Surat Gembala: LEGALITAS ANAK-ANAK ALLAH

Mengapa seseorang disebut sebagai anak-anak Allah? Sebab ia memiliki kedaulatan moral yang tidak terbatas untuk mencapai kesucian Tuhan, artinya bisa mempertimbangkan sesuatu, mengambil pilihan dan keputusan yang sesuai dengan keinginan Tuhan. Dalam hal ini harus dipahami bahwa sebutan anak Allah di depan manusia bukan hanya sebuah sebutan tetapi keberadaan. Dengan keberadaan memiliki kedaulatan tanpa batas sesuai dengan moral Tuhan tersebut maka seseorang pantas mendapat status sebagai anak-anak Allah di hadapan-Nya. Berkenaan dengan hal ini kita dapati bahwa keturunan Set yang masih hidup dalam pimpinan Roh Allah dapat disebut anak-anak Allah (Kej. 6:1-4), sedangkan keturunan Kain yang hidup sesuka “hatinya sendiri” atau hidup menurut dagingnya adalah anak manusia (Rm. 8:9-14). Di antara keturunan Set yang berprestasi secara spiritual adalah Henock yang di tengah-tengah kesibukkannya sebagai pria yang berkeluarga bisa bergaul dengan Allah sampai diangkat Tuhan (Kej. 5:21-24). Oleh karena keturunan Set yang disebut anak-anak Allah tidak hidup menurut tuntunan Roh Allah, dimana mereka mengambil istri dari keturunan Kain sesuai dengan keinginan mereka sendiri, maka Roh Allah undur dari mereka. Sejak saat itu tidak ada lagi sebutan anak Allah secara proporsional. Sampai pada jaman anugerah dimana Allah memberi keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus kembali dimungkinkan manusia menjadi anak-anak Allah. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus menyediakan kuasa (Yun.exousia) supaya mereka yang percaya bisa menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:11-13).

Kuasa supaya menjadi anak-anak Allah tidak otomatis dapat membuat seseorang berkeadaan sebagai anak-anak Allah dengan moral tanpa batas sesuai dengan moral Tuhan. Dalam hal ini setiap orang harus menjadi murid Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tegas menyatakan bahwa orang percaya harus menjadikan semua bangsa menjadi murid Tuhan Yesus. Bukan murid manusia. Dalam hal ini pelayanan gereja hanya sampai wilayah tertentu membimbing umat kepada kebenaran Tuhan oleh tuntunan Roh Kudus, selanjutnya setiap pribadi harus belajar dari Tuhan Yesus bagaimana memiliki pikiran dan perasaan Tuhan. Inilah proses dilegalitas sebagai anak-anak Allah, dimana seseorang dididik oleh Allah supaya beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:6-10). Proses legalitas untuk diakui sebagai anak Allah (Yun. Huios) merupakan proses yang menyita seluruh kehidupan ini. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan agar orang percaya sempurna seperti Bapa (Mat 5:48). Sepanjang perjalanan hidup ini orang percaya harus segenap hidup mengumpulkan harta di Sorga (Mat 6:19-20). -Solagracia-

Dengan keberadaan memiliki kedaulatan tanpa batas sesuai dengan moral Tuhan, maka seseorang pantas disebut sebagai anak-anak Allah

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 8 September 2014, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: