Karena Dia Adalah Segalanya

Kalau kita mengandalkan Tuhan sebagaimana Dia adalah kehidupan kita. Tanpa Dia kita tidak memiliki kehidupan. Tanpa Dia kehidupan ini bukanlah kehidupan. Hal ini digambarkan seperti rusa yang membutuhkan sungai yang berair. Air bagi rusa adalah kehidupannya. Jadi kita harus bisa mengatakan bahwa tanpa Dia kita tidak dapat hidup. Betapa cemburunya hati Tuhan, tatkala umat berurusan dengan Tuhan disebabkan karena umat tidak bisa hidup atau tidak merasa lengkap tanpa fasilitas materi dan hiburan dunia ini. Betapa luka hati Tuhan kalau umat merasa bisa hidup tanpa Dia. Sebab dengan demikian berarti mereka hanyamau memanfaatkan Tuhan saja. Banyak orang tidak mengerti apa artinya berlindung kepada Tuhan itu. Mereka adalah orang-orang yang melakukan perjinahan ilahi. Inilah perselingkuhan terhadap Allahyang hukumannya berat. Tetapi mereka merasa sedang berlindung kepada Tuhan padahal mereka menolak perlindungan Tuhan. Tuhan tidak diperlakukan sebagai kebutuhan utama kehidupan ini. Seuatu hari nanti akan terbukti ternyata mereka tidak menjadikan Tuhan sebagai perlindungan. Jadi, kalau seseorang bermaksud mengandalkan Tuhan karena memang tidak bisa hidup tanpa Dia sendiri sebagai berkat utama dan satu-satunya; bukan karena berkat dan kuasa-Nya.

Sebenarnya Tuhan tidak menuntut apa-apa dari kita kecuali hati yang diserahkan kepada-Nya. Orang yang menyerahkan hatinya kepada Tuhan berarti mengingini Tuhan lebih dari mengingini segala sesuatu. Tuhan menjadi tujuan kehidupan, ini artinya segala sesuatu yang dilakukan untuk Tuhan dan kerajaan-Nya. Inilah maksud tujuan manusia diciptakan oleh Tuhan. Kalau Tuhan menjadi fokus kehidupan tentu juga menjadikan Tuhan sebagai obyek pujian, pemujaan, penyembahan dan ibadah kita. Bukan keindahan dunia ini yang kita ingini tetapi diri Tuhan Yesus sendiri, Pengalaman luar biasa ini dialami oleh penulis Kitab Mazmur yang menyatakan perasaan dengan ungkapan sebagai berikut: Yang kuingini Engkau saja… dan sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya (mzm. 73:25-26). Kata “bagianku” dalam teks aslinya “cheleq” (khay’lek) yang bukan hanya berarti portion (porsi atau bagian) tetapi juga inheritance (warisan). Dari pernyataan ini pemazmur hendak mengatakan bahwa dirinya rela tidak memiliki apapun asal tetap memiliki Tuhan. My mind and my body may grow weak, but God is my strength; he is all ever need. Orang seperti ini akan mengatakan bahwa ia mengandalkan Tuhan sebab Tuhan adalah pemuas dahaga jiwanya, bukan hal lain.

-solagracia-

Kalau seseorang bermaksud mengandalkan Tuhan, memang tidak bisa hidup tanpa Dia sendiri, bukan tanpa berkat dan kuasa-Nya.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 8 April 2013, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: