Dimanakah Posisi Kita Hari Ini

Dalam suatu acara pendalaman Alkitab, seseorang pemuda mengemukakan suatu pertanyaan, “Bagaimana hidup bagi Tuhan?” Ia mengaku, barangkali dari banyak kegiatan hidupnya setiap hari, hanya satu atau dua kegiatan hidupnya saja yang dilakukannya dengan memikirkan Tuhan, atau menunjukkan kegiatannya itu untuk-Nya. Biasanya kegiatan-kegiatan itu yang disebut “kegiatan rohani”, seperti berdoa, membaca Alkitab, membaca renungan harian atau pergi ke gereja. Pertanyaan jujur pemuda ini menunjukkan pergumulannya untuk mewujudkan hidup bagi Tuhan atau hidup untuk kemuliaan-Nya.

Kalau mau jujur, sebenarnya pertanyaan ini juga ada dalam benar banyak orang; bukan hanya orang muda, melainkan termasuk orang tua. Banyak orang belum mengerti, bagaimana merealisasikan kehidupan yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan baik itu. Sayangnya banyak dari mereka tidak pernah mempersoalkan dengan serius, karena menganggapnya abstrak. Lebih parah lagi kalau ada orang yang menganggapnya mustahil untuk dilakukan.

Barangkali kita pernah berpikir, “Enak saja hidup bagi orang lain; bagi diri sendiri saja masih kurang “. Kalau ini masih terbesit dalam pikiran kita, kita harus segera bertobat dan berubah. Jika tidak, kita tidak akan mengalami bagaimana memiliki hidup yang benar, hidup yang berkualitas tinggi, hidup yang akan berkelanjutan di langit baru dan bumi baru.

Hanya orang-orang yang hidup bagi Tuhan dan untuk kemuliaan-Nya saja yang akan berlanjut di kekekalan. Orang yang hidup bagi dirinya sendiri, dengan rumus “Selalu untukku” tidak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya. Mereka selalu membuka mata, mengangakan mulut, ingin memuaskan hasratnya dan meraih sebanyak-banyaknya.

Kalau masih mengejar keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, mustahil seseorang dapat mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budinya. Keinginan daging artinya mencari kepuasan diri dalam dagingnya, keinginan mata artinya hasrat memiliki pemenuhan kebutuhan jasmani, dan keangkuhan mata adalah pengharapan untuk kehormatan dari orang lain.

Di manakah posisi kita hari ini? Jika belum pada posisi yang benar, segeralah berbalik dan bertobat. Besok kita akan mempelajari bagiamana ciri-ciri hidup yang hanya bagi Tuhan dan mempersembahkan segalanya bagi Tuhan, sehingga dalam kehidupan kita ada asas, “Selalu untuk-Mu”.

Hanya orang-orang yang hidup bagi Tuhan saja yang akan berlanjut di kekekalan.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 19 Agustus 2013, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: