Cara Memandang Sesama

Kita harus memandang sesama dengan kerinduan agar mereka beroleh keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Dalam hidup kita sebagai anak-anak Allah, Tuhan mengajar kita memandang manusia lain seperti Tuhan memandang. Hal ini merupakan langkah nyata menerapkan kasih kepada sesamanya. Itulah sebabnya orang percaya harus ada di tengah-tengah masyarakat dalam berbagai lingkungan. Dari  anggota keluarga sendiri, keluarga besar sampai masyarakat luas, masyarakat kelas bawah sampai atas, dari yang tidak berpendidikan sampai kepada yang berpendidikan tinggi. Dari yang rohani dan yang saleh sampai kepada yang tidak bermoral, dari mereka yang menguntungkan sampai kepada yang merugikan, dari yang mengasihi kita sampai kepada yang membenci, dari yang setia dan yang berkhianat dan lain sebagainya. Meninggalkan keramaian menjauhi manusia lain dan pergaulan untuk bisa menyepi di tempat terpencil, merupakan usaha untuk melarikan diri dari kehidupan normal adalah sikap pengecut yang tidak membuat seseorang memiliki keunggulan, sebagai manusia yang memanusiakan orang lain. Biasanya mereka berpendirian bahwa dengan melakukan hal tersebut mereka memiliki hubungan yang eksklusif dengan allah yang disembah dan menjadi manusia unggul. Justru keunggulan seseorang adalah ketika bergaul dengan manusia lain dan menjadikan manusia lain sebagai sesamanya seperti yang Tuhan Yesus ajarkan, mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri.

Bagaimana kita bisa memandang manusia seperti Allah memandang ? Harus dimulai dar pengertian kita mengenai kenyataan bahwa Allah menaruh roh yang berasal dari Dia dalam diri setiap insan. Sejatinya semua manusia yang memiliki roh dari Allah adalah anak-anak Allah. Tetapi karena dosa, manusia tidak memiliki karakter seperti Bapa. Inilah yang menjadi pertimbangan awal. Bukan tanpa alasan kalau Tuhan mengingini roh yang ada di dalam diri manusia dengan cemburu atau dengan sangat kuat. Allah mengingini roh tersebut, dimaksudkan agar tidak terseret ke dalam api kekal. Oleh karena itu Bapa mengutus putraNya yang tunggal untuk menyelamatkannya. Hal ini menunjukkan betapa mahal harga roh manusia. Nilai tinggi ini harus disadari sepenuh oleh orang percaya dan berjalan sepikiran dan seperasaan dengan Allah Bapa yang mengupayakan keselamatan mereka. Kalau seseorang menyadari nilai hidup manusia ini, maka ia akan rela mengorbankan apapun demi keselamatannya. Dan ternyata apapun yang kita korbankan tidak ada artinya dibanding dengan nilai manusia itu. Itulah sebabnya beribu-ribu malaikat di Surga bersukacita atas satu jiwa yang bertobat.

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 23 Juli 2012, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: