Surat Gembala: Jangan Menjadi Sombong

Dalam 1 Timotius 6:17, memuat peringatan yang ditujukan kepada orang-orang kaya di sepanjang jaman dan di segala tempat. Rupanya orang kaya sejak jaman dahulu sampai Tuhan Yesus datang memiliki kecenderungan yang sama. Kecenderungan tersebut merupakan bahaya yang harus diwaspadai oleh semua orang di sepanjang jaman. Bahaya tersebut bisa menyeret manusia kepada kebinasaan atau maut kekal. Hal ini sangat penting untuk diketahui orang-orang di jaman sekarang ini yang pada umumnya terjebak pada semangat materialisme atau gairah ingin kaya. Sementara anda membaca tulisan ini, mungkin andalah orangnya yang harus bertobat, sebab anda memang masih memiliki hasrat ingin kaya. Hasrat yang selama ini dianggap wajar dan normal serta tidak melanggar asusila.

Sejatinya kekayaan dapat membuat seseorang menjadi sombong atau tinggi hati. Dalam bahasa Indonesia kata tinggi hati, dalam teks aslinya adalah hupelophronein. Dalam bahasa Inggris ada yang menterjemahkan “highminded” juga “proud” (kebanggaan atau keangkuhan). Inilah yang menyebabkan seseorang merasa lebih berharga atau lebih mulia dari yang lain. Orang-orang seperti ini selalu mau tampil di depan orang dengan sikap tinggi hati karena merasa bahwa ia layak untuk dihargai karena kekayaannya. Ciri dari orang-orang seperti ini adalah berusaha menunjukkan kekayaannya baik melalui perhiasan, rumah, kendaraan, dan relasinya dengan pejabat-pejabat tinggi (biasanya pejabat tinggi memiliki kedekatan dengan mereka). Sampai pada taraf tertentu seseorang yang angkuh karena kekayaan ini, tidak akan pernah bersikap rendah hati di hadapan Tuhan. Ini bahaya sekali sebab Allah menentang orang yang sombong (1Ptr. 5:5). Kata menentang dalam teks bahasa Yunani terjemahan dari “antassetai”. Kata kerjanya adalah antitasso yang bisa berarti menentang (offer resitance) atau melawan atau bertentangan (oppose). Kalau sampai Allah yang melawan seseorang siapa yang dapat melindungi atau membelanya.

Demikian faktanya, banyak orang kaya yang karena kekayaannya menjadi lupa diri, lupa siapa dia dahulu, dan siapa yang membuat dirinya menjadi kaya. Kekayaan telah membuat dirinya merasa lebih dinilai dan mulia dari orang lain. Bahkan konyolnya kekayaan dapat membuat seseorang lebih bernilai daripada Tuhan sendiri. Bisa dimengerti kalau mereka menuntut penghormatan dari sesamanya, padahal hanya Tuhan yang layak dihormati. Tanpa sadar ia mau menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Di sini terbukti bahwa berkat (berkat jasmani) bisa membawa maut dalam kehidupan seseorang.

Sampai pada taraf tertentu seseorang yang angkuh karena kekayaan, tidak akan pernah dapat bersikap rendah hati dihadapan Tuhan.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 2 September 2013, in Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: