Surat Gembala: Menyerahkan Wilayah Hidup

Proses menyangkal diri dan memikul salib adalah proses memperluas wilayah hidup untuk dimiliki dan dikuasai sepenuhnya oleh Tuhan Yesus Kristus sebagai Penebusnya. Seseorang yang menolak memasuki proses menyangkal diri dan penyaliban berarti tidak bersedia dimiliki oleh Tuhan (Gal. 5:24-25). Itu berarti hidupnya dimiliki oleh kuasa kegelapan yang akhirnya tidak bisa di klaim sebagai milik Allah. Inilah orang-orang yang menjual diri kepada dunia atau kepada setan; orang-orang yang kawin dengan dunia sampai di stempel/ cap iblis. Orang-orang seperti ini disebutkan oleh Alkitab sebagai pejinah (Yun. Moikhalides), orang-orang yang tidak setia, yang menjadikan dirinya sebagai musuh Allah (Yak. 4:4). Paulus menangisi orang-orang Kristen seperti ini yang ditulis dalam suratnya kepada jemaat: Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus (Fil. 3:18). Jangan anda berpikir bahwa anda sahabat Allah padahal anda menjadikan diri sebagai musuh-Nya. Betapa mengerikan posisi tersebut. Tulisan kepada jemaat Filipi tersebut ditujukan bukan kepada orang kafir tetapi kepada orang Kristen yang tidak mau mendengarkan kebenaran Tuhan. Oleh karenanya Paulus menganjurkan mereka untuk meneladani kehidupannya, seperti ia telah meneladani kehidupan Kristus (Gal. 2:19-20). Jika seseorang tidak meneladani kehidupan Tuhan Yesus, berarti ia menjadikan dirinya musuh salib.

Kalau sekarang Tuhan masih memberi kesempatan seorang Kristen untuk bertobat, menyangkal diri dan memikul salibnya berarti masih ada peluang untuk itu. Tetapi kalau seluruh wilayah hidupnya belum diserahkan kepada Tuhan atau dalam stadium tertentu sudah banyak dikuasai oleh diri sendiri, ini sama dengan mempersembahkan hidupnya bagi iblis. Ia tidak pernah dimiliki oleh Allah selamanya. Ketika berhadapan dengan Tuhan nanti, mereka akan mendapat perlakuan seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 19:27, “Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku”. Tuhan Yesus akan bersikap tegas terhadap mereka yang tidak tunduk kepada-Nya, yaitu yang tidak memberikan wilayah hidupnya bagi Tuhan. Mereka seperti penguasa yang menolak memberi upeti kepada raja yang menaklukannya. Ketika seorang menyangkal diri dan memikul salibnya, ia belajar memberikan upeti kepada Tuhan, dari jumlah kecil sampai seluruh hidupnya tanpa batas. Jika demikian maka barulah ia bisa diklaim sebagai milik Tuhan. Sampai tingkat ini seseorang tidak bisa dimiliki lagi oleh kuasa manapun.

Kalau seluruh wilayah hidup belum diserahkan kepada Tuhan, ini sama dengan mempersembahkan hidup bagi iblis

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 4 November 2013, in Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: