SUrat Gembala: Merepotkan Tuhan

Saat kita berurusan dengan Tuhan, seharusnya kita sudah tidak lagi mempermasalahkan perihal kebutuhan-kebutuhan jasmani kita. Seharusnya kemurnian hati kita, pendewasaan hidup, serta bagaimana kita dapat mencapai kesempurnaan hidup kita di hadapan-Nya, permasalahan-permasalahan itulah yang seharusnya kita perkarakan dengan Tuhan. Semua itu terjadi karena memang dunia ini telah membiasakan diri kita kepada semua kebiasaan hidup yang demikian. Semangat zaman ini telah membawa kita lebih memperdulikan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fana kita.

Oleh sebab itu berkomitmen mengasihi Tuhan adalah awal untuk merubah fokus perhatian kita. Tidak perlu menunggu waktunya untuk berubah, karena perjuangan itu harus berangkat dari diri sendiri, sejak awal, jangan menunggu waktu dari Tuhan, Tuhan sudah memberikan waktunya di dalam hidup kita, tinggal kita seharusnya yang beranjak, kita yang harus memulai perubahan itu. Jika kita masih memikirkan kebutuhan hidup kita, maka komitmen untuk mencintai Tuhan tidak akan mungkin tercapai. Sebab jika pikiran kita masih disibukkan dengan urusan fana tersebut, maka pikiran kita, pasti akan terpecah, terbagi-bagi untuk hal yang tidak signifikan bagi perubahan hidup kita. Akhirnya justru orang-orang semacam inilah jenis orang-orang yang merepotkan Tuhan.

Kalau kita harus memenuhi semua kebutuhan hidup kita, seharusnya kita tidak usah meragukan kemampuan Tuhan memelihara kita, karena hal itu adalah masalah ringan, kecil dan gampang bagi Dia. Laut koslom, Sungai Yordan, Tuhan dapat belah, Firaun dan tentaranya saja Tuhan tenggelamkan dengan kuasa-Nya, lima ribu orang diber-Nya makan melalui mujizat-Nya. Jadi jika hanya kebutuhan hidup kita, Ia pasti bertanggung jawab memelihara kita. Permasalahan besarnya adalah Tuhan lebih ingin membereskan karakter kita, ketidakdewasaan, dan kebebalan hati kita. Jika kita menjadi Kristen namun tidak menangkap hal ini, maka sebearnya sia-sialah kekristenan kita. Justru di sinilah Tuhan begitu direpotkan dengan kebebalan-kebebalan hati kita yang tidak kunjung berubah itu.

Memang kita mau berkenan kepada Tuhan, namun dengan harga yang murah. Mau hidup nyaman dan suka-suka kita di dunia ini, tetapi kalau mati masuk sorga. Sebuah pemikiran yang konyol. Ibarat kata sama seperti Bangsa Israel yang memang sebenarnya mereka mau mencapai Tanah Kanaan, namun mereka berharap semua itu dilakukan dengan cara yang mudah. Tidak perlu melewati Laut Koslom, berperang dengan bangsa-bangsa kafir, melewati Sungai Yordan, kehabisan makanan, dan lain sebagainya. Padahal semuanya itu demi mempersiapkan seluruh bangsa itu untuk siap meduduki Tanah Kanaan, dan mampu untuk mandiri mengelola tanah itu.

Begitu pulalah kita yang merasa kebutuhan jasmani dari hidup kita jauh lebih penting dibandingkan dengan rencana Tuhan mendewasakan kita. Maka lambatlah pertumbuhan iman yang kita miliki. Padahal setiap proses hidup yang kita alami adalah dalam rangka menyiapkan kita, mendewasakan kita, hingga akhirnya kita siap untuk memerintah bersama-nya di Langit baru dan Bumi yang Baru. Tidak lagi merepotkan Tuhan, namun berguna bagi Tuhan

Permasalahan besarnya adalah Tuhan lebih ingin membereskan karakter kita, ketidakdewasaan, dan kebebalan hati kita. Jika kita menjadi Kristen namun tidak menangkap hal ini, maka sebenarnya sia-sialah kekristenan kita.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 16 Oktober 2013, in Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: