Surat Gembala: Jangan Menjadikan Tuhan Pendusta

Firman Tuhan mengatakan: jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita (1Yoh. 1:10). Kalimat ini sekilas sederhana tapi sebenarnya pengertiannya tidak mudah dipahami. Mengapa kalau seseorang mengaku tidak berdosa berarti membuat Tuhan menjadi pendusta? Apakah manusia bisa membuat Tuhan menjadi pendusta? Maksud ayat ini adalah kalau orang percaya tidak menyadari dan tidak mengakui keberadaanya sebagai orang yang tidak mencapai standar kesucian Allah. Jika demikian maka, kehidupan orang percaya tidak berbeda dengan orang yang tidak percaya, bahkan kenyataanya ada yang lebih jahat. Keadaan hidup orang percaya ini menimbulkan pertanyaan: Untuk apa Tuhan Yesus datang ke dunia? Kalau kedatangan Tuhan Yesus membuat ajaran atau etika baru atau lebih baik dari sebelumnya (torat) mengapa orang Kristen yang percaya kepada-Nya tidak berbeda dengan orang lain, bahkan lebih jahat? Bagaimana bisa memberitakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus? Dengan keadaan orang percaya yang tidak kudus maka membuat Tuhan menjadi pendusta, artinya memberikan cap bahwa Dia penipu. Sebagai akibatnya keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus menjadi tidak berharga. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa orang percaya harus memiliki hidup keberagamaan atau kebenaran (Yun dikiosune) yang lebih dari tokoh-tokoh agama sekalipun. Hanya kalau orang percaya memiliki kualitas moral yang luar biasa menakjubkan, maka orang percaya bisa menjadi terang dan garam dunia dan bisa menjadi saksi bagi Kristus.

Sayang sekali di banyak komunitas Kristen, secara terang-terangan atau terselubung berkompetisi yang dikorbankan terhadap kepercayaan lain adalah adu kuasa, seakan-akan kuasa Tuhan mau dipromosikan sebagai bukti dari keberadaan-Nya atau keunggulan-Nya. Berarti kuasa Tuhan dikampanyekan secara tidak proporsional. Untuk membuktikan bahwa TUhan Yesus sebagai juruselamat, Allah yang benar dalam kehidupan anak-anak-Nya atau kualitas hidup orang percaya bukan dari segi lahiriahnya. Sebab kalau dari segi lahiriahnya, orang tidak percaya banyak yang sukses dalam berbagai bidang, mereka pun bisa menunjukkan keajaiban allah yang mereka yakini sebagai allah yang benar. Kalau orang percaya tidak diarahkan untuk mengenali keberanan guna menemukan standar kesucian Tuhan yang benar, maka orang percaya fokusnya diarahkan kepada hal lain, dalam hal ini terjadi penyesatan sehingga maksud keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus tidak terwujud. Dengan cara ini maka banyak orang Kristen gagal menjadi corpus delicti. (Solagracia)

Dengan kehidupan orang percaya yang tidak kudus, maka membuat TUhan menjadi pendusta artinya memberikan stempel bahwa Dia penipu.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 2 Desember 2013, in Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: