Surat Gembala: Penyimpangan

Di beberapa komunitas Kristen diajarkan bahwa Tuhan menentukan orang-orang yang diselamatkan, sementara mereka tidak mengerti apakah keselamatan itu. Mereka menganggap keselamatan adalah sesuatu yang mudah digelar atau berlangsung, padahal itu mewujudkan goal keselamatan seseorang harus berjuang berat, yaitu menjadi sempurna seperti Bapa. Bila keselamatan hanya dipahami terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk Sorga. Maka tidak perlu ada usaha untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus atau menjadi sempurna (Flp. 2:5-7). Penyesatan ini bukan saja terjadi dikalangan orang-orang Kristen awam yang ada di lingkungan gereja, tetapi bahkan di lingkungan orang-orang yang belahjar theologia. Memang penyesatan ini tidak terlalu parah, tetapi akan mengakibatkan tidak atau kurang terbentuknya kehidupan orang percaya yang berkualitas sebagai corpus delicty. Oleh karena tidak dianggap parah maka sebaliknya kata penyesatan ini diganti dengan kata penyimpangan. Mereka yang menyimpang ini akan merasa cukup puas menjadi manusia yang baik-baik dan santun di mata manusia lain. itulah sebabnya tidak akan ada perjuangan yang serius meninggalkan dunia ini untuk memilih langit baru dan bumi yang baru, Kekristenan menjadi bagian hidup yang penting tetapi tidak menjadi segala-galanya. Mereka akan membangun kehidupan beragama yang baik dengan mengemas liturgi sebaik-baiknya seakan-akan dengan melakukan hal itu mereka sudah melakukan tugas kehidupan yang baik.

Penyimpangan ini tidak membuat orang menjadi jahat, amoral atau melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum. Tetapi penyimpangan ini bisa mengunci banyak orang percaya agar tidak mencapai taraf kesucian seperti Tuhan Yesus Kristus. Mereka belajar Alkitab dengan tekun untuk bisa bertheologia, tetapi karena konsep keselamatannya demikian maka hal itu tidak memicu seseorang untuk berjuang sempurna seperti Allah Bapa. Hal ini juga bisa merusak cara berpikir yang sehat. Sebab Allah bisa tertuduh sebagai penyebab kebinasaan dari orang yang ditentukan tidak selamat. Hal ini tentu saja menjadi konsekuensi logisnya. Penyimpangan ini memang tidak membuat seseorang masuk neraka tetapi sulit untuk dapat menjadi corpus delicty. Mereka yang menganut pandangan ini diantaranya adalah orang-orang yang sangat baik dalam gereja. Mereka pun juga aktif dalam berbagai kegiatan misi dan sosial, sayang sekali, mereka tidak memahami kebenaran Injil karena pikiran mereka telah dikunci oleh konsep yang salah. Mereka yakin masuk Sorga, padahal keselamatan dalam Tuhan Yesus bukan hanya menyediakan fasilitas untuk bisa masuk Sorga, tetapi juga memerintah bersama dengan Dia.

Untuk mewujudkan goal keselamatan, seseorang harus berjuang berat, yaitu untuk menjadi sempurna seperti Bapa.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 27 Mei 2013, in Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: