Karena Manusia Sangat Rentan

Seseorang tidak dapat berlindung kepada Tuhan kalau tidak mengakui bahwa dirinya adalah mahluk yang sangat lemah dan rentan (fragile). Pada waktu seseorang dalam keadaan yang tidak bermasalah dalam segala segi kehidupan ia tidak sungguh-sungguh berhasrat berlindung kepada Tuhan. Setelah ada dalam masalah berat, baru sungguh-sungguh mau berurusan dengan Tuhan. Dalam hal ini Tuhan disamakan dengan ban serep, kalau ban tidak bocor maka tidak dicari serepnya. Tuhan juga sering disamakan dengan rumah sakit, kalau tidak sakit parah tidak berurusan dengan-Nya. Demikianlah dalam kehidupan banyak orang, kalau tidak menghadapi masalah berat mereka tidak akan mencari Tuhan.

Alkitab menggambarkan hidup manusia seperti bunga rumput dan seperti uap (1 Ptr. 1:24; Yak. 4:14). Kerentanan manusia terletak pada tiga faktor antara lain: Pertama, bahwa manusia memiliki fisik fana yang kemampuannya sangat terbatas. Tubuh atau fisik manusia yang telah jatuh dalam dosa sangat rentan terhadap penyakit dan kematian. Manusia bukan bertulang besi, berotot kawat dan berkulit baja. Kalau datang kerumah sakit kita dapat menyaksikan banyak orang tergolek dalam keadaan tidak berdaya karena sakit penyakit. Pada waktu itu kita akan lebih menyadari betapa rentannya tubuh manusia, apalagi kalau ada di kuburan, maka akan lebih menghayati betapa rentan dan fananya manusia itu.

Kedua, hidup di dunia menghadapi banyak bahaya yang mengancam setiap saat. Banyak bahaya yang melampaui kekuatan manusia. Di tahun-tahun mendatang manusia akan lebih diperhadapkan kepada keadaan dunia yang penuh ancaman, krisis, bencana alam, epidemic penyakit dan lain sebagainya, karena Firman Tuhan mengatakan demikian (2 Tim.3:1-5; Mat. 24:1-13). Ketiga, adanya kuasa gelap yang jahat berusaha menyeret manusia kepada kegelapan abadi. Bahaya iblis bukan hanya sepak terjangnya yang dapat membuat hidup manusia sengsara di bumi ini, tetapi juga menggiring dan mempersiapkan manusia menjadi warga api kekal. Kalau iblis hanya membuat manusia sengsara di bumi, hal itu bukan masalah sama sekali, bahkan justru bisa menguntungkan, karena manusia bisa tergiring ke dalam kerajaan-Nya. Dengan kelicikannya iblis berhasil menggiring banyak orang kepada kebinasaan. Kita harus selalu menghayati kerentanan hidup ini, supaya tidak sombong. Jangan hanya pada waktu merasa gagal, sakit dan di ujung maut berulah bersikap rendah hati dan mencari Tuhan. Sebenarnya itu bukan rendah hati yang benar, itu adalah kerendahan hati sementara. Kita harus selalu merasa membutuhkan Tuhan.

Kalau iblis hanya membuat manusia sengasara di bumi, hal itu bukan masalah sama sekali, justru manusia bisa tergiring ke dalam kerajaan-Nya.

Orang yang hidup dalam rencana dan kehendak Tuhan adalah orang-orang yang otomatis ada dalam perlindungan Tuhan.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 21 Maret 2013, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: