Surat Gembala: MENGUBAH CARA BERPIKIR

Percaya kepada Tuhan Yesus berarti memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah (Mat. 16:23). Kata dipikirkan atau memikirkan dari teks aslinya phroneo (φρονέω). Kata ini juga terdapat dalam Filipi 2:5, yang diterjemahkan “pikiran dan perasaan”. Kata phroneo juga dapat diterjemahkan “setting our mind”. Berkenaan dengan hal ini kita dapati sulitnya pelayanan, yaitu bagaimana mengubah cara berpikir manusia menjadi cara berpikir Tuhan. Selama seseorang masih memiliki cara berpikir manusia maka ia belum memiliki cara berpikir Tuhan. Sebelum menghadap Tuhan di kekekalan seharusnya setiap orang percaya telah memiliki cara berpikir Tuhan.
Cara berpikir manusia adalah cara berpikir yang dibangun sejak kecil, yang diserap dari orang tua dan lingkungan. Standar berpikirnya adalah standar berpikir yang berbeda dengan Tuhan. Hendaknya seseorang tidak merasa dirinya sudah berpikir dengan cara berpikir Tuhan hanya karena bisa berbicara mengenai moral, etika dan kebaikan yang didasarkan pada beberapa ayat-ayat Alkitab. Banyak orang terjebak dalam kebodohan ini. Mereka tersesat oleh dirinya sendiri. Dengan berkata-kata yang ber “bau” Alkitab merasa sudah berpikir dengan cara berpikir Allah. Hal seperti ini bahkan dilakukan oleh banyak orang yang menggunakan logika dengan kemampuan bernalar yang baik. Hal tersebut juga menjadi seperti sebuah “game” yang dilakukan banyak orang selama bertahun-tahun. Mereka bisa cakap berbicara tetapi tidak memiliki kodrat Ilahi. Cara berpikir Allah (Yun. phroneo), bukanlah demikian. Mereka juga bisa terkesan sebagai theolog yang memahami isi Alkitab. Kalau hanya berargumentasi banyak orang bisa melakukannya. Orang yang memiliki cara berpikir Tuhan adalah mereka yang menunjukkan buah-buah kehidupan seperti yang dimiliki dan dilakukan oleh Tuhan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang menerima arti penebusan oleh darah Tuhan Yesus yang membuat mereka menyadari bahwa seluruh hidup telah dimiliki oleh Tuhan, sehingga tidak bertindak suka suka sendiri. Mereka memiliki gaya hidup seperti Tuhan Yesus sehingga menggenapi Firman Tuhan dimana Tuhan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:28-29).

Untuk memiliki gaya hidup seperti ini sangat sulit. Tetapi dengan berusaha sungguh-sungguh maka seseorang akan menjadi anak-anak Allah yang benar. Untuk mencapai ini, seorang anak Tuhan harus berusaha sungguh-sungguh bergumul terus guna dapat memiliki cara berpikir Tuhan. Sampai pada level seseorang memiliki cara berpikir atau phroneo Tuhan, ia bisa dikatakan sebagai seorang yang telah mengalami kelahiran baru atau dilahirkan oleh Allah. Sebelum memiliki cara berpikir Allah seseorang belum lahir baru. -Solagracia-

Orang yang memiliki cara berpikir Tuhan pasti memiliki gaya hidup Tuhan Yesus.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 19 Mei 2014, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: