Pengalaman Pribadi Sebagai Landasannya

Pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus adalah landasan hidup Kristen (Yoh. 17:3). Pengenalan mengenai pribadi Tuhan Yesus dapat diperoleh melalui belajar Firman Tuhan secara benar. Dalam hal ini sumbernya adalah Injil; kitab Perjanjian Baru. Memandang pribadi Tuhan Yesus yang tertulis di dalam Alkitab harus dari sudut pandang yang benar. Jangan memandang Tuhan Yesus hanya sekedar sebagai juru selamat duniawi, sehingga mereka tidak mengenal maksud tujuan kedatangan Tuhan yesus ke dunia ini. Ini adalah konsep yang salah, pengaruh theologia orang-orang Farisi dan tokoh-tokoh agama Yahudi yang emanantikan mesias dunia (mesias ekonomi dan politik). Ini adalah pikiran manusia dan apa yang dipikirkan manusia bukan berasal dari Allah (Mat. 16:21-23).

Adapun pengalaman pribadi dengan Tuhan yesus menunjuk pengalaman riil dengan Tuhan dimana seseorang benar-benar mengalami kehadiran Tuhan Yesus dalam kehidupan secara nyata, konkrit dan terbukti. Pengalaman-pengalaman tersebut membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang hidup yang menyertai orang percaya. Penyertaan Tuhan bukan berarti membuat seseorang hidup tanpa masalah. Bukan berarti akhir suatu pergumulan atau persoalan hidup dipandang positif dimata manusia. Tidak selalu masalah berakhir spektakuler seperti Petrus dan Paulus yang dikeluarkan dari penjara secara ajaib, tetapi juga ketika berakhir dengan tumpukan batu seperti Stefanus yang dilempari batu. Untuk bisa menangkap kehadiran atau penyertaan Tuhan seseorang harus mengenal Tuha dengan benar. Bayangkan kalau pengertian seseorang mengenai penyertaan dan kehadiran Tuhan selalu berkahir spektakuler seperti yang dialami Petrus dan Paulus, bagaimana seandainya ternyata berakhir seperti yang dialami Stefanus. Dalam kisah Stefanus yang dirajam batu, tidak ada sedikitpun keluhan Stefanus. Hal ini menunjukkan bahwa dirinya ada dalam penyertaan Allah Bapa (Kis. 7:48-50). Stefanus tidak meragukan kesetiaan Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Ia menyongsong kematiannya dengan gagah perkasa. Ia bisa bertindak demikian karena ia memiliki pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan. Dalam hal ini pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus membangun kepercayaan kepada Tuhan Yesus tanpa syarat. Selanjutnya pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan akan mengorbankan kecintaan kepada Tuhan Yesus tanpa batas. Ingat cinta sejati adalah cinta tanpa batas. Dalam hal ini kita menemukan sosok pengikut Kristus yang gagah perkasa seperti Tuhannya.

-Solagracia-

Penyertaan Tuhan bukan berarti membuat seseorang hidup tanpa masalah.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 25 Maret 2013, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: