Surat Gembala: PIKIRAN YANG DITERANGI

Pada akhirnya setiap anak Tuhan harus hidup di dalam kehendak-Nya, artinya mengerti apa yang diinginkan Tuhan untuk dilakukan dengan tepat. Masalahnya adalah bagaimana seseorang dapat melakukan kehendak Tuhan kalau orang tersebut tidak mengerti kehendak Tuhan. Bagaimana seseorang dapat mengerti kehendak Tuhan kalau orang tersebut tidak memiliki kecerdasan yang mempertajam kepekaan dalam mengerti kehendak-Nya. Bagaimana seseorang bisa memiliki kecerdasan kalau orang tersebut tidak memiliki tekad atau niat untuk belajar. Akhirnya semuanya berpulang kepada masing-masing pribadi, bahwa tekad atau niat ini bisa dikobarkan oleh diri sendiri. Dalam hal ini Tuhan tidak akan memksa niat seseorang. Sebab kalau niat bisa muncul karena Tuhan juga yang menggerakkan berarti manusia seperti sebuah robot dan segala sesuatu dalam penentuan Tuhan. Sesungguhnya disini terdapat misteri kehidupan, yaitu kehendak bebas manusia. Kehendak bebas manusia inilah yang akan menentukan nasib atau keadaan kekalnya. Kalau seseorang benar-benar ingin memiliki kehidupan yang mampu melakukan kehendak Allah dan tidak mencintai dunia, makan Tuhan akan menuntunnya untuk bertemu dengan kebenaran tersebut. Tuhan akan mempertemukan dia dengan hamba-hamba Tuhan yang mengajarkan kebenaran yang murni.

Dengan mengenal kebenaran mata pengertian seseorang akan dicelikkan guna mengenali diri secara benar dengan ukuran kesucian yang Tuhan kehendaki. Dalam hal ini kita jadi mengerti mengapa Tuhan mengatakan bahwa mata adalah pelita tubuh (Mat. 6:22). Mata disini adalah pengertian yang mendalam, yang sanggup untuk memahami standar kesucian Tuhan. Kalau hanya untuk mengerti standar kesucian menurut hukum moral umum, maka tidak dibutuhkan “mata yang terang”. Pikiran biasa yang dimiliki orang pada umumnya sudah bisa mengerti hukum moral umum seperti torat bagi orang Israel. Tetapi pikiran biasa yang belum diterangi kebenaran tidak akan dapat mengerti standar kesucian Tuhan. Faktanya banyak orang Kristen hanya mengerti kebenaran sesuai dengan hukum moral umum; bukan kebenaran yang sesuai dengan kesucian Allah. Dari hal ini dapatlah dikonklusikan bahwa banyak orang Kristen yang tidak mengenal kebenaran dan Firman-Nya tidak tinggal di dalam mereka. Kalau begitu untuk apa setiap hari Minggu pergi ke gereja? Ternyata mereka ke gereja hanya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai orang beragama, ada yang ke gereja hanya karena hendak menyelesaikan persoalan pemenuhan kebutuhan jasmani. Di pihak lain gereja tidak mengajarkan kebenran dari Firman yang murni. Pengakuan dosa mereka hanya dosa-dosa moral umum belum standar kesucian Tuhan. -Solagracia-

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 17 Maret 2014, in Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: