Surat Gembala: Social Withdrawal

Berdasarkan penelitian dan observasi yang diakui sebagai fakta empiris, bahwa penderita paranoid biasanya menarik diri dari pergaulan (social withdrawal). Hal itu terjadi sebab mereka merasa bahwa lingkungannya termasuk teman-temannya mengancam dirinya, bahkan hal-hal yang mestinya tidak merupakan ancaman baginya menjadi suatu ancaman. Itulah sebabnya mereka berusaha sebisa-bisanya menjauhi app yang mereka pandang sebagai sumber ancaman. Kondisi ini membuat lingkup persahabatannya menjadi sempit.

Dalam kehidupan orang percaya yang normal terdapat nuansa seperti itu. Orang percaya yang menyadari bahwa pergaulannya bisa merusak kebiasaan yang baik, akan menarik diri dari lingkungannya. Memang Firman Tuhan juga mengatakan bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (1Kor. 15:33). Orang percaya memang harus meninggalkan pergaulan yang tidak membawanya kepada kebenaran. Tentu hal ini bukan tanpa alasan, seperti orang yang mengalami gangguan jiwa. Ia meninggalkan pergulan yang tidak membawanya kepada kebenaran karena ia menghindari terjadinya transfer spirit. Transfer spirit ini bukan terjadi seakan-akan ada “roh” yang menular melalui mistik, tetapi sebuah percakapan yang mempengaruhi cara berpikir dan suasana jiwa. Berkenaan dengan hal ini kita bisa memahami mengapa Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk menumpas bangsa Kanaan ketika mereka mulai menduduki negri itu. Tuhan tidak menghendaki pola kehidupan bangsa yang tidak mengenal Allah mempengaruhi kehidupan umat pilihan. Apalagi kawin campur, sangat ditentang keras. Paralel dengan hal ini berlaku pula bagi umat Perjanjian Baru pernyataan tegas Firman Tuhan: sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkan dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka aku akan menerima kamu. Dan aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikian firman Tuhan, Yang Mahakuasa (2Kor. 6:17-18). Orang percaya harus bersedia meninggalkan persahabatan dan keakraban dengan orang-orang yang tidak berhasrat menuju langit baru dan bumi yang baru. Pertemuan-pertemuan yang bisa menggalang persahabatan seperti reuni, arisan, terlibat dalam berbagai klub-klub dan kegiatan lainnya yang memberi pengaruh tidak rohani harus dijauhi. Pertemanan masih bisa dilakukan tetapi persahabatan yang sampai membagi hidup dan jiwa harus dihindari. Sebagai akibatnya memang ruang lingkup persahabatan akan semakin terbatas, tetapi ruang lingkup pertemuan harus terus diperluas karena orang percaya harus menjadi saksi seluas mungkin. (Solagracia)

Orang percaya yang menyadari pergaulannya bisa merusak kebiasaan yang baik akan menarik diri dari lingkungannya.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 25 November 2013, in Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: