Surat Gembala: Berjuang Memikul Salib

Memikul salib bukan sesuatu yang enak atau mudah dilakukan. Mematikan keinginan daging dimana ada nature dosa yang paling sulit dalam kehidupan orang percaya. Untuk manusia yang masih muda usia jasmani (orang muda) dan muda usia rohani (mereka yang belum lama ikut Tuhan atau yang lama ikut Tuhan tetapi tidak bertumbuh), memikul salib adalah bagian hidup yang hampir mustahil dilakukan. Banyak mereka yang menghindarinya bahkan berusaha menjauh. Mereka merasa memiliki hak untuk mengatur hidupnya sesuai dengan selera dan keinginannya sendiri. Salib bagi mereka adalah ancaman kebahagiaan atau dipandangnya sebagai pola hidup tidak normal. Tetapi bagi yang mengerti kebenaran, salib adalah jalan kehidupan. Salib mengandung kekayaan yang tidak terhingga. Salib adalah alat transaksi dalam menerima kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Tidak ada kehidupan dan kemuliaan tanpa kematian. Tidak ada ke-Kristenan sejati tanpa salib. Kehidupan ke-Kristenan tanpa salib adalah kepalusan. Inilah ke-Kristenan produk iblis yang menipu banyak orang, tetapi laku keras dipasaran.

Rasanya tidak ada orang yang selalu berhasil dalam proses menyangkal diri dan memikul salib. Kadang lebih sering seseorang meletakkan salibnya dan menikmati keinginan daging, dosa, dan dunia dengan segala keindahannya sepeti anak-anak dunia menikmatinya. Pada waktu itu proses penyaliban daging terhambat bahkan berhenti. Bagi mereka yang memiliki komitmen tulus untuk mengasihi, agar ditegor Tuhan dengan pukulan agar kembali ke taman “Getsemani dan via Dolorosa”nya. Tetapi mereka yang tidak memiliki komitmen mengasihi Tuhan dibiarkan sampai kematian menjemput mereka dan mereka tidak pernah memikul salib. Kalau Tuhan memberikan pukulan atau dengan berbagai cara mengingatkan kita untuk kembali ke jalan salib. Kita tidak boleh mengabaikannya, sebab kalau tidak memperdulikan maka tidak akan ada peringatan lagi. Ini berarti kerugian yang tiada tara. Kesempatan memikul salib berlalu berarti kesempatan untuk menerima keselamatan juga hilang. Salib merupakan cara Allah mengajarkan bagaimana mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Bagaimana seseorang memiliki pikiran dan perasaan Kristus, mengosongkan diri dan taat sampai mati di kayu salib kalau tidak memiliki pengalaman yang sama dengan Dia (Flp. 2:5-7). Kalau Tuhan Yesus mengalami penyaliban secara fisik, orang percaya cukup dari natur daging dosa tanpa penderitaan fisik (Ibr. 12:2-4). Ke-Kristenan tidak boleh menjadi sekedar sambilan dalam kehidupan ini, ke-Kristenan harus menjadi dan mengisi seluruh kehidupan kita. Kita harus rela memiliki kehidupan yang disita untuk belajar memikul salib. -solagracia-

Kehidupan ke-Kristenan tanpa salib adalah kepalsuan, produk iblis yang menipu banyak orang, tetapi laku keras dipasaran.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 11 November 2013, in Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: