Surat Gembala: Bersahabat bukan Berteman

Pernahkah saudara merenungkan kenyataan bahwa kita akan sendiri tanpa siapapun dan apapun. Sekarang ini, ketika banyak orang ada di sekitar kita, kita tidak memikirkan hal itu sama sekali. Setiap saat ketika menginginkan siapapun untuk menemani kita, mereka bisa datang. Apalagi kita yang memiliki kekuasaan, kekayaan, kita bisa menghadirkan siapapun untuk mendampingi. Tetapi suatu saat kita akan dipisahkan dengan semua orang, dan tidak seorangpun dapat menghindarkan diri dari kenyataan ini. Kenyataan tersebut baru dapat kita hayati pada waktu tengah malam, ketika terjaga dan semua orang sudah terlelap tidur. Penghayatan ini akan lebih kuat lagi pada waktu seseorang terbaring di salah satu ruang ICU rumah sakit seorang diri. Sudah siapkah saudara terhadap saat tersebut yang pasti terjadi dalam hidup saudara?

Sungguh suatu kecerobohan, jikalau seseorang mengabaikan hal ini. Binatang tidak perlu memikirkan hal tersebut, sebab mereka mahluk yang tidak memiliki kelanjutan keabadian. Berbeda dengan manusia yang akan memasuki lembah bayang-bayang maut. Dalam beberapa kesempatan sebagai pelayan jemaat yang mengunjungi orang yang sedang ada di ujung maut, saya menjumpai orang-orang yang ketakutan dilembah akhir hidup tersebut. Itulah sebabnya pelayanan gereja harus serius memperkarakan hal ini. Di pihak lain, jemaat Tuhan harus serius mau mendengar, menangkap pesan ini dan memperkarakan dalam hidupnya. Harus diusahakan sebelum seseorang memasuki lembah akhir hayat tersebut sudah sungguh-sungguh bersahabat dengan Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi (Luk. 16:9). Perhatikan kata persahabatan dalam ayat ini, yaitu ‘philos’ atau ‘filos’ bukan teman ‘hetarios’. Kata hetarios adalah kata yang digunakan TUhan Yesus untuk menyapa Yudas di taman Getsemani ketika mengkhianati diriNya (Matius 26:50). Berkenaan dengan ini, banyak orang Kristen yang merasa sudah bersahabat dengan Tuhan padahal barulah berteman. Mereka memang tidak berteman dengan setan melalui dukun, tetapi mereka hanya berteman dengan TUhan melalui gereja dan pendeta. Jemaat datang ke gereja diajar untuk berteman dengan Tuhan, yaitu bagaimana memanfaatkan Tuhan untuk segala persoalan dan kebutuhan yang berkenaan dengan pemenuhan jasmani dan ambisi serta cita-cita manusia. Tetapi mereka tidak diajar untuk menjadikan Tuhan sebagai sahabat. Dengan cara ini mereka sebenarnya bersikap tidak pantas terhadap Tuhan.

Banyak orang Kristen yang merasa sudah bersahabat dengan Tuhan padahal baru pada level berteman.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 22 Juli 2013, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: