafkan aku belum menjadi seperti yang Engkau kehendaki”. Tuhan sudah mengerti maksud pengakuan dan penyesalan tersebut. Seakan-akan dan memang demikian bahwa kita sama-sama memahami kesalahan atau keadaan tersebut. Kita juga tidak perlu mendapat pukulan atau hajaran yang tidak produktif bagi pelayanan pekerjaan Tuhan, tetapi rasa bersalah dimana kita kehilangan damai sejahtera sudah sangat menyiksa.

Perasaan bersalah karena melukai hati Tuhan sudah menjadi luka kita sendiri. Itu merupakan hukuman yang sangat menyakitkan. Tentu saja ini hanya terjadi atas mereka yang mengalami proses pendewasaan rohani yang baik. Jika tidak, tentu saja lain ceritanya. Tidak sedikit mereka yang sudah lama menjadi orang Kristen masih melakukan kesalahan yang mestinya hanya dilakukan oleh orang-orang yang belum dewasa rohani atau orang-orang muda. Biasanya orang-orang seperti ini tidak mengalami proses pendewasaan rohani yang baik. Sehingga tidak memahami pikiran dan perasaan Tuhan. Kepada orang-orang seperti ini Tuhan akan berkata: “Aku tidak kenal kamu”.

Sampai pada tingkat tertentu kita akan berhubungan dengan Tuhan sebagai sesama pribadi yang dewasa. Sesama pribadi yang dewasa maksudnya bukan Tuhan yang bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa tetapi kita yang mulai memahami pikiran dan perasaan Tuhan (Fil 2:5-7; Ef 4:13). Hal seperti ini sebenarnya juga kita alami dalam hubungan dengan orang tua. Setelah kita dewasa kita bisa berinteraksi dengan orang tua sebagai orang dewasa. Dalam relasi tersebut kita sudah memahami kehendak orang tua kita dan kita bisa menyesuaikan diri dengan kehendaknya.

Demikian pula dalam hubungan dengan Tuhan. Melalui proses pembelajaran kebenaran Firman Tuhan dan pergaulan dengan Tuhan setiap hari kita bisa bertumbuh dewasa dan memahami kehendakTuhan sehingga bisa membangun jalinan interaksi dengan Tuhan di dalam batin atau suara hati atau nurani kita. Kesalahan-kesalahan tersembunyi yang bersifat batin dapat kita deteksi dengan cepat dan cermat, kemudian kita meminta ampun dengan tulus dan berubah. -Solagracia-

Perasaan bersalah karena melukai hati Tuhan sudah menjadi luka kita sendiri. Itu merupakan hukuman yang sangat menyakitkan.

%d blogger menyukai ini: