Monthly Archives: Maret 2014

Suara Kebenaran 68: Memahami Prinsip Kebenaran Kristus (Understanding Christ’s Truth Principle)

Pdt. Dr. Erastus Sabdono menjelaskan bahwa untuk memiliki integritas sebagai pengikut Kristus yang sejati, kita harus terlebih dahulu memahami prinsip kebenaran Kristus.

Iklan

Surat Gembala: HAL PALING MUTLAK BAGI MANUSIA

Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai hukum yang utama dan terutama, yaitu mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, sebenarnya Tuhan Yesus hendak menunjukkan kepada manusia apa yang dikehendaki oleh-Nya untuk dilakukan lebih dari segala sesuatu dalam hidup ini (Mat. 22:37-40). Inilah inti kehidupan manusia, hal ini merupakan satu-satunya yang utama dan harus dilakukan atau dikenakan dalam hidup. Lebih mutlak dari segala realitas dan lebih mutlak dari segala kebutuhan. Memandang akan hal ini, maka tidak ada sesuatu yang disebut sebagai kebutuhan, selain mengasihi Tuhan dengan segenap hidup. Ketika seseorang mengasihi Tuhan dengan benar, maka segala sesuatu menjadi seperti fatamorgana (pembiasan cahaya melalui kepadatan yang berbeda, sehingga bisa membuat sesuatu yang tidak ada terlihat seolah-olah ada. Fenomena ini biasa dijumpai di tempat atau daerah panas seperti padang pasir).

Memang pada akhirnya segala sesuatu yang ada di bumi ini akan lenyap. Lenyap sama sekali. Bumi ini adalah padang pasir kehidupan, bukan Firdaus. Betapa dahsyatnya fenomena ini, ketika segala sesuatu lenyap dan berubah menjadi lautan api. Tidak ada lagi yang dapatdiandalkan dan dibanggakan. Membayangkan akan hal ini, betapa mengerikannya jika kita tidak memiliki hidup yang berkenan kepada Allah.
Tanpa mengasihi Tuhan dengan segenap hidup sebaiknya manusia tidak pernah ada. Sebaiknya tidak pernah ada “Anda” kalau tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hidup ini, sebab Anda diciptakan untuk berkasih-kasihan dengan Allah. Tidak ada makhluk yang memiliki keberadaan seperti ini. Inilah letak keagungan makhluk Adam yang diciptakan segambar dengan diri Allah sendiri. Diciptakan segambar dengan diri Allah sendiri artinya diberi keberadaan untuk dapat mengimbangi Allah, yaitu bisa berjalan seiring. Seiring untuk membagi perasaan. Dalam hal ini seakan-akan Allah membuat diri-Nya membutuhkan cinta kasih dari manusia. Betapa terhormat dan agungnya makhluk manusia ini, diperkenan berkasih-kasihan dengan Tuhan. Menolak hal ini berarti menolak Allah dan anugerah-Nya. Betapa celakanya manusia yang tidak mengerti atau tidak mau mengerti akan hal ini. Mereka membiarkan hatinya direbut oleh kuasa gelap dengan percintaan yang ditujukan kepada dunia ini. Mereka yang bersahabat dengan dunia ini dikategorikan sebagai musuh Allah (Yak. 4:4). Manusia telah merusak kehormatannya sendiri dengan cara menggantikan kehormatan sebagai makhluk yang mengasihi Tuhan menjadi makhluk yang mengasihi barang-barang dunia fana demi kehormatan di mata manusia lain. Percintaan dengan dunia dan haus kehormatan atas manusia telah menjadi belenggu, yang menutup hatinya untuk memberi ruang yang pantas bagi Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang tidak terhormat, sebab mereka tidak menghormati Allah. –Solagracia-

Surat Gembala: PIKIRAN YANG DITERANGI

Pada akhirnya setiap anak Tuhan harus hidup di dalam kehendak-Nya, artinya mengerti apa yang diinginkan Tuhan untuk dilakukan dengan tepat. Masalahnya adalah bagaimana seseorang dapat melakukan kehendak Tuhan kalau orang tersebut tidak mengerti kehendak Tuhan. Bagaimana seseorang dapat mengerti kehendak Tuhan kalau orang tersebut tidak memiliki kecerdasan yang mempertajam kepekaan dalam mengerti kehendak-Nya. Bagaimana seseorang bisa memiliki kecerdasan kalau orang tersebut tidak memiliki tekad atau niat untuk belajar. Akhirnya semuanya berpulang kepada masing-masing pribadi, bahwa tekad atau niat ini bisa dikobarkan oleh diri sendiri. Dalam hal ini Tuhan tidak akan memksa niat seseorang. Sebab kalau niat bisa muncul karena Tuhan juga yang menggerakkan berarti manusia seperti sebuah robot dan segala sesuatu dalam penentuan Tuhan. Sesungguhnya disini terdapat misteri kehidupan, yaitu kehendak bebas manusia. Kehendak bebas manusia inilah yang akan menentukan nasib atau keadaan kekalnya. Kalau seseorang benar-benar ingin memiliki kehidupan yang mampu melakukan kehendak Allah dan tidak mencintai dunia, makan Tuhan akan menuntunnya untuk bertemu dengan kebenaran tersebut. Tuhan akan mempertemukan dia dengan hamba-hamba Tuhan yang mengajarkan kebenaran yang murni.

Dengan mengenal kebenaran mata pengertian seseorang akan dicelikkan guna mengenali diri secara benar dengan ukuran kesucian yang Tuhan kehendaki. Dalam hal ini kita jadi mengerti mengapa Tuhan mengatakan bahwa mata adalah pelita tubuh (Mat. 6:22). Mata disini adalah pengertian yang mendalam, yang sanggup untuk memahami standar kesucian Tuhan. Kalau hanya untuk mengerti standar kesucian menurut hukum moral umum, maka tidak dibutuhkan “mata yang terang”. Pikiran biasa yang dimiliki orang pada umumnya sudah bisa mengerti hukum moral umum seperti torat bagi orang Israel. Tetapi pikiran biasa yang belum diterangi kebenaran tidak akan dapat mengerti standar kesucian Tuhan. Faktanya banyak orang Kristen hanya mengerti kebenaran sesuai dengan hukum moral umum; bukan kebenaran yang sesuai dengan kesucian Allah. Dari hal ini dapatlah dikonklusikan bahwa banyak orang Kristen yang tidak mengenal kebenaran dan Firman-Nya tidak tinggal di dalam mereka. Kalau begitu untuk apa setiap hari Minggu pergi ke gereja? Ternyata mereka ke gereja hanya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai orang beragama, ada yang ke gereja hanya karena hendak menyelesaikan persoalan pemenuhan kebutuhan jasmani. Di pihak lain gereja tidak mengajarkan kebenran dari Firman yang murni. Pengakuan dosa mereka hanya dosa-dosa moral umum belum standar kesucian Tuhan. -Solagracia-

Suara Kebenaran 67: Peta Kehidupan yang Salah (Wrong Map of Life)

Kesibukan manusia membuat mata hatinya tertutup terhadap makna hidup yang sesungguhnya, sebab telah diisi dengan berbagai kegiatan yang sebenarnya sia-sia. Pdt. Dr. Erastus Sabdono mengajak kita untuk waspada agar peta kehidupan kita tidak berubah arah.

Surat Gembala: BERBUAH DALAM KETEKUNAN

Persoalan yang paling penting dalam kehidupan orang percaya adalah apakah ketika menghadap Tuhan nanti ada buah-buah kehidupan yang dapat dipersembahkan kepada-Nya? Buah itu adalah melakukan dengan baik dan tekun segala sesuatu yang Tuhan inginkan. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak harus dipenuhi, sebab memang manusia diciptakan untuk melakukan kehendak-Nya. Jadi, buah di sini adalah perbuatan, perilaku dan sikap hati yang memberi kepuasan di hati Tuhan, sampai seseorang memiliki “hati melakukan kehendak-Nya”; memiliki nature melakukan kehendak Tuhan tanpa dipaksa atau ditekan oleh hukum. Inilah ciri dari anak Allah yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Selanjutnya, Tuhan memberikan kemampuan untuk bisa berbuah, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa beralasan mengapa tidak berbuah dalam kehidupannya.
Dalam perumpamaan mengenai Penabur benih, dikisahkan bahwa tidak semua orang yang mendengar Firman Tuhan bisa bertumbuh dan berbuah (Luk. 8:5-15). Kelompok pertama adalah gambaran dari orang-orang yang walaupun mendengar Injil tetapi tidak pernah menjadi orang percaya (Luk. 8:12). Ini disebabkan karena kuasa antikris telah mengunci mereka, sehingga mereka tidak pernah bisa menerima pribadi Tuhan Yesus Kristus. Kelompok kedua adalah gambaran mereka yang mendengar Injil, menjadi orang Kristen tetapi tidak berani membayar harga percayanya. Pada zaman itu kalau orang berani percaya kepada Tuhan Yesus akan mengalami aniaya (Luk. 8:13). Banyak orang lebih menyelamatkan nyawanya dari pada kehilangan nyawanya. Kelompok ke tiga adalah orang-orang yang tidak mengalami aniaya, tidak menolak Tuhan Yesus, tetapi masih mencintai dunia. Mereka memang berbuah tetapi buahnya tidak matang (Luk. 8:14). Kata matang dalam teks aslinya adalah telesphoreo (τελεσφορέω) yang artinya dewasa. Jadi buah yang dihasilkan tidak dewasa. Tuhan menghendaki kedewasaan. Kehendak Tuhan harus dituruti secara mutlak. Kelompok ke empat adalah orang-orang yang mendengar Firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik; mengeluarkan buah dalam ketekunan (Luk. 8:15).
Mengeluarkan buah dalam ketekunan menunjukkan bahwa untuk berbuah, seseorang harus berjuang keras. Kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dituntut untuk berbuah (Yoh. 15:1-7). Jika tidak berbuah akan dipotongnya, tetapi yang berbuah akan dibuat semakin lebat buahnya. Dalam Lukas 13:6-7 mengenai perumpamaan seorang peladang yang memiliki kebun anggur, di dalamnya terdapat pohon ara. Ketika dilihatnya pohon ara tidak berbuah, ia mengatakan bahwa percuma pohon itu tumbuh di kebunnya. Ia menghendaki agar pohon itu dikeratnya saja. Dalam perumpamaan ini Tuhan menghendaki agar setiap orang percaya berbuah yang memuaskan hati-Nya. -solagracia-

Suara Kebenaran 66: Tanda Persahabatan (Sign of Friendship)

[WITH ENGLISH SUBTITLES]
Pdt. Dr. Erastus Sabdono mengungkapkan tanda yang menunjukkan kepantasan seseorang menjadi sahabat Allah.

Surat Gembala: SEDANG DIGIRING KE MANA?

Kita akan lebih menyadari betapa tidak berkualitasnya hidup di bumi ini tatkala kita menjumpai kenyataan pahit seperti: kematian orang yang kita cintai, jatuh miskin, diperlakukan tidak adil, fitnah, menghadapi perang, huru hara, berbagai ancaman terhadap keselamatan nyawa kita dan keluarga, sakit penyakit, gagalnya karir kita atau anak-anak daan lain-lain. Dengan demikian kita menyadari bahwa kita hidup di dunia yang sudah jatuh. Selanjutnya kita merindukan suatu negeri yang tidak lagi diwarnai dengan keadaan menyakitkan itu. Namun demikian banyak orang yang masih saja berusaha memberontak kepada Tuhan dengan kesibukan mengutamakan jalan keluar dari persoalan-persoalan hidup. Hanya sibuk berusaha bagaimana membuat hidup ini menyenangkan menurut mereka, bukan mendahulukan Kerajaan Allah.

Seharusnya tatkala kita menjumpai betapa tidak berkualitasnya hidup ini, kita mengarahkan pandangan kita kepada Kerajaan Bapa. Melalui persoalan-persoalan yang berat, hidup kita diarahkan untuk “mendahulukan Kerajaan Allah”. Inilah kabar baik itu. Kabar baik yang memiliki tekanan bukan pada penyelesaian masalah-masalah fana, tetapi pada penyelesaian masalah-masalah kekal. Masalah utama hidup ini bukan soal makan minum dan kawin mengawinkan.

Masalah utama hidup bukan masalah fisik yang sementara ini, tetapi rumah abadi bagi jiwa dan roh kita. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Jangan geilsah hatimu, di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal (Yoh. 14:1). Harus dimengerti bahwa kesalahan bangsa Israel dan murid-murid Tuhan Yesus adalah mereka mau menyelesaiakan masalah-masalah fana di dunia ini, tetapi tidak memperdulikan masalah-masalah kekal, mereka mau menjadikan Tuhan Yesus Juruselamat dunia yang membawa manusia kepada Kerajaan Bapa (Mat. 12:32). Dengan sikap hati seperti tersebut di atas maka mereka tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah, tetapi apa yang dipikirkan oleh manusia (Mat. 16:23). Bila demikian bagaimana kita dapat menjadi orang Kristen yang rohani?.

Ternyata penghambatan kedewasaan rohani tersebut justru datang dari para pengkhotbah atau pembicara-pembicara Kristen yang tidak mengerti kebenaran. Mereka mengajarkan Alkitab tetapi tidak mengangkat hal-hal yang prinsip dan utama dalam hidup ini, yaitu perkara-perkara sorgawi. Mereka mengajarkan pengajaran yang disesuaikan dengan “semangat zaman”. Semangat zaman maksudnya adalah gairah hidup yang sekarang ini menguasai manusia pada umumnya. Apa yang menguasai manusia pada umumnya? Tentu masalah makan minum, kawin mengawinkan. Inilah yang dijadikan tujuan hidup manusia pada umumnya (Luk. 17:26-30). Inilah zaman dimana orang mengumpulkan guru-guru palsu yang menyenangkan telinga mereka (2Tim. 4:3). Oleh sebab itu kita harus selektif dengan apap yang kita dengar. Kita sangat membutuhkan kesehatan, makan minum, tempat tinggal dan segala fasilitas hidup ini. tetapi apa artinya pemenuhan semua itu kalau kita tidak memiliki jaminan hidup yang penuh harapan, di hari esok di balik kubur (1Ptr. 1:3-4).

Waspadalah terhadap penggiringan ini: “memikirkan apa yang dipikirkan manusia.” Barangkali Saudara berkata: Kami memperoleh dua-duanya, sorga dapat dunia juga dapat . Bisa saja, tetapi kita harus waspada: bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 19:24). Menyadari betapa tidak berkualitasnya hidup manusia yang telah jatuh dalam dosa ini, maka kita akan terpacu melakukan dua hal: Pertama, membenahi diri terus menerus agar kita berkenan kepada Tuhan. Kedua, menjadi penjala jiwa yang tidak kenal lelah. Kita akan rela mengorbankan segala hal, yaitu seluruh hidup kita ini untuk menuai jiwa-jiwa guna dibawa ke dalam Kerajaan Bapa Sorgawi. -Solagracia-

%d blogger menyukai ini: