Jangan Menjadi Bodoh Lagi!

Biasanya orang berlindung pada Tuhan ketika menghadapi ancaman atau marabahaya dan sedang membutuhkan sesuatu. Jika demikian, maka orang akan merasa lebih membutuhkan Tuhan atau merasa perlu Tuhan dalam situasi tersebut. Jika mereka dalam situasi hidup yang baik, nyaman dan tenang, belum tentu seintensif mereka berurusan dengan Tuhan. Pada dasarnya orang-orang seperti itu tidak memperlakukan Tuhan secara pantas. Sikap seperti ini seperti sikap orang-orang yang memperlakukan pohon beringin keramat yang dikunjungi hanya ketika bermasalah atau membutuhkan sesuatu. Inilah hubungan yang dilandasi oleh azas manfaat, yaitu umat memanfaatkan Allah. Hal itu dianggap sah-sah saja dan benar. Mereka berpikir Allah maunya demikian. Pola seperti ini ada dalam banyak agama dan kepercayaan, khususnya pada relasi antara seseorang dengan kuasa supranatural. Irama jiwa seperti ini sangat kuat masih mencengkram banyak orang Kristen. Bila hal ini masih ada dalam kehidupan seseorang maka berarti ia belum dewasa dan belum mengerti kebenaran. Bila seseorang mengerti kebenaran, maka tidak akan memperlakukan Tuhan demikian. Jadi, untuk bisa memperlakukan Tuhan secara pantas dan menempatkan diri secara benar dihadapan Tuhan seseorang harus mengisi pikirannya dengan kebenaran Firman Tuhan.

Kebodohan ini juga dipicu oleh ajaran banyak mimbar yang mempromosikan Allah secara keliru, seakan-akan Tuhan sama dengan dewa-dewa atau tempat keramat. Mereka menarik umat datang kepada Tuhan hanya untuk menyelesaikan masalah pemenuhan kebutuhan jasmani tanpa disadari dibalik usaha menarik umat untuk menjadi anggota gerejanya terdapat motivasi untuk memanfaatkan mereka. Penginjilan yang murni dari Tuhan Yesus adalah menjadikan semua bangsa murid. Menjadi murid artinya diubah untuk tidak menjadi sama dengan dunia ini. Betapa naifnya, penyebaran agama hanya supaya seseorang memeluk agamanya, bahkan dengan “pedang” (kekerasan dan pemaksaan). Mereka memaksa orang memeluk agamanya supaya mat hati anak cucunya ditutup untuk mengenal Injil. Hal itu tidak dimaksudkan membuat orang menjadi jahat, tetapi sudah menutup kemungkinan seseorang menjadi corpus delicity. Penginjilan tidak berarti banyak kalau hanya membuat orang beragama Kristen (apa bedanya dengan agama lain). Sebenarnya yang penting adalah memberitakan Injil agar manusia diselamatkan yaitu dikembalikan kepada rancangan Allah semula; menjadi corpus delicty (Rm. 8:28-30).

Memperkenalkan Allah yang berkuasa bukan untuk memanfaatkan-Nya, tetapi untuk menjadi anak-anak yang taat.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 3 Juni 2013, in Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s