Surat Gembala: Pikiran Yang Tertutup

Dunia ini digambarkan oleh Tuhan Yesus seperti jamannya Nuh sebelum air bah menenggelamkan manusia dan Sodom dan Gomora (Lukas 17:26-32). Kalau pernyataan ini dianggap berlebihan berarti orang tersebut tidak mengerti kebenaran. Orang yang tidak mengerti kebenaran standar Injil masih memandang bahwa cara hidup manusia di sekitarnya wajar-wajar saja. Sebab dirinya juga memiliki standar yang tidak berbeda jauh dari dunia sekitar. Pada dasarnya semangat jaman telah merasuk jiwanya, sehingga pikirannya semakin tertutup terhadap kebenaran Tuhan. Itulah sebabnya ia tidak berusaha untuk berubah dan bertumbuh untuk memiliki cara hidup yang diteladankan oleh Tuhan Yesus atau memang ia sudah tidak sanggup lagi meneladani-Nya. Dengan cara demikian ia telah memilih dunia. Inilah orang-orang Kristen yang bergereja tetapi memilih dunia. Keadaan orang-orang Kristen ini juga sering disebabkan oleh kebodohannya sendiri karena tidak mengerti kebenaran sejati yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Terkadang khotbah yang disampaikan di mimbar walaupun mengutip ayat-ayat Alkitab tetapi sebenarnya meleset dari kebenaran yang sejati. Tanpa disadari khotbah-khotbah tersebut justru jalan kompromi dengan dunia. Sehingga berlaku yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Orang buta menuntun orang buta. Kalau sudah terlalu lama buta, maka ia tidak akan mau mengerti ketika ditunjukkan jalan yang benar. Telinga mereka tidak bisa lagi mendengar kebenaran.

Dilain pihak juga ada orang-orang yang mendengar Firman Tuhan yang murni, tetapi karena semangat jaman telah sangat kuat merasuk dalam jiwanya sehingga secara fisik mendengar Firman Tuhan tetapi jiwanya menolak. Faktanya kebaktian di gereja tidak berdampak signifikan dalam kehidupan mereka. Mereka tidak berubah menjadi manusia Allah seperti yang dikehendakiNya. Kalau ini terjadi dalam hidup kita, maka kita harus bangkit untuk kembali kepada Tuhan seperti anak bungsu yang terhilang jauh dari rumah orang tuanya (Lukas 15:17-19). Pertobatan yang benar ditandai dengan kesadaran bahwa dirinya tidak layak menjadi anak Allah berhubung dengan kehidupan yang dimiliki telah jauh dari standar yang Allah Bapa kehendaki. Kesadaran ini bisa ada jika seseorang dicerahi oleh kebenaran Firman Injil yang murni. Tidak ada cara lain untuk selamat kecuali melalui langkah ini.

Firman Tuhan berkata: “Bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” (Efesus 5L14-18) Terobosan itu harus berawal dari diri kita sendiri sebab Tuhan sudah memberikan semua fasilitas untuk memperoleh keselamatan.

Kalau semangat jaman semakin merasuk dalam diri seseorang maka pikirannya semakin tertutup terhadap kebenaran Tuhan.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 15 Juli 2013, in Renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: