Menyiapkan Akal Budi: Tidak Berharap Dunia.

Kekristenan bukan agama untuk orang kebanyakan, artinya bahwa kekristenan adalah jalan hidup yang hanya bisa dikenakan oleh segelintir orang yang tidak berharap kebahagiaan hidup di dunia. Untuk hal yang bersifat temporal atau bernilai sementara tetapi harus mengorbankan yang abadi adalah kebodohan. Tidak berharap kebahagiaan hidup di dunia bukan berarti tidak bahagia, justru Tuhan akan menggirangkan kita dengan segala hal yang ada pada kita. Memang pada dasarnya kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Ketika seorang penduduk desa bisa memiliki sebuah sepeda yang dapat membawa kayu bakar dari rumah ke pasar, hal itu sudah sangat menbahagiakan. Sebaliknya ketika seseorang pengusaha di kota besar bisa membeli mobil mewah tetapi ia tidak merasa puas maka mobil mewahnya tidak membahagiakan hatinya. Kebahagiaan tergantung dari cara seseorang memandang dan memaknai hidupnya. Kalau cara pandang hidup sudah salah, menganggap yang dapat membahagiakan hatinya adalah sesuatu yang menjadi target, maka ia akan diperbudak oleh sesuatu itu. Penduduk desa tersebut sebenarnya juga diperbudak oleh sepeda, karena sepeda itulah yang dapat membahagiakan hatinya. Untung hanya sepeda yang kekuatan sosial ekonominya rendah. Kalaupun ada korban, kecil korbannya. Bagaimana kalau targetnya adalah pesawat pribadi, kapal pesiar, rumah mewah seharga di atas 100 milyar dan lain sebagainya yang memilikii kekuatan sosial ekonomi besar, maka akan makan korban dalam jumlah yang lebih besar juga. Manusia yang sudah terbelenggu oleh filosofi hidup yang salah akan terus terbelit oleh filosofinya tersebut sampai membunuh dirinya dan membunuh banyak orang. Orang seperti ini tidak dapat mengikut Tuhan Yesus.

Selama orang masih berharap bahwa dunia bisa memberikan hidup yang lengkap, utuh, bahagia, aman dan nyaman maka ia tidak akan pernah mengenakan kekristenan yang sejati. Kekristenan yang dikenakan pasti palsu. Tetapi inilah kodrat pada umumnya. Hal ini diwariskan oleh orang tua kepada kita dan yang dapat diserap dari lingkungan dunia di sekitar. Korban Tuhan Yesus di kayu salib hendak menebus kita dari cara hidup yang salah ini (1 Petrus 1:18). Cara hidup yang benar adalah menyiapkan akal budi, tetap waspada (tidak mengikut jalan dunia) dan meletakkan pengharapan seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepada orang percaya pada waktu penyataan Yesus Kristus (1 Petrus 1:13). Itu berarti, lebih dari menggumuli untuk mencapai segala hal yang diharapkan dapat membahagiakan diri, seorang anak Tuhan hidup dalam ketaatan kepada Allah Bapa dan menjadi kudus dalam seluruh kehidupannya (1 Petrus 1:14-16).

Selama orang masih berharap dunia bisa memberikan kebahagiaan mereka. maka ia tidak akan mengenakan Kekristenan yang sejati.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 17 Juni 2013, in Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: