Surat Gembala: ISI KEBENARAN YANG BENAR

Seperti yang telah disinggung bahwa kebenaran yang benar-benar benar merupakan terobosan yang tidak bisa bertindih tetap dengan kebenaran agama dan etika yang sudah ada. Ini berarti akan terjadi sedikit friksi atau bahkan bertentangan dengan moral umum. Misalnya soal dosa. Bagi agama dan etika pada umumnya dosa adalah pelanggaran terhadap hukum, tetapi dalam kekristenan adalah meleset, artinya tidak melakukan sesuai dengan selera Tuhan berarti dosa (apa pun). Dalam hal ini titik tolak kesucian adalah pikiran dan perasaan Tuhan. Juga sasalah doa, doa dipahami sebagai permintaan. Dalam berdoa seseorang mengajukan permintaan, tetapi dalam kekristenan doa adalah usaha untuk mengerti kehendak Tuhan. Bukan mengajukan permintaan tetapi mengajukan diri untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah.

Mengenai berbuat baik, biasanya dipahami sebagai memberi sesuatu kepada orang yang membutuhkan pertolongan, tetapi dalam kekristenan berbuat baik adalah melakukan sesuatu untuk menunjang atau melengkapi proyek keselamatan, bagaimana manusia dikembalikan kepada rancangan semula. Jika tidak demikian, kebaikannya sia-sia. Mengenai ibadah, dalam agama-agama pada umumnya, ibadah berarti melakukan kegiatan di lingkungan rumah ibadah. Dalam kekristenan ibadah adalah menggunakan semua potensi jasmani dan rohani untuk kepentingan Tuhan, yaitu menggenapi rencana Allah yaitu menggenapi jumlah corpus delicti, baik diri sendiri maupun orang lain yang kita bantu. Memuji dan menyembah Tuhan adalah kegiatan dalam lingkungan gereja yaitu pada waktu mengadakan liturgi, tetapi sebenarnya tidak demikian. Menyembah Tuhan adalah ketika seseorang memberi nilai tinggi Tuhan dan mewujudkan itu dalam tindakan. Selanjutnya agama mengajarkan bahwa beragama atau bertuhan selain menjadi baik (menurut moral) juga usaha untuk memperoleh jalan keluar bila memiliki suatu masalah. Ini namanya azas manfaat. Tetapi seharusnya tidaklah demikian, kekristenan mengajarkan kalau kita berurusan dengan Tuhan karena kita hendak menemukan tempat kita di hadapan Tuhan untuk mengabdi dan melayani Tuhan. Dengan demikian azas manfaat diganti azas devosi.

Pada umumnya seseorang merasa bahwa dirinya adalah penduduk bumi dan berusaha untuk hidup sesuai dengan standar umum yang berlaku serta berusaha untuk menikmati sebanyak-banyaknya apa yang disediakan. Kebenaran yang murni mengajarkan bahwa kita harus merasa sudah mati dan hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus. Walau pun belum meninggal, kita harus sudah mulai memindahkan hati ke dalam kerajaan Sorga. Cara berpikir ini suatu cara berpikir yang tidak dikenal dalam masyarakat umum. -Solagracia-

Kebenaran yang benar-benar benar merupakan terobosan yang tidak bisa bertindih tetap dengan kebenaran agama dan etika yang sudah ada.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 27 Oktober 2014, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: