Surat Gembala: Menciptakan Waktu Yang Baik

Mengapa banyak orang Kristen kurang tampil sebagai pemberita kebenaran? Sebab mereka sendiri tidak menghayati realitas kekekalan yang dahsyat. Mereka masih menganggap bahwa kekekalan bukan sesuatu yang menggetarkan jiwa. Mata hati mereka masih tertuju kepada perkara-perkara dunia hari ini. Mereka menganggap bahwa kebahagiaan hidup di dunia ini adalah sesuatu yang bernilai tinggi. Mereka masih menghargai kemegahan hidup sebagai suatu nilai yang patut dibanggakan. Sebagian besar orang Kristen masih menyanjung kekayaan. Hal ini nampak cara mereka memperlakukan orang kaya. Biasanya orang Kristen seperti ini masih suka “menjilat” orang kaya. Hal ini dikemukakan bukan berarti kita boleh tidak hormat kepada orang kaya. Orang kaya harus dilayani dengan cara yang berbeda tetapi dasarnya bukan karena menghargai kekayaannya tetapi memaklumi keberadaannya atau pribadinya yang bermasalah. Kalau orang Kristen yang masih memuja kekayaan tersebut adalah orang yang “the have“, biasanya mereka menggunakan kekayaan untuk membangun nilai diri. Bagaimana dirinya menjadi terhormat dengan berbagai assesoris yang bisa dikenakan dan ditampilkan didepan sesamanya. Ia tidak memikirkan keselamatan jiwa orang lain sebab ia tidak memikirkan keselamatannya sendiri. Biasanya mereka tenggelam dengan gemerlap kekayaan yang dimilikinya. Mereka bisa termasuk orang yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus “lebih sukar” masuk Sorga, daripada seekor unta masuk lobang jarum. Mereka tidak sadar kekuatan harta yang dimilikinya adalah “menipu”, sebab ketika mata tertutup untuk selamanya maka kekayaan dunia ini tidak mampu menopang sama sekali. Pada waktu itu penyesalan terbesar apapun tidak bisa diekspresikan kecuali dengan ratap tangis dan kertak gigi. Betapa mengerikan.
Kalau saudara termasuk kelompok ini saudara harus bertobat sebelum kesempatan bertobat di tutup. Kesempatan bertobat ditutup bila seseorang sudah mengeraskan hati sampai pada level tidak bisa diubah atau sudah menutup mata. Harusnya saudara tidak menunggu waktu yang baik untuk berubah sebab waktu yang baik tergantung saudara sendiri. “Hari ini” adalah waktu yang baik untuk betobat yang sesuai dengan Firman Tuhan: Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun (Ibr. 3:7-8).

Penundaan merupakan langkah-langkah seseorang mulai mengeraskan hati. Peringatan seperti ini sangat mahal. Jika diabaikan maka saudara tidak pernah memiliki kesempatan yang sama. Oleh sebab saat inilah saatnya untuk berubah.

Hendaknya saudara tidak menunggu waktu yang baik untuk berubah sebab waktu yang baik tergantung saudara sendiri.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 30 September 2013, in Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: