Monthly Archives: September 2014

Surat Gembala: BERJUANG MENJADI BERHARGA SECARA IDEAL

Kalau seseorang tidak benar-benar menjadi indah seperti yang dikehendaki Bapa maka berarti ia tidak menjadi berharga. Harus diingat bahwa seseorang tidak pernah secara otomatis menjadi berharga setelah menjadi Kristen atau menjadi anak Tuhan. Itu barulah langkah awal dari sebuah perjalanan untuk menjadi benar-benar berharga di mata Allah. Setiap orang percaya dipanggil untuk mendadani diri supaya semakin berharga di mata Allah. Menjadi benar-benar berharga adalah perjuangan dari diri kita sendiri. Jika seseorang tidak berjuang maka tidak pernah menjadi seseorang yang sungguh-sungguh berharga di mata Tuhan. Oleh sebab itu jangan berpikir bahwa anda sudah berharga di mata Allah dan tidak perlu berjuang untuk berkenan kepada-Nya atau menjadi indah secara ideal di hadapan Tuhan.

Kesalahan yang bisa tergolong sebagai penyesatan yang terjadi dewasa ini adalah pernyataan mereka yang berdiri di mimbar yang menegaskan bahwa setiap jemaat sudah berharga di mata Allah tanpa menjelaskan secara lengkap maksud pernyataan itu. Bisa juga karena mereka tidak tahu kebenaran Firman Tuhan hal berharga di mata Tuhan. Mereka tidak memahami bahwa keberhagaan di hadapan Tuhan sesuatu yang bersifat progresif. Karena sudah merasa berharga, maka mereka stagnasi. Tidak ada usaha untuk berubah menjadi indah di mata Tuhan agar benar-benar berharga. Mereka hanya memuji-muji bahwa Allah itu baik dan luar biasa, tetapi tidak berusaha membuat dirinya baik dan luar biasa dalam moral seperti Bapa di Sorga. Dalam berurusan dengan Allah mereka hanya berusaha untuk memperoleh berkat jasmani dan bisa menikmati dunia ini sebanyak-banyaknya. Para “pelayan palsu” yang materialistis memanfaakan suasana ini untuk mencari keuntungan harta. Mereka mengajarkan praise and worship dan membuat seindah-indahnya liturgi kebaktian seakan-akan itulah yang dapat menyenangkan hati Tuhan. Mereka berusaha membalas kebaikan Tuhan yang membuat mereka berharga dengan pujian dan penyembahan. Pada hal mestinya membalas kebaikan Tuhan yang menjadikan dirinya berharga adalah dengan bertumbuh dalam kebenaran agar menjadi serupa dengan Tuhan Yesus agar menjadi indah di mata Allah Bapa. Itulah yang membuat dirinya berharga secara ideal. Keindahan seperti inilah tujuan keselamatan itu. Menolak hal ini berarti menolak keselamatan. Kuasa kegelapan akan berusaha untuk memberi banyak keinginan supaya orang Kristen berjuang untuk memperolehnya. Setelah memperolehnya, akan didorong untuk mencari yang lain. Terus menerus demikian sampai kematian menjemput. Orang-orang ini telah terbujuk oleh keindahan dan kecantikan dunia sehingga tidak memperdulikan apa penilaian Allah atas dirinya.
– Solagracia –

Jika seseorang tidak berjuang maka tidak pernah menjadi seseorang yang sungguh-sungguh berharga di mata Tuhan secara ideal.

Iklan

Suara Kebenaran 80: Hidup Berkelimpahan (Life in Abundance)

Dalam Yohanes 10:10 Tuhan Yesus menjanjikan hidup yang berkelimpahan. Tetapi nyatanya banyak orang belum menemukan hidup yang berkelimpahan itu, bahkan belum menemukan Tuhan. Pdt. Dr. Erastus Sabdono menguraikan bagaimana menemukan hidup yang berkelimpahan itu.

Surat Gembala: PELUANG YANG HARUS DIMANFAATKAN

Dalam sejarah pekerjaan Tuhan, baik yang ditemukan dalam Alkitab maupun yang tercatat dalam sejarah gereja, ditemukan dua hal yakni tantangan dan peluang. Dalam pekerjaan Tuhan terdapat tantangan yang dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internal maksudnya adalah tantangan yang terdapat dalam lingkungan orang Kristen sendiri. Tantangan dari aspek internal antara lain, kenyataan tidak banyak orang Kristen yang menyadari bahwa pekerjaan Tuhan adalah tanggung jawab bersama setiap orang percaya. Mereka harus menyadari bahwa setiap orang Kristen harus hidup dalam pekerjaan Tuhan atau dalam pelayanan Tuhan (Yoh. 20:21). Setiap orang yang mengikut Yesus harus mengikuti jejak-Nya. Setiap orang yang percaya kepada Yesus dan hidup di dalam Dia, ia wajib hidup seperti Yesus hidup yaitu menjadi utusan Bapa (1Yoh. 1:6).

Banyak gereja sibuk dalam pelayanan ke dalam sehingga mengabaikan pekerjaan Tuhan yang sifatnya keluar, termasuk kepentingan membangun jaringan kerja. Mereka tidak memedulikan kepentingan pekerjaan Tuhan secara menyeluruh atau secara global. Biasanya gereja seperti ini adalah gereja perusahaan, dimana gereja menjadi lahan pencarian nafkah pendeta semata. Mereka tidak memiliki visi, melihat kepentingan pekerjaan Tuhan secara universal bersama gereja lain. Kalau seorang gembala jemaat tidak memiliki visi bersama maka jemaatnya yang dilayanipun akan berpikiran picik seperti pemimpinnya. Kita harus menerima kenyataan bahwa gereja adalah milik Tuhan. Tidak ada seorang pun yang berhak merasa memiliki jemaat Tuhan. Berangkat dari pemahaman ini maka kita tidak akan egois. Gereja bukanlah perusahaan pribadi tetapi bisnis Bapa dan Tuhan Yesuslah kepalanya. Adapun tantangan secara eksternal adalah tantangan yang berasal dari luar gereja antara lain: Keadaan dunia yang fasik yang menjadikan kemurnian iman orang percaya rawan, kejahatan yang bertambah-tambah sehingga berbagai bidang hidup manusia mengalami dekadensi, pengkristalan iman atau agama, termasuk munculnya kelompok ekstrim beragama yang berusaha membangkitkan sentimen terhadap kekristenan dan lain sebagainya. Tantangan dan peluang inilah yang menjadi fokus proyek jaringan kerja (net working) yang merupakan kesempatan besar bagi orang percaya untuk berkarya di hari-hari terakhir sebelum Tuhan datang kembali. Bagi orang percaya yang mengasihi Tuhan tantangan adalah peluang untuk membuktikan kasih cinta kepada Tuhan. Marilah kita memanfaatkan peluang ini bersama-sama dan menghadapi tantangan bersama-sama dalam jaringan kerja gereja-gereja. -Solagracia-

Bagi orang percaya yang mengasihi Tuhan tantangan adalah peluang untuk membuktikan kasih cinta kepada Tuhan.

Surat Gembala: LEGALITAS ANAK-ANAK ALLAH

Mengapa seseorang disebut sebagai anak-anak Allah? Sebab ia memiliki kedaulatan moral yang tidak terbatas untuk mencapai kesucian Tuhan, artinya bisa mempertimbangkan sesuatu, mengambil pilihan dan keputusan yang sesuai dengan keinginan Tuhan. Dalam hal ini harus dipahami bahwa sebutan anak Allah di depan manusia bukan hanya sebuah sebutan tetapi keberadaan. Dengan keberadaan memiliki kedaulatan tanpa batas sesuai dengan moral Tuhan tersebut maka seseorang pantas mendapat status sebagai anak-anak Allah di hadapan-Nya. Berkenaan dengan hal ini kita dapati bahwa keturunan Set yang masih hidup dalam pimpinan Roh Allah dapat disebut anak-anak Allah (Kej. 6:1-4), sedangkan keturunan Kain yang hidup sesuka “hatinya sendiri” atau hidup menurut dagingnya adalah anak manusia (Rm. 8:9-14). Di antara keturunan Set yang berprestasi secara spiritual adalah Henock yang di tengah-tengah kesibukkannya sebagai pria yang berkeluarga bisa bergaul dengan Allah sampai diangkat Tuhan (Kej. 5:21-24). Oleh karena keturunan Set yang disebut anak-anak Allah tidak hidup menurut tuntunan Roh Allah, dimana mereka mengambil istri dari keturunan Kain sesuai dengan keinginan mereka sendiri, maka Roh Allah undur dari mereka. Sejak saat itu tidak ada lagi sebutan anak Allah secara proporsional. Sampai pada jaman anugerah dimana Allah memberi keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus kembali dimungkinkan manusia menjadi anak-anak Allah. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus menyediakan kuasa (Yun.exousia) supaya mereka yang percaya bisa menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:11-13).

Kuasa supaya menjadi anak-anak Allah tidak otomatis dapat membuat seseorang berkeadaan sebagai anak-anak Allah dengan moral tanpa batas sesuai dengan moral Tuhan. Dalam hal ini setiap orang harus menjadi murid Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tegas menyatakan bahwa orang percaya harus menjadikan semua bangsa menjadi murid Tuhan Yesus. Bukan murid manusia. Dalam hal ini pelayanan gereja hanya sampai wilayah tertentu membimbing umat kepada kebenaran Tuhan oleh tuntunan Roh Kudus, selanjutnya setiap pribadi harus belajar dari Tuhan Yesus bagaimana memiliki pikiran dan perasaan Tuhan. Inilah proses dilegalitas sebagai anak-anak Allah, dimana seseorang dididik oleh Allah supaya beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:6-10). Proses legalitas untuk diakui sebagai anak Allah (Yun. Huios) merupakan proses yang menyita seluruh kehidupan ini. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan agar orang percaya sempurna seperti Bapa (Mat 5:48). Sepanjang perjalanan hidup ini orang percaya harus segenap hidup mengumpulkan harta di Sorga (Mat 6:19-20). -Solagracia-

Dengan keberadaan memiliki kedaulatan tanpa batas sesuai dengan moral Tuhan, maka seseorang pantas disebut sebagai anak-anak Allah

Suara Kebenaran 79: Memiliki Kemuliaan Allah (Posessing the Glory of God)

Kemuliaan Allah hilang setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Pdt. Dr. Erastus Sabdono menjelaskan bagaimana manusia memperoleh kembali kemuliaan Allah tersebut.

Surat Gembala: BLESSING IN DISGUISE

Karena melalui segala peristiwa Tuhan berbicara kepada kita, yaitu memberi nasihat dan pendidikan-Nya, maka kita harus sungguh-sungguh menghayati bahwa hidup ini adalah sekolah. Kita harus fokus terhadap setiap pelajaran yang Tuhan berikan melalui segala peristiwa yang kita dengar, lihat dan alami. Oleh sebab itu perhatian kita tidak boleh tertuju kepada yang lain. Kalau perhatian seseorang tercuri oleh hal lain, maka pelajaran berharga yang diberikan Tuhan setiap hari kepada masing-masing individu menjadi sia-sia. Banyak pelajaran mahal yang Tuhan berikan dan terlewatkan begitu saja. Dengan demikian anugerah Tuhan yang sangat berharga tidak dihargai. Sejatinya banyak orang Kristen bersikap demikian. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang tidak memiliki kerinduan untuk bertumbuh dalam Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang tidak haus dan lapar terhadap kebenaran. Jika seseorang memperhatikan dengan serius setiap peristiwa kehidupan yang didengar, dilihat dan dialami, maka nyatalah kemajuan kedewasaan rohaninya. Anak-anak Tuhan harus memiliki “seni” atau kecerdasan dan ketelitian menganalisa setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Dengan teliti seperti kegiatan seorang peneliti terhadap suatu obyek. Dengan keseriusan yang tinggi seseorang akan mendapat pencerahan dari Tuhan untuk menemukan banyak pelajaran rohani yang memberi hikmat, mengubah pola berpikir dan mendewasakan rohani menuju kesempurnaan. Melalui segala peristiwa tersebut sesungguhnya Tuhan memberikan “rhema-Nya” (suara dari hati Tuhan) yang berkenaan secara langsung dengan kebutuhan pada waktunya. Rhema (Firman Tuhan) ini sukar diperoleh tanpa melalui pengalaman hidup konkrit dalam kehidupan. Dalam hal ini sering orang percaya yang sungguh-sungguh haus dan lapar akan kebenaran memperoleh pengalaman “blessing in disguise”, artinya kadang melalui pengalaman yang menyakitkan Tuhan memberikan “rhema-Nya”. Jadi rhema yang diterima orang percaya tidak selalu melalui pengalaman yang menyenangkan, justru lebih banyak melalui pengalaman yang tidak nyaman. Orang percaya yang dewasa dan mengerti kebenaran ini tidak akan bersungut-sungut ketika harus melewati lembah kesulitan. Jika mengerti betapa nilai “rhema” yang diberikan Tuhan mestinya kita berani membayar berapa pun harga yang harus dibayar. Lagi pula hal ini tidak diberikan kepada semua orang, tetapi hanya kepada mereka yang mengasihi Tuhan (Rm. 8:28). Dalam hal ini kita menemukan hubungan antara mengasihi Tuhan, mengalami segala perkara dimana Allah turut bekerja dan rhema yang Tuhan berikan kepada mereka yang mengasihi Tuhan. Dengan demikian jelas sekali bahwa hanya orang yang mengasihi Tuhan yang memperoleh rhema. -Solagracia-

Anak-anak Tuhan harus memiliki “seni” atau kecerdasan dan ketelitian menganalisa setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.

%d blogger menyukai ini: