Surat Gembala: PENAMPIAN SEBAGAI ANAK ALLAH

Tidak bisa disangkal kenyataan dunia dimana kita hidup hari ini bertambah semakin fasik. Manusia semakin tidak peduli Tuhan. Tidak peduli Tuhan bukan berarti tidak bergereja, bisa saja mereka bergereja tetapi pada dasarnya mereka tidak peduli dan tidak menghormati Tuhan secara pantas. Kalau seseorang pergi ke gereja bukan berarti sudah peduli dan menghormati Tuhan secara pantas. Kepedulian terhadap Tuhan ditunjukkan dengan kesediaan hidup di dalam Kerajaan-Nya. Hidup dalam Kerajaan-Nya artinya hidup dalam suatu penghayatan terus menerus bahwa dirinya ada dalam pemerintahan Tuhan. Oleh sebab itu ia harus peduli terhadap kehendak dan rencana Tuhan.

Sebenarnya lebih dari segala kegiatan di lingkungan tembok gereja, yang Tuhan kehendaki adalah menjaga langkah hidup setiap hari. Dari segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan dan perbuat harus sesuai dengan keinginan Tuhan, tidak bertentangan dengan norma kesucian Tuhan. Segala sesuatu yang kita lakukan harus dihubungkan dengan Tuhan, yaitu apakah semuanya itu berkenan di hati-Nya? Membiasakan hidup dalam pemerintahan Tuhan ini tidak sederhana dan tidak mudah. Sebenarnya ini adalah proses menggarap batiniah seseorang, yaitu memiliki sikap hati yang benar di hadapan Tuhan. Ini bisa merupakan suatu “pergumulan senyap” tetapi sangat menyibukkan. Pergumulan senyap artinya tidak ada orang lain yang tahu persis apa sedang terjadi dalam hidupnya. Orang-orang seperti ini berurusan dengan Tuhan setiap detiknya dan berusaha untuk selalu menyukakan hati-Nya.

Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah ketekunan (Mat. 24:13). Kata ketekunan dalam teks aslinya adalah hupomeno (ὑπομένω) yang juga berarti “bertahan” terus menerus dan tetap berdiri teguh. Pergumulan melawan kuasa kegelapan bukanlah pergumulan yang ringan. Efesus 6:12 menunjukkan pergumulan ini sebagai suatu perjuangan. Petrus menunjukkan bahwa pergumulan itu seperti menghadapi singa yang mengaum (1 Ptr. 5:8-10). Sedikit sekali orang mengalami penderitaan dalam perjuangan ini. Ini adalah perjuangan untuk selamat. Perhatikan Matius 24:13, yang bertahan sampai akhir akan selamat. Bertahan juga berarti tetap kokoh di tengah pencobaan.

Suasana dunia ini merupakan bentuk penampian yaitu pembuktian apakah seseorang layak disebut anak Allah atau tidak. Dunia akan digoncang dengan berbagai kesulitan hidup dari berbagai sektor (ekonomi, politik, keamanan, ekosistim bumi, kesehatan dan lain sebagainya). Goncangan yang tidak kelihatan tetapi yang sangat penting untuk diwaspadai adalah kondisi kehidupan yang cenderung membuat manusia yang menjadi semakin fasik. Tanpa ketekunan seseorang pasti hanyut menjadi fasik seperti dunia. -Solagracia-

Suasana dunia ini merupakan bentuk penampian yaitu pembuktian apakah seseorang layak disebut sebagai anak Allah atau tidak.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 4 Agustus 2014, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: