Surat Gembala: Menjadi Gladiatornya Tuhan

Salah satu kualitas prima yang membuat gagalnya orang percaya menjadi seseorang yang dijagokan Allah adalah karena adanya strata dalam kekristenan. Misalnya golongan awam yang didominasi oleh jemaat, dan golongan imam yang didominasi oleh para pendeta. Padahal setiap orang percaya adalah imam, seperti yang tercatat di dalam 1 Petrus 2:5.

Sebelum Tuhan Yesus tidak ada jago lain yang tampil di ring untuk mengalahkan setan. Kalau kita perhatikan kisah pembaptisan Tuhan Yesus oleh Yohanes Pembaptis, maka kita dapat menemunkan bahwa keberkenanan Tuhan Yesus di hadapan Bapa bukanlah akibat dari penyerahan diri-Nya untuk dibaptis. Tetapi melalui suatu proses durasi waktu yang panjang, yaitu tiga puluh tahun yang dipergunakan Bapa untuk mempersiapkan Tuhan Yesus menjadi seorang gladiator. Dimana kemudian pertarungan wajib Tuhan Yesus bisa diselesaikannya sampai mati di kayu salib (Fil. 2:8-9). Pergumulan Tuhan dalam doa-Nya di taman Getsemani menjadi bukti keseriusannya dalam berperang. Doa yang dinaikan-Nya kepada Bapa didengar bukan karena doa-Nya, melainkan karena kesalehan dan ketaatan-Nya (Ibr. 5:7-10). Sebagaimana Kristus bertarung, maka setiap orang percaya juga wajib bertarung. Sebab kemenangan orang Kristen bukanlah hadiah tetapi perjuangan. Dengan demikian kalimat kamu lebih dari pemenang bukanlah anugerah tetapi perjuangan yang harus dilalui oleh setiap individu. Kemenangan-Nya juga bukan berarti membuat kita dompleng kemenangan-Nya. Kemenangan Kristus justru membuka peluang adanya ring dan ronde berikutnya. Sebab setelah Kristus menang sekarang giliran kita meraih kemenangan. Allah mencari orang-orang yang bisa dijagokan-Nya untuk masuk ring pertarungan itu. Jadi anugerah membuat kita masuk kepada kesulitan untuk dijagokan Tuhan.

Sejak seseorang menjadi jago-Nya Tuhan maka kualifikasi untuk menjadi gladiator-Nya dimulai. Tuhan mengizinkan adanya impuls yang datang untuk merangsang mata duitan kita, nafsu seks kita, amarah kita, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk melatih kita agar menjadi sempurna seperti Kristus yang taat untuk membuktikan kesalahan setan (korpus delikti). Dengan demikian kita harus rela masuk dalam perjuangan untuk menjadi gladiator-Nya. Sepenuhnya hidup ini kita serahkan kepada Tuhan untuk melayani Tuhan. Seorang tuan sudah membeli kita menjadi budaknya dan menjadikan kita gladiatornya. Kita harus maju terus sampai pada titik tertentu kita dijadikan jago-Nya. Seperti seseorang gladiator yang tidak menyayangkan nyawanya, menang atau mati. Seperti Bapa menjagokan Tuhan Yesus begitu juga Tuhan Yesus menjagokan kita. Iblis tidak takut dengan orang yang bergereja, sebab ia harus menjadikan seorang yang rajin ke gereja untuk menjatuhkan orang lain. Hal yang paling di takuti iblis adalah bila seseorang menjadi korpus delikti. Dengan demikian setiap orang percaya harus bersentuhan terus dengan Tuhan sampai jumlah korpus deliktinya genap, demi memenuhi rencana Bapa untuk menghentikan sepak terjang Setan serta para pengikutnya melalui kedatangan Tuhan Yesus untuk kali yang kedua.

Seperti seorang gladiator yang tidak menyayangkan nyawanya, menang atau mati. Seperti Bapa menjagokan Tuhan Yesus begitu juga Tuhan Yesus menjagokan kita.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 7 Oktober 2013, in Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: