Surat Gembala: Mesin Penggarapan Tuhan

Salah satu hal yang menghambat seseorang dalam mencari Tuhan adalah ketika ia tertumbuk pada satu kenyataan hidup yang bertolak belakang dari apa yang dipahaminya. Semestinya orang yang mencari Tuhan berkeadaan lebih makmur, berlimpah, dan lebih sukses. Baik dalam urusan karier, bisnis, keuangan , kesehatan, bahkan keharmonisan rumah tangga. Umumnya orang beranggapan jikalau seseorang mencari Tuhan, maka ia tidak akan mengalami penderitaan, aniaya, dan kesukaran hidup. Namun pada kenyataannya ia menemukan tidak ada bedanya antara orang yang bersungguh-sungguh mencari Tuhan dengan yang tidak, bahkan tidak sedikit yang berkeadaan jauh lebih buruk. Itu sebabnya ada sebagian orang berpikir, kalau begitu untuk apa berusaha hidup benar? Pergumulan ini juga dialami oleh pemazmur seperti yang tercatat di dalam kitab Mazmur 73: 3-7.

Tidak adanya perbedaan nyata antara orang yang bersungguh sungguh mencari Tuhan dengan yang tidak, membuat seseorang berpikir, kalau begitu apa gunanya bergereja? Tidak usah fanatiklah, tidak usah bersungguh-sungguhlah kalau begitu. Jika pada akhirnya kita berpikir seperti ini berarti kita melawan Tuhan. Ibarat seorang prajurit yang diperintahkan komandannya untuk berjalan sampai ke Bogor, tetapi ia hanya berjalan hanya sampai cibinong saja. Sikap seperti ini tentunya merupakan sikap seorang memberontak. Begitu pula dengan kita, Tuhan memerintahkan kita bukan sekedar berbuatbaik tetapi juga harus menjadi sempurna. Jika kita tidak mengusahakannya berarti kita melawan Tuhan.

Tuhan tidak saja mengajarkan kita untuk berbuat baik tetapi lebih dari itu, Ia mengajarkan kepada kita untuk mengerjakan apa yang sempurna. Kesempurnaan disini maksudnya adalah ketika seseorang sampai kepada moral Bapa, bukan moral umum seperti yang dipahami oleh kebanyakan orang. Moral Bapa yang dimaksud adalah melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Bapa. Seperti yang telah dikerjakan oleh Guru Besar kita Yang Mulia Tuhan Yesus Kristus.

Apabila kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan maka tidaklah secara otomatis memiliki moral Bapa. Oleh karena itu Tuhan memberikan pendidikan kepada kita melalui sekolah kehidupan selama kita di bumi ini. Pendidikan yang diberikan tentu saja tidak menyenangkan daging, sebab di dalam diri kita pasti terdapat banyak batu, kanker, tumor yang harus diangkat dan dibersihkan, yaitu segala hal negatif yang ada dalam diri kita. Selain itu agar segala kemuliaan yang kita miliki di bumi ini menjadi luruh karena tidak mempunyai nilai kekal. Tuhan bermaksud menggantikannya dengan kemuliaan yang bernilai kekal.
Memang didikan yang kita terima seolah-olah menempatkan kita seperti seorang yang terkena tulah atau hukuman. Tetapi perlu kita pahami kata tulah disini artinya adalah: teguran dan koreksi, bukan tulah karena Allah sudah tidak peduli lagi kepada kita (Mzm. 73:14). Justru keadaan ini sangat menguntungkan bagi kita, sebab melalui cara inilah Tuhan bermaksud hendak memuliakan kita kelak. Seperti ada kata-kata bijak yang mengatakan “no pain no gain”.

Inilah cara Allah menyatakan cinta-Nya kepada kita. Ibarat orang tua yang baik mereka pasti memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Pendidikan yang baik kadang-kadang justru membawa anak-anaknya ke dalam kesulitan. Seperti menempatkan di sekolah yang menegakkan disiplin dan segudang tugas-tugas sekolah. Belum lagi dengan daftar tugas harian di rumah yang juga harus dikerjakan setiap hari. Hal ini bisa saja disalah pahami tetapi bagi anak-anak yang baik akan memahami bahwa inilah cara orang tua mengungkapkan rasa sayangnya.

Sebagaimana orang tua mendidik anak-anaknya, maka Allah juga mendidik setiap orang yang diakui-Nya sebagai anak-Nya. Allah kita adalah Allah yang mendidik dan menyesah anak-Nya berulang-ulang sebagai teguran dan koreksi (Why. 3:19; Ibr. 12:6-9). Dengan demikian kita harus memandang setiap kesulitan dan persoalan hidup secara benar, bahwa semua hal itu bukanlah kutuk kecelakaan melainkan mesin penggarapan Tuhan. Oleh karena itu, Jadilah seperti kawanan domba dungu dihadapan Tuhan, ikuti saja tuntunan-Nya dan biarkan Tuhan mencabuti dosa-dosa kita (Mzm. 73:22-23). Sampai akhirnya kita tidak lagi membandingkan keadaan kita dengan orang-orang fasik yang bengkok hati. Apapun yang terjadi dan yang hilang dalam hidup kita bukan masalah asal Tuhan tetap menjadi milik kita (Mzm. 73:26). -Solagracia-

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 3 Februari 2014, in Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: