Bukan Berharap tetapi Percaya

Kalau kita berlindung kepada Tuhan, hal itu dalam rangka menjaga hidup dari yang jahat guna menjadi serupa dengan Tuhan Yesus (Yoh. 17:15). Dan ini pun sudah ada mekanisme, yaitu kalau mau berjaga-jaga supaya tidak jatuh dalam pencobaan. Kalau tidak berjaga-jaga pasti jatuh juga. Kalau seseorang tidak berjaga-jaga tetapi bisa tidak jatuh berarti Tuhan melanggar FirmanNya sendiri. Sebenarnya, walau seseorang tidak meminta perlindungan kepada Tuhan, Tuhan pasti tetap melindungi, karena Tuhan Yesus sudah mendoakan untuk perlindungan orang percaya. Tetapi harus diingat dari pihak manusia harus ada tindakan untuk tidak berbuat dosa dengan sikap berjaga-jaga. Dalam hal ini hendaknya standar hidup orang percaya tidak disejajarkan dengan umat Israel Perjanjian Lama. Kalau umat Perjanjian Lama berlindung kepada Tuhan hanya karena masalah-masalah yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi tidak demikian dengan umat Perjanjian Baru. Umat Perjanjian Baru mencari perlindungan dari Tuhan untuk menghadapi serangan si jahat yang kuat dan gencar.

Tidak sedikit orang Kristen yang berpikir bahwa Tuhan membutuhkan umat untuk berlindung kepadaNya, seakan-akan Tuhan sedang berkompetisi dengan kuasa lain. Mereka berpikir kalau umat berlindung kepada Tuhan, maka Tuhan merasa menang dalam kompetisi dengan kuasa lain. Sebenarnya kalau umat berlindung kepada kuasa lain, Tuhan menjadi cemburu, tetapi dasarnya bukan karena Ia merasa tersaingi. Karena umat bisa binasa. Dasar kecemburuan Tuhan tersebut karena Dia mengasihi umat agar tidak diseret ke dalam kebinasaan. Jadi umat jangan merasa dibutuhkan Tuhan. Karena pemikiran yang salah tersebut sampai ada orang yang merasa berhak ditolong oleh Tuhan dan memperoleh apa yang diingini kalau berlindung kepada Tuhan. Harus diingat, bahwa ketika seseorang ditebus oleh Tuhan Yesus dan menyerahkan diri serta mengaku bahwa segenap hidupnya milik Tuhan, maka ia tidak perlu berharap pertolongan Tuhan lagi. Sebab kalau masih berharap pertolongan Tuhan berarti dirinya masih ada di luar pemilikan Tuhan. Seseorang yang menghayati kehidupan seperti ini akan dengan sendirinya bebas dari ketakutan dan cemas. Dirinya sebagai milik Tuhan pasti dilindungi oleh Tuhan. Keragu-raguan terhadap pemeliharaan Tuhan sama dengan mencobai Tuhan Allah (Mat. 4:7). Kalau masih berharap perlindungan Tuhan berarti ia masih memiliki diri sendiri. Itu berarti pula ia memiliki kepentingan-kepentingan pribadi atas hidupnya. Ia juga tidak percaya bahwa Tuhan setia terhadap miliknya sendiri yaitu hidup yang telah ditebusNya.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 20 Maret 2013, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: