Monthly Archives: April 2014

Surat Gembala: SEMPURNA SEPERTI BAPA

Kalimat sempurna seperti Bapa menjadi persoalan yang belum selesai dalam kehidupan gereja Tuhan. Banyak perdebatan yang terjadi sekitar kalimat ini. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan sempurna seperti Bapa ini? Apakah manusia bisa sempurna seperti Bapa? Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang percaya “harus” sempurna (Mat. 5:48). Kata “harus” di sini berarti bukan sesuatu yang bisa atau boleh dihindari. Ini pasti sesuatu yang bernilai mutlak. Kata harus di dalam teks ini memberi kabar baik, sebab di balik kata harus di sini diisyaratkan bahwa kita bisa melakukannya. Sebab Tuhan yang bijaksana tidak mungkin memberi perintah yang sifatnya mutlak yang harus dilakukan sementara kita tidak bisa melakukannya.
Kualitas hidup sempurna seperti Bapa adalah ciri atau yang menandai seseorang adalah anak-anak Allah (Mat. 5:45). Berkenaan dengan hal ini kita bisa menghubungkan dengan tulisan dalam Injil Yohanes, bahwa ia memberikan kuasa supaya kita menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Dalam 2Petrus 1:3-4, Allah memberikan kuasa agar kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Tuhan memanggil kita sebagai anak-anak-Nya, tetapi apakah sah menjadi anak Allah tergantung pencapaian kita di hadapan Allah (Ibr. 12:7-9). Orang yang berhasil mengambil bagian dalam kekudusan-Nya adalah orang yang bersedia menjadi anak Allah. Itulah sebabnya kita harus hidup dalam ketakutan selama menumpang di bumi ini (1Ptr. 1:17). Kata Bapa dalam ayat ini hendak mengisyaratkan bahwa kita adalah anak-anak Allah semesta alam. Kita adalah keturunan Allah. Dalam Alkitab dikatakan bahwa Adam adalah anak Allah (Luk. 3:38). Lebih tegas dan kontroversi lagi, Paulus menyatakan bahwa manusia adalah keturunan Allah (Kis. 17:28-29). Kata keturunan dalam teks aslinya adalah genos (ένος) yang artinya keturunan (Ing. offspring, race, stock, descendants), kata yang sama yang digunakan untuk pengertian keturunan secara umum. Dengan kata Bapa di sini orang percaya dipanggil untuk dikembalikan seperti rancangan Allah semula, yaitu diciptakan menurut rupa dan gamba Allah sebagai Bapa.

hukum yang diberlakukan bagi umat Perjanjian Lama dan hukum yang dikenakan umat Perjanjian Baru yang menekankan batiniah (Mat. 5:21-47), Tuhan Yesus mengatakan agar orang percaya sempurna seperti Bapa di Sorga. Standar kelakuan yang ditunjukkan Tuhan Yesus bukan hanya di atas kualitas hukum yang diberlakukan bagi umat Israel tetapi jug sangat bersifat batiniah. Dalam hal ini Tuhan menunjukkan bahwa orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan tetapi juga dan kualitas batiniah seperti Bapa di Sorga. -Solagracia-

Tuhan yang bijaksana tidak mungkin memberi perintah yang sifatnya mutlak yang harus dilakukan, sementara kita tidak bisa melakukannya.

Iklan

Suara Kebenaran 71: Cara Berpikir Iblis (The Devil’s Way of Thinking)

Banyak orang menganggap cara berpikir manusia hasil asuhan dunia adalah wajar, tetapi Pdt. Dr. Erastus Sabdono mengungkapkan bahwa cara berpikir seperti itu adalah cara berpikir Iblis yang menghambat perubahan orang percaya untuk menjadi seperti Kristus.

Surat Gembala: MATI BAGI DUNIA

Berbicara mengenai Kerajaan Sorga, tidak bisa tidak perlu menghubungkan dengan apa yang dikatakan Paulus dalam kitab Roma 14:17, Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Dalam pernyataan Paulus ini sungguh sangat sinkron dengan apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus mengenai Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga adalah pemerintahan Allah yang tidak berpusat pada perkara-perkara kehidupan di bumi ini. Mendahulukan Kerajaan Sorga berarti membangun kebenaran, bagaimana berkelakuan yang luar bisa seperti Tuhan Yesus dan memiliki damai sejahtera serta sukacita yang tidak didasarkan kepada perkara-perkara duniawi. Ini berarti seorang yang bersedia mendahulukan Kerajaan Allah, berarti sudah benar-benar bersedia mati bagi dunia. Dunia bukan lagi menjadi tujuan. Dunia dengan segala kesibukkannya adalah sarana untuk belajar menjadi warga Kerajaan Sorga yang baik. Semua yang diupayakan semata-mata untuk kepentingan Tuhan.

Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang dikatakan Paulus “telah mati dan hidup tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol. 3:3). Memang tidak banyak orang yang bersedia hidup dengan cara demikian, tetapi yang bersedia maka harus memberi diri dibaptis. Dalam hal ini baptisan adalah lambang kematian (Rm. 6:4). Jadi kalau seseorang tidak bersedia mati hendaknya tidak memberi diri dibaptis. Kematian jenis ini adalah kematian yang menghidupkan, sebab tanpa pengalaman kematian seperti ini seseorang tidak akan mengalami kebangkitan dalam hidup yang baru bersama dengan Tuhan. Jika seseorang berani masuk pergumulan sebagai orang Kristen sejati seperti ini, barulah bisa menghayati nilai ke-Kristenan yang luar biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan agama apapun. Sebagai buahnya sesuai dengan janji Tuhan bahwa semuanya akan ditambahkan kepada kita (Mat. 6:33). Semua di sini bukan berkat jasmani semata-mata tetapi usaha untuk mengumpulkan harta di Sorga, mengenal kebenaran dan mengabdi kepada-Nya (Mat. 6:19-24). Dalam hal ini kita harus memahami bahwa roda kehidupan kekristenan baru bisa berjalan kalau seseorang sungguh-sungguh bersedia mendahulukan Kerajaan Allah. Betapa pentingnya memahami ayat ini dengan benar. Jadi kalau dikatakan bahwa ayat ini adalah janji untuk memperoleh berkat jasmani, adalah salah besar. Justru ayat ini mengisyaratkan, kalau seseorang mendahulukan Kerajaan Sorga akan bisa berakibat kehilangan segala sesuatu, dimana yang sisa adalah Kerajaan Sorga. Hal ini memberi ciri yang tidak bisa dibantah dari kehidupan seseorang yang sungguh-sungguh telah diselamatkan. Inilah ke-Kristenan yang sejati atau orisinil. -Solagracia-

Suara Kebenaran 70: Mengubah Cara Berpikir (Changing the Way of Thinking)

Kita mendapati bahwa mengubah cara berpikir manusia menjadi cara berpikir Tuhan sangat sulit. Pdt. Dr. Erastus Sabdono menjelaskan bahwa sekalipun demikian, sebelum menghadap Tuhan di kekekalan, kita harus memiliki cara berpikir Tuhan.

Surat Gembala: KEKUATAN DALAM KELEMAHAN

Ketika murid-murid dan orang-orang yang selama ini mengikut Tuhan Yesus dan berharap dapat mengubah nasib mereka melihat bahwa Tuhan Yesus tunduk kepada kekuatan Roma, maka semangat mereka menjadi patah. Terus terang saja, selama ini mereka mengikut Tuhan Yesus dengan mempertaruhkan segenap hidup mereka, meninggalkan segala sesuatu karena mereka hendak mengubah nasib atau keadaan hidup mereka. Dengan ditangkapnya Tuhan Yesus, disiksa dan dihukum mati, maka mereka menjadi tawar hati dan meninggalkan Tuhan Yesus. Murid-murid yang terutama, yang selama itu ada di samping Tuhan Yesus begitu kecewanya sampai mereka bermaksud kembali ke profesi semula, diantaranya sebagai penjala ikan. Bisa dibayangkan bagaimana dengan profesi Matius sebagai pemungut cukai, tidak mudah ia dapat menduduki kembali jabatan yang pernah didudukinya. Langit hidup mereka menjadi runtuh. Kebersamaan dengan Tuhan Yesus selama tiga setengah sekejap. Mereka memandangnya seperti sebuah mimpi sangat buruk. Sulit bagi mereka menerima kenyataan itu. Apa yang mereka saksikan dan mereka alami sangat jauh dari apa yang selama ini diharapkan dan dimimpikan. Mereka benar-benar tergoncang.
Hal itu terjadi sebab mereka tidak tahu rencana Allah dan kebenaran-Nya. Mereka memaksakan rencana mereka sendiri dan membangun kebenaran mereka sendiri pula. Pada dasarnya mereka tidak mengikut Tuhan Yesus, tetapi mereka bermaksud agar Tuhan Yesus mengikut mereka. Kejayaan yang mereka maksudkan dan harapkan adalah kejayaan dan kemuliaan yang berbeda dengan konsep Tuhan. Hal ini memberi pelajaran yang mahal bagi kita orang percaya sekarang ini. Inti kekristenan adalah mengenakan cara berpikir Tuhan. Ketidak berdayaan-Nya menghadapi kekuatan agama Yahudi dan Roma bukanlah sebuah kekalahan, justru itulah kekuatan. Tuhan Yesus bukan tidak sanggup membela diri dengan menurunkan malaikat dari Sorga, tetapi Ia harus sampai salib dan mati. Dengan cara itulah Ia memuliakan Allah Bapa. Itulah kekuatan. Sesuatu disebut sebagai kekuatan kalau melakukan apa yang Allah Bapa kehendaki. Walau di mata manusia adalah kelemahan dan ketidakberdayaan. Dalam kehidupan orang percaya yang benar, kita diajar untuk memberi diri mengikuti jejak Tuhan Yesus dengan mentaati kehendak-Nya. Walau untuk itu kita dianggap lemah, tidak berdaya dan bodoh. Dengan mengikuti kehendak Bapa kita bisa dianggap tidak beruntung dibanding mereka yang berani berlaku curang. Demi kebenaran kita harus berani tidak memiliki kelimpahan materi seperti mereka yang ada di jalan orang fasik. Bahkan kita harus berani tidak memiliki apa-apa demi kehidupan yang akan datang. -Solagracia-

Suara Kebenaran 69: Bukan Sekadar Status (Not Just A Status)

Pdt. Dr. Erastus Sabdono menjelaskan bahwa menjadi anak Tuhan bukanlah sekadar status yang diyakini atau diakui, melainkan sebuah keberadaan yang dapat dibuktikan atau diekspresikan melalui gaya hidup dari sikap hati yang benar.

Surat Gembala: MENDAPAT TEMPAT DI HATI TUHAN

Demi keselamatan agar dapat terwujud dalam kehidupan orang Kristen, gereja dan pelayanan tidak boleh menjadi bisnis untuk suatu keuntungan dalam bentuk apapun, kecuali mengubah cara berpikir jemaat agar terbuka terhadap kebenaran dan dapat diselamatkan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kebenaran itulah yang akan memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Kemerdekaan di sini adalah kemerdekaan dari percintaan kepada dunia. Dalam hal ini diingatkan bahwa seorang yang menjadi rohaniwan belum tentu sudah merdeka dari percintaan dunia. Padahal percintaan dunia adalah perselingkuhan dengan dunia. Percintaan dunia artinya masih ingin hidup wajar seperti manusia lain, bahkan kalau bisa melebihi mereka dalam harta dan kehormatan. Orang-orang seperti ini mencari tempatnya di mata manusia lain di bumi tetapi tidak mencari tempatnya di hati Tuhan. Baginya mencari tempat di hati Tuhan adalah abstrak, bukan realitas hidup hari ini. Padahal Tuhan Yesus sendiri yang berkata: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa dan akal budi. Dengan penjelasan lain, Tuhan Yesus menghendaki agar orang percaya menemukan tempatnya di hati Tuhan, sebab kalau seseorang mengasihi Tuhan dengan cara demikian berarti ia menjadikan Tuhan sebagai kekasih hatinya. Setiap orang yang menjadikan Tuhan kekasih hatinya pasti menjadi kekasih Tuhan. Menjadi kekasih Tuhan inilah yang harus diusahakan lebih dari mengusahakan segala hal. Inilah aspek lain dari keselamatan yaitu menjadi jemaat sebagai mempelai wanita-Nya dan Kristus sebagai mempelai prianya. Pertemuan antara dua pihak ini akan terjadi di suatu acara yang Alkitab katakan sebagai “pesta Anak Domba”. Ciri dari orang percaya yang menjadi mempelai Tuhan Yesus adalah sangat merindukan perjumpaan itu.
Jadi, dapat ditegaskan bahwa orang yang merdeka dari percintaan dunia berarti tidak memberhalakan sesuatu atau tidak selingkuh terhadap Tuhan. Kemerdekaan itulah yang membuat seseorang dapat membangun hubungan batin atau hati dengan Allah. Selama ada perselingkuhan maka seseorang tidak akan mendapat tempat di hati Tuhan, sebab Tuhan pun tidak mendapat tempat yang pantas dalam hidupnya. Orang-orang seperti ini tidak akan dapat menjadi mempelai Tuhan. Inilah yang ditakutkan Paulus, pikiran jemaat disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus, seperti Hawa yang diperdaya oleh ular (2Kor. 11:2-4). Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang ada dalam percintaan dengan dunia, sama seperti manusia pertama yang memetik buah yang dilarang oleh Allah. Hal itu jangan sampai kita lakukan. Kesempatan untuk hidup hanya satu kali. Seharusnya kita memetik buah pohon kehidupan yang di dalamnya berisi kebenaran Firman Tuhan yang akan memerdekakan dan menyelamatkan. -Solagracia-

Menjadi kekasih Tuhan inilah yang harus diusahakan lebih dari mengusahakan segala hal.

Surat Gembala: BERJUANG MEMIKUL SALIB

Memikul salib bukan sesuatu pekerjaan yang enak atau mudah untuk dilakukan. Mematikan keinginan daging dimana ada nature dosa adalah proses yang paling sulit dalam kehidupan orang percaya. Untuk anak manusia yang masih muda usia jasmani (orang muda) dan muda usia rohani (mereka yang belum lama ikut Tuhan atau yang lama ikut Tuhan tetapi tidak bertumbuh), memikul salib adalah bagian hidup yang hampir mustahil untuk dilakukan. Banyak dari mereka yang menghindarinya, bahkan berusaha untuk menjauh. Mereka merasa memiliki hak untuk mengatur hidupnya sesuai dengan selera dan keinginannya sendiri. Salib bagi mereka adalah ancaman kebahagiaan atau dipandangnya sebagai pola hidup tidak normal. Tetapi bagi yang mengerti kebenaran, salib adalah jalan kehidupan. Salib mengandung kekayaan yang tidak terhingga. Salib adalah alat transaksi dalam menerima kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Tidak ada kehidupan dan kemuliaan tanpa mengalami kematian.

Tidak ada ke-Kristenan sejati tanpa salib. Kehidupan ke-Kristenan tanpa salib adalah kepalsuan. Inilah ke-Kristenan produk iblis yang menipu banyak orang, tetapi laku keras di pasaran.

Rasanya tidak ada orang yang selalu berhasil dalam proses menyangkal diri dan memikul salib. Kadang-kadang atau bahkan sering seseorang meletakkan salibnya dan menikmati keinginan daging, dosa, dunia dengan segala keindahannya seperti anak-anak dunia menikmatinya. Pada waktu itu proses penyaliban daging terhambat bahkan berhenti. Bagi mereka yang memiliki komitmen tulus untuk mengasihi, akan ditegor Tuhan dengan pukulan agar kembali ke taman “Getsemani dan Via Dolorosa”nya. Tetapi mereka yang tidak memiliki komitmen mengasihi Tuhan, akan dibiarkan sampai kematian menjemput mereka dan mereka tidak pernah memilul salib. Kalau Tuhan memberikan pukulan atau dengan berbagai cara mengingatkan kita untuk kembali ke jalan salib. Kita tidak boleh mengabaikannya, sebab kalau kita tidak memperdulikan maka tidak akan ada peringatan lagi. Ini berarti kerugian yang tiada tara. Kesempatan memikul salib berlalu berarti kesempatan untuk menerima keselamatan juga hilang. Salib merupakan cara Allah mengajarkan bagaimana mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Bagaimana seseorang memiliki pikiran dan perasaan Kristus, mengosongkan diri dan taat sampai mati di kayu salib kalau tidak memiliki pengalaman yang sama dengan Dia (Flp. 2:5-7). Kalau Tuhan Yesus mengalami penyaliban secara fisik, orang percaya cukup dari nature daging dosa tanpa penderitaan fisik (Ibr. 12:2-4). Itulah sebabnya ke-Kristenan tidak boleh menjadi sekedar sambilan dalam kehidupan ini. Ke-Kristenan harus menjadi seluruh kehidupan kita. Kita harus rela memiliki kehidupan yang disita untuk belajar memikul salib.
-Solagracia-

Kehidupan ke-Kristenan tanpa salib adalah kepalsuan, produk iblis yang menipu banyak orang, tetapi laku keras di pasaran.

%d blogger menyukai ini: