Mengubah Cita Rasa Jiwa

Masalah penting yang harus kita tahu adalah bagaimana menempatkan segala hal pada tempatnya. Kuncinya terletak pada beberapa harga atau nilai yang diberikan kepada Tuhan. Selama ini banyak orang seakan-akan sudah menghargai Tuhan atau memberi nilai yang pantas, padahal belum atau tidak sama sekali. Kalau hanya beragama dan melakukan kegaiatan Agama belum tentu sudah menghargai Tuhan secara pantas. Mengapa banyak orang sulit menurunkan harga terhadap dunia ini agar dapat menghargai Tuhan secara pantas? Sebab hal memberi nilai terhadap segala hal didunia ini bukan hanya menyangkut pengertian (walau ini sangat penting dan menentukan), tetapi juga menyangkut “taste” atau cita rasa jiwa. Sama seperti kalau seseorang sudah menyukai satu jenis makanan sejak kecil, sulitlah merubah cita rasa lidahnya. Mengubah kebiasaan menukai satu jenis makanan membutuhkan waktu dan perjuangan yang berat. Inilah yang menjadi penyebab mengapa orang sulit menurunkan berat badannya. Seorang yang terkena penyakit diabetes miletus, harus mengubah pola makannya. Kalau tertumbuk pada jenis makanan yang berkadar manis tinggi, harus memandang bahwa itu racun bagi dirinya. Ini sama dengan seorang yang kadar kolesterolnya tinggi, setiap kali bertemu dengan makanan yang berkadar kolesterol tinggi harus memandang sebagai makanan yang berbahaya bagi dirinya. Pola pikirnya yang diubah dulu, maka citarasa lidahnya juga akan diubah.

Banyak orang yang tidak mau merubah pola pikirnya karena memanjakan diri. Ia berkata dirinya tidak bisa makan sayuran. Yang lain menyatakan bahwa ia tidak bisa minum kalau tidak manis. Mereka tidak peduli apakah itu membahayakan dirinya atau tidak. Akhirnya hal cita rasa lidah ini menjadi ikatan yang tidak mudah dilepaskan. Mengubah cita rasa lidah saja tidak mudah, atau cita rasa jiwa, tentu jauh lebih sulit, Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup adalah cita rasa jiwa yang harus digantikan dengan cita rasa jiwa yang benar yaitu melakukan kehendak Bapa atau memuaskan hati-Nya (1 Yoh. 2:15-17). Ini yang dimaksud dengan kasih akan Bapa. Keinginan daging selain soal makan minum juga soal seks. Keinginan mata menyangkut hasrat memiliki apa yang orang lain miliki. Sedangkan keangkuhan hidup menunjuk kepada kenikmatan dipuji dan di hormati orang lain. Kita harus memandang keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup sebagai sesuatu yang membahayakan. Lebih tegasnya dipandang sebagai racun. Kita tidak bisa mengalami oerubahan cita rasa jiwa ini secara otomatis. Perubahan ini bisa terjadi hanya melalui usaha yang benar-benar serius dengan segala pengorbanan.

Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup harus digantikan dengan cita rasa jiwa melakukan kehendak Bapa

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 2 April 2013, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: