Surat Gembala: In Respect of On Holiday

Selama ini telah terjadi kesalahan fatal dalam merayakan hari Natal, sebab ternyata lebih banyak orang Kristen yang merayakan Natal sama seperti orang beragama lainnya merayakan hari raya atau hari “suci” mereka. Banyak dampak negatif dari cara merayakan hari Natal ini. Dalam Natal terjadi begitu banyak penyimpangan dan manipulasi-manipulasi. Dalam hal ini kita bisa mengerti mengapa ada pihak-pihak tertentu yang mengecam perayaan Natal. Mereka berpendapat bahwa Natal adalah produk setan atau budaya kafir yang bisa mencemari kemurnian iman Kristen. Sikap mereka ini sebagai kritikan dan kecaman yang berguna bagi orang Kristen. Hal ini akan membuat kita lebih berhati-hati dan bijaksana dalam merayakan Natal. Kita harus merayakan Natal dengan bijaksana dan benar. Sehingga kita tetap berkenan dihadapan Tuhan dan menyenangkan hati-Nya.

Dalam agama-agama tertentu berlaku adanya “hari suci dan bulan suci”. Biasanya hal ini berhubungan dengan sejarah tokoh-tokoh agama mereka. Sedang dalam kamus kehidupan orang percaya tidak ada hal-hal tersebut. Bila kita menjadikan satu hari lebih bernilai dari yang lain, maka kita telah terjebak dalam legalisme dan formalitas agamawi yang menutup mata kita terhadap kebenaran. Firman Tuhan menyatakan bahwa, hendaknya kita tidak biarkan orang menghukum kita mengenai makan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari sabat (Kol. 2:15-17). Kalimat “mengenai hari raya” dalam Kolose 2:16 terjemahan dari “en merei hiortees” (in respect of on holiday). Kata menghukum dari kata “krino” artinya menghakimi, menilai, mengawasi bila salah maka akan dihukum. Pada hal mengenai hari raya, tidak ada yang perlu dinilai atau diawasi. Kalau hal ini terjadi maka hal makanan dan hari raya menjadi belenggu. Jadi maksud kalimat “janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu” adalah agar orang Kristen tidak terikat dalam menghormati hari raya seperti yang banyak terjadi dalam banyak agama. Hari raya menjadi ikatan yang memenjarakan kehidupan, mereka harus merayakannya dengan syarat-syarat tertentu. Tidak jarang pada hari raya akhirnya pantangan-pantangan yang harus ditaati secara ketat atau syarat-syarat yang harus dipenuhi. Mereka harus memenuhi sebab itulah upaya untuk menghormati dan menyenangkan allah atau dewa mereka. Jangan sampai kita terikat sama seperti agama-agama tersebut, seperti misalnya harus ada baju baru, pohon terang, pesta dan lain sebagainya. Cara kita menghormati Tuhan Yesus Kristus tentu bukan dengan cara demikian. -Solagracia-

Cara yang benar untuk menghormati Tuhan Yesus Kristus bukanlah dengan hanya merayakan Natal saja, tetapi terutama hidup seperti Dia hidup

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 23 Desember 2013, in Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: