Surat Gembala: Peta Kehidupan Yang Salah

Manusia modern yang berpikir maju dan cerdas berusaha bagaimana membuat hidup ini indah pernuh warna dan kreatifitas. Kreatifitas tersebut dari model pakaian, perhiasan, olahraga, game, berbagai pameran, berabagai pegelaran dari pemilihan ratu kecantikan sampai pada pemilihan hewan piaraan, belum lagi kegiatan manusia yang hidup pada abad-abad sebelum kita hidup. Teknologi juga menciptakan berbagai kemudahan hidup dan berbagai hiburan serta berbagai inovasi yang memukau. Di pihak lain manusia memiliki banyak kesibukan yang makin menenggelamkan dirinya jauh dari kesadaran bahwa dirinya adalah mahluk kekal. Kesibukan manusia membuat mata hatinya tertutup terhadap makna hidup yang sesungguhnya, sebab telah diisi dengan berbagai kegeiatan yang sebenarnya sia-sia. kondisi ini sebenarnya merupakan kondisi yang sangat membahayakan manusia ditinjau dari kehidupan kekalnya. Manusia sibuk makan dan minum, kawin dan dikawinkan tetapi melupakan tujuan hidup yang digariskan oleh Tuhan yang menciptakan manusia (Lukas 17:26-30)

Manusia telah menjadi budak dunia, artinya budak hiburan budak olahraga (olahraga perlu tetapi menjadi penonton bukanlah kewajiban), budak teknologi ( menikmati hasil teknologi untuk tujuan kemudahan hidup adalah baik, tetapi kalau menjadi keharusan adalah perbudakan), budak mode dan budak segala kesenangan. Manusia dituntut mengikuti perkembangan jaman dan memiliki apa yang teknologi sediakan. Semua ini memberi warna jiwa manusia sehingga tanpa sadar telah membangun suatu standar hidup yang semakin jauh dari maksud Pencipta menciptakan kehidupan. Hal tersebut membuat peta kehidupan manusia semakin berubah kearah yang salah atau semakin jauh meleset. Dengan kondisi seperti ini bagaimana kedurhakaan tidak semakin betambah-tambah dan kasih kebanyakan orang akan semakin dingin. (Mat. 24:12). Bukan tanpa alasan kalau melihat situasi seperti Tuhan Yesus berkata: Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi? (Lukas 18:7). Pernyataan ini memberi peringatan kepada kita bahwa dunia dalam situasi di mana Iman Kristen yang sejati sulit dipertahankan atau ditemukan, yang ada banyak orang hanya memiliki iman yang jauh dari standar. Berkenaan dengan hal ini Paulus mengatakan: Aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya (2Kor. 11:3). Oleh sebab itu orang percaya harus hati-hati terhadap tipu muslihat iblis (Ef. 6:11).

Manusia dewasa ini memiliki banyak kesibukan yang makin menenggelamkan dirinya jauh dari kesadaran bahwa dirinya mahluk kekal.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 5 Agustus 2013, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: