Surat Gembala: Muara Kehidupan

Betapa bodohnya banyak manusia hari ini yang kelihatannya sibuk melakukan berbagai aktivitas, padahal mereka hanya sedang menunggu kematian yang menjemput. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang menuju suatu muara yaitu lautan kekekalan. Seperti benda yang mengapung di suatu sungai yang sedang terbawa arus menuju laut. Arus tersebut merupakan realitas yang tidak bisa dihindari. Orang sibuk makan dan minum, kawin dan dikawinkan tanpa sadar bahwa ia sedang diseret kelautan luas kekekalan. Menghadapi kekekalan yang dahsyat itu hanya ada satu perlindungan, yaitu Tuhan semesta alam, Allah Israel, Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Bapa menyediakan fasilitas keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita berurusan dengan Tuhan untuk mempersoalkan bekal apakah yang harus kita bawa sebelum sampai ke muara itu. Tentu saja bukan emas dan perak, kekayaan dan kedudukan, pangkat dan kehormatan. Bekal itu adalah kehidupan yang diperkenan-Nya. Hal ini menyangkut sikap hati, setiap perkataan yang kita ucapkan dan semua perbuatan.

Selama ini banyak orang merasa sudah hidup wajar sehingga merasa nyaman dengan keadaannya. Padahal kalau keadaan hidupnya dinilai dengan kacamata perkanaan Tuhan, ia belum berkanan dihadapan Tuhan. Hal ini terjadi sebab mereka tidak berusaha untuk mengerti apa penilaian Tuhan terhadap dirinya. Yang lebih dipersoalkan adalah bagaimana dirinya terpandang dan terhormat di mata manusia, bagiamana memiliki apa yang orang lain miliki dan bagaimana memuaskan segala keinginannya. Dan mereka merasa berhak untuk hidup dengan cara itu. Inilah orang-orang sesat atau berjalan delam kegelapan. Kalau mereka orang Kristen, mereka merasa sudah cukup baik sebagai orang Kristen dengan segala kegiatan rohani yang telah dilakukan. Padahal, kegiatan rohani belumlah menentukan ukuran perkenanan di hadapan Tuhan. Berkenan di hadapan Tuhan adalah suatu pergumulan yang sangat berat, sebab selain abstrak juga sangat bertentangan dengan hasrat manusiawi kita. Untuk mencapai level ini seseorang tidak bisa menjadikan usahanya sekedar sambilan. Ia harus mempertaruhkan segenap hidupnya tanpa batas. Hidupnya akan disita oleh pergumulan untuk menjadi berkenan di hadapan-Nya. Seluruh kegiatan seharusnya diarahkan untuk proyek berharga ini yang nilainya tak terhingga. Irama hidup belajar hidup perkenan kepada Allah menjadi irama hidup yang permanen sampai kekekalan. Inilah yang disaksikan oleh Paulus bahwa ia berusaha, baik diam di dalam tubuh ini, maupun diam diluarnya, supaya berkenan kepada-Nya (Kor. 5:9). Hari-hari hidup ini harus sungguh-sungguh diisi dengan usaha berdamai dengan Tuhan.

Orang sibuk makan dan minum, kawin dan dikawinkan tanpa sadar bahwa ia sedang diseret kelautan luas kekekalan.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 15 April 2013, in Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: