Surat Gembala: Delusion of Grandeur

Berdasarkan penelitian dan observasi yang diakui sebagai fakta empiris, bahwa penderita paranoid memiliki keyakinan palsu, mereka merasa memiliki suatu kelebihan atau menjadi orang penting (delusion of grandeur). Hal ini akan terekspresi secara permanen dalam berbagai tindakan yang mereka lakukan. Diagnosis atas orang yang berkewajiban seperti ini final, kalau perilaku tersebut sudah permanen. Mereka dianggap sudah sakit jiwa. Orang percaya pun bisa dipandang orang di sekitarnya demikian, sebab orang percaya merasa diri anak-anak Allah yang akan dimuliakan bersama Tuhan Yesus. Orang percaya adalah anggota kerajaan Allah, yang adalah bangsawan-bangsawan Sorgawi. Keyakinan ini pasti akan membawa dampak yang sangat nyata dalam seluruh filosofi hidup dan perilakunya. Dengan keyakinan yang sangat kuat yang terekspresi dalam seluruh tindakan dan perilakunya, orang percaya yang normal akan dianggap sebagai paranoid.

Banyak orang Kristen juga memiliki keyakinan bahwa dirinya adalah anak Allah yang akan dimuliakan bersama dengan Kristus, tetapi itu hanya keyakinan dalam pikiran atau semacam pengaminan akali, bukan sesuatu yang mencengkeram hidupnya sehingga belum terekspresi secara permanen menjadi perilaku yang kelihatan. Keyakinan seperti ini hanya diucapkan dan dilantunkan dalam nyanyian, tetapi sebenarnya mereka belum sungguh-sungguh masuk wilayah “apa yang dipercayainya” tersebut. Kalau seorang mengaku anak Allah ia harus seperti Bapanya, dan harus ada usaha serius untuk memiliki karakter seperti Bapa. Dalam usaha keras dan memang berat, seorang Kristen akan menghayati kehidupan sebagai anak-anak Allah, jika tidak maka tidak ada penghayatan yang benar. Bagaimana seseorang menhayati diri sebagai anak-anak Allah kalau tidak berusaha dengan sekuat tenaga menjadi seperti Bapa? (Mat 5:48). Mental orang-orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh menjadi anak Allah pasti mencintai dunia, baginya dunia adalah pelabuhan hidup. Tanpa disadari, baginya Sorga hanyalah dianggap sebagai “tempat pembuangan” kalau sudah mati, ya mau tidak mau harus masuk kesana. Orang-orang Kristen seperti ini dalam kehidupan setiap hari tidak berbeda dengan anak-anak dunia. Berarti mereka belum selamat. Mereka masih normal bagi dunia, belum memiliki logika terbalik sebagaimana mestinya anak Tuhan yang normal di mata Allah. Bagi anak Tuhan yang dianggap sebagai paranoid tidak perlu takut, malu dan gelisah. Tuhan Yesus menyatakan bahwa mereka melihat perbuatan kita dan melihat sorga (Mat. 5:14). Inilah kesaksian hidup.

Dengan keyakinan yang sangat kuat yang terekspresi dalam seluruh perilakunya orang percaya yang normal akan dianggap sebagai paranoid.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 9 September 2013, in Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: