Surat Gembala: Berlindung Demi Kepentingannya

Kalau motivasi mengandalkan Tuhan keliru, maka sebagai akibatnya seseorang tidak akan dapat menempatkan diri secara benar dihadapan-Nya sebagai umat, dan tidak menempatkan Allah secara benar. Seharusnya mekanisme yang harus dipahami dalam relasi dengan Allah, bahwa Allah junjungan yang baginya segala hormat, penyembahan dan pengabdian seluruh kehidupan ini. Dalam hal ini tidak ada unsur memanfaatkan Allah sama sekali atau menggunakan Dia untuk suatu kepentingan, kecuali kepentingan Allah sendiri. Kalau seseorang berurusan dengan Tuhan karena kepentingannya sendiri berarti ia menjadikan Tuhan bukan sebagai majikan secara benar. Bibirnya memanggil pribadi yang terhormat dengan sebutan “Tuhan”, padahala sikap hati dan perlakuannya tidak sesuai dengan panggilan Tuhan di bibirnya. Tuhan berarti Tuan atau Majikan, yang bagi-Nya umat mempersembahkan segenap kehidupan tanpa batas. Bodoh sekali kalau ada usaha untuk menyuap Tuhan dengan pujian dan sanjungan serta penyembahan, padahal dalam kenyataan hidup “diperkuda”. Sebagai perbandingan, perhatian bagaimana hulubalang-hulubalang seorang raja memperlakukan raja atau kaisarnya. Mereka tidak berhutang budi kepada raja atau kaisarnya tetapi pengakuan mereka bahwa raja atau kaisar patut menerima yang terbaik dari segenap hidup mereka, maka mereka rela mengabdi tanpa syarat. Sepenuh hati diabadikan bagi raja atau kaisar tanpa batas. Kalau untuk manusia (raja atau kaisar di bumi), orang bisa berkorban demikian, apalagi buat Tuhan.

Dalam Perjanjian Lama terdapat Firman yang menyatakan bahwa orang yang tidak mengandalkan Tuhan akan terkutuk, tetapi yang mengandalkan Dia diberkati (Yer. 17:5-7). Terkutuk disini tentu dihukum Tuhan dengan disiplin secara jasmani (kemiskinan, dikalahkan musuh dan lain sebagainya). Teks ini harus dipahami secara tepat dan cerdas. Pada waktu itu Yehuda di ambang khancuran karena tidak mau hidup sesuai dengan torat Allah. Seharusnya mereka bertobat dan bergantung kepada Mesir. Teks ini tidak bisa dikenakan bagi orang percaya. Konteks jaman Yehuda sangat berbeda dengan jaman kita hari ini. Orang Kristen yang dewasa sudah tentu tidak pergi ke dukun. Mereka juga mau taat dan hidup saleh, tetapi bukan berarti kemudian kehidupan ekonominya baik. Sebaliknya mereka menyerahkan segenap hidup bagi kepentingan Tuhan dan tidak mencari kenyamanan. Inilah yang disebut kehilangan nyawa. Mereka bergantung kepada Tuhan dengan motivasi mengabdi kepada-Nya.

Seseorang berurusan dengan Tuhan karena kepentingannya sendiri berarti ia menjadikan Tuhan bukan sebagai majikan secara benar.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 20 Mei 2013, in Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: