Surat Gembala: Melihat Allah

Bagaimana seorang Kristen dapat membuktikan bahwa Allah itu ada, dan khususnya bagi orang Kristen membuktikan (tentu bagi dirinya sendiri terlebih dahulu) bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Anak Allah yang menyelamatkan manusia? Kalau hanya menunjukkan Alkitab sebagai bukti, maka muncul pertanyaan: Bagaimana kita tahu bahwa Alkitab itu benar. Sebab masing-masing agama juga akan mengklaim bahwa Allah itu ada dan ajaran merekalah yang paling benar berdasarkan kitab suci mereka, yang tentu saja mereka percaya dan akuk sebagai wahyu Allah. Harus dilihat dengan jujur bahwa banyak agama bisa eksis ribuan-ribuan tahun dengan jumlah anggota yang tetap besar. Tentu saja para pengikutnya memiliki pengalaman keberagaman atau apa pun namanya yang membuat mereka tetap ada di dalam keyakinan. Mereka juga memiliki pembuktian bahwa Allah dan ajaran mereka tidak benar. Tidak sedikit di antara mereka dapat mendemonstrasikan secara nyata kekuatan Allah yang mereka percayai. Itulah sebabnya mereka tetap setia kepada agama mereka dan meyakini bahwa Allah mereka nyata dan benar.

Bagaimana dengan orang Kristen? Faktanya banyak orang Kristen yang tidak mengalami Tuhan secara pribadi sehingga tidak memiliki kesaksian dalam batin mereka mengenai Allah yang benar. Pada umumnya orang-orang Kristen seperti ini bukan saja pasti tidak setia kepada Tuhan, tetapi juga pasti belum berkeadaan sebagai anak-anak Tuhan yang layak bagi Dia. Keberagamannya seperti “pepesan kosong”. Mereka tidak dapat menjadi saksi bagi Tuhan. Kehidupan mereka jauh dari menjadi corpus delicty. Tentu saja mereka bukan orang-orang yang dipercayai oleh Allah. Pertanyaan di atas ini menantang kita untuk bergumul dengan serius guna sungguh-sungguh mengalami Tuhan dan membuktikan kebenaran-Nya secara konkrit. Seperti pernyataan Ayub: Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang engkau (Ayb. 42:5). Kalimat “mataku sendiri memandang Engkau”, kehendak manunjuk pengalaman hidup Ayub membuktikan keberadaan Allah yang disembahnya. Kata melihat dalam teks aslinya adalah raah. Kata ini selain berarti meilhat juga berarti mempertimbangkan (consider) atau melihat dengan teliti (get to know). Dalam terjemahan bahasa Yunani (septeuaginta; Alkitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) kata raah dalam teks ini diterjemahkan heoraken dari akar kata horao. Biasanya kata ini dipahami sebagai melihat dengan hati, juga dipahami sebagai memiliki pengalaman atau memahami secara mendalam mengenai sesuatu yang dilihatnya.

Orang-orang Kristen yang tidak mengalami Tuhan secara pribadi pasti belum berkeadaan sebagai anak-anak Tuhan yang layak bagi Dia.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 23 September 2013, in Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: