Surat Gembala: MEMAHAMI HIDUP YANG DIBERIKAN TUHAN

Seorang yang menghayati bahwa dirinya adalah makhluk kekal, akan selalu merasa bahwa ia sedang memulai sebuah kehidupan. Ia akan selalu merasa bahwa ia baru mengenal hidup dan belajar untuk mengenakan suatu bentuk atau gaya hidup baru yang ditemukannya di dalam kebenaran Tuhan. Ciri dari kehidupan orang yang menghayati bahwa dirinya makhluk kekal yaitu akan selalu mencari kebenaran untuk dikenakan. Dengan demikian ia akan mengerti artinya haus dan lapar akan kebenaran. Ia bisa menghayati mengapa Tuhan Yesus berkata bahwa manusia hidup bukan dari roti saja (Mat. 4:4). Roti untuk tubuh fana, tetapi Firman Tuhan untuk jiwa yang kekal. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus bekerja untuk roti yang tidak dapat binasa (Yoh. 6:27-29). Percaya adalah sebuah usaha atau perjuangan, sebab di dalam percaya ada pergumulan untuk mengerti Firman Tuhan, mempertajam pikiran mengerti apa yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus untuk dilakukan. Firman yang keluar dari mulut Allah tidak bisa dipelajari hanya di bangku sekolah theologia. Di sini membutuhkan hikmat dan pewahyuan. Sekolah theologia dengan prinsip-prinsip menafsir barulah pintu gerbangnya. Tentu penting dan harus juga dilalui tetapi bukan segalanya. Oleh sebab itu hendaknya tidak merasa sudah mengerti isi kitab suci kalau hanya pernah belajar di sekolah tinggi theologia. Proses belajar Firman adalah proses seumur hidup.

Hikmat dan pewahyuan akan membuka pikiran mengerti rahasia Injil dan memahami bagaimana Tuhan Yesus memiliki sikap batiniah dalam menjalani hidup setiap hari dua ribu tahun yang lalu ketika mengenakan tubuh jasmani. Kalau Tuhan Yesus berkata: “Belajarlah pada-Ku (Mat. 11:28-29), itu berarti ada sebuah persekutuan adikodrati yang terjadi antara individu dengan Tuhan secara eksklusif. Melalui belajar dari Tuhan secara pribadi tersebut seseorang barulah mengerti nilai “hidup” yang Tuhan berikan (Yoh. 10:10). Hal ini tidak bisa diuraikan dengan kata-kata dan ditulis dengan huruf. Seseorang harus mengalami kehadiran Tuhan secara nyata. Itulah yang dimaksud Paulus sebagai mengalami Dia dan kuasa kebangkitan-Nya (Flp. 3:10). Seperti dua ribu tahun yang lalu, Tuhan Yesus mendampingi murid-murid untuk mengajarkan kehidupan-Nya, demikian pula sekarang, Tuhan mendampingi orang percaya untuk memberi dan mengajarkan kehidupan-Nya. Inilah yang dinantikan oleh banyak nabi dan orang benar dalam Perjanjian Lama (Mat. 13:17). Memahami hal ini, bisa dibuktikan betapa berharganya setiap hari yang Tuhan berikan, sebab setiap hari mengerjakan kekekalan yang luar biasa. Berkat yang tiada ternilai yang Tuhan berikan setiap hari adalah kita mengumpulkan harta di Sorga, yaitu membangun sikap batiniah seperti yang dimiliki Tuhan Yesus. – Solagracia –

Ciri dari kehidupan orang yang menghayati bahwa dirinya makhluk kekal yaitu akan selalu mencari kebenaran untuk dikenakan.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 26 Mei 2014, in Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: