Martabat Anak Allah

Berbicara mengenai martabat anak Allah, hal ini menunjuk kepada kehormatan seorang yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Kehormatan di sini bukan hanya ditandai dengan perkataan pengakuan di mulut bahwa dirinya adalah orang Kristen, tetapi seluruh sikap kehidupannya. Justru sikap kehidupan seseorang yang akan menunjukkan apakah ia bermartabat anak Alah atau tidak. Martabat anak Allah akan nampak dari kesucian hidup.

Kesucian hidup akan membuat seseorang berwatak Tuhan. Inilah seseorang yang bermartabat anak Allah. Melakukan hukum-hukum membuat seseorang menjadi bermoral dan menjadikan manusia beradab dan santun, tetapi belum membuat seseorang mampu mencapai kesucian Tuhan. Dalam hal ini yang dibutuhkan bukan hanya mengenal hukum-hukum dan mengingat atau menghafalnya tetapi adalah kecerdasan roh dari mengenal kebenaran Tuhan yang sejati yang tertulis dalam Alkitab ( Yohanes 8:31-32 ) sehingga seseorang mengerti kehendak Tuhan; apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Inilah proses seseorang menjadi tidak serupa dengan dunia ini dan mencapai kesucian yang dikehendaki oleh Bapa. Tentu proses ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sepanjang umur hidup kita adalah pergumulan untuk mencapai kehidupan yang memuaskan hati Tuhan.

Dari beberapa gejala yang ditampilkan dalam pergaulan dan pernyataan-pernyataan mulutnya, maka nampaklah kualitas kesuciannya. Dalam hal ini sesungguhnya seseorang tidak mudah menyembunyikan keadaan sebenarnya. Sebaliknya tidaklah sulit untuk membaca keberadaan orang lain. Tentu yang peka membaca keadaan orang ini adalah orang-orang yang rohani atau memiliki kesucian lebih dari yang lain. Orang rohani dapat menilai orang duniawi tetapi orang duniawi tidak dapat menilai orang rohani ( 1 Korintus ).

Kesucian haruslah diperjuangkan, karena seseorang tidak akan dapat memiliki kesucian tanpa perjuangan. Kesucian hidup tidak dapat dimiliki orang percaya dengan sendirinya atau secara otomatis. Seberapa besar seseorang mencapai kesucian bukan hanya tergantung dari kasih karunia-Nya tetapi juga sangat tergantung dari perjuangannya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk masuk Kerajaan Surga harus berjuang ( Lukas 13:24 ). Semua potensi yang Tuhan berikan haruslah digunakan untuk meraih kesucian.

Untuk mengalami pertumbuhan kesucian yang baik, seseorang harus memiliki kerinduan yang kuat untuk memahami semua yang Bapa kehendaki atas hidupnya. Selanjutnya berusaha memenuhi apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukan. Kerinduan untuk melakukan kehendak Bapa inilah yang dimaksud haus dan lapar kan kebenaran ( Matius 5:6 ). Orang yang rindu untuk mencapai kesucian yang menyukakan hati Bapa, pasti ia dapat meraihnya. Ingat, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tidak ada yang sulit kalau sudah dilakukan dan dibiasakan, tetapi akan menjadi sulit dan tidak mungkin bisa dilakukan kalau tidak pernah diusahakan untuk dilakukan dan dibiasakan. Hal ini akan menggerakkan kita memperhatikan langkah kita setiap detik, menit dan jam. Oleh sebab itu kalau kita salah, kita harus cepat memperbaiki, dan sampai menjadi kebiasaan melakukan kehendak Tuhan tanpa memaksa diri untuk itu, karena sudah menjadi kebiasaan. Selama ini terdapat kesalahan yang fatal yang tidak disadari orang Kristen, yaitu mengenai “seorang yang bermartabat anak Allah”. Banyak orang berpikir bahwa kalau mereka sudah merasa percaya kepada Tuhan Yesus, maka otomatis sudah menjadi seorang yang bermartabat anak Allah. Sehingga banyak orang Kristen merasa tenang sebab merasa sudah diakui sebagai umat pilihan dan sudah dikuduskan oleh darah Tuhan Yesus. Salah satu yang menjadi pemicu kebodohan ini adalah pengesahan dari pihak gereja tertentu yang tidak mengajarkan kebenaran yang sejati, seolah-olah kalau mereka sudah ke gereja maka otomatis sudah menjadi seorang yang bermartabat anak Allah yang kudus.

Seseorang menjadi seorang yang bermartabat anak Allah atau tidak juga tergantung dari respon terhadap anugerah yang ditawarkan Tuhan. Ternyata untuk menjadi manusia pilihan yang bermartabat sebagai anak Allah harganya adalah seluruh kehidupan kita. Orang yang berniat mau bermartabat sebagai anak Allah harus berani mempertaruhkan segenap hidupnya. Tuhan sendiri berkata, kalau mau selamat harus berjuang masuk pintu yang sesak ( Lukas 13:24 ). Pernyataan ini diucapkan Tuhan Yesus menanggapi pernyataan apakah sedikit orang yang diselamatkan ? Persoalan ini juga diperbincangkan murid-murid ketika seorang pemuda kaya tidak berani membayar harga pengiringannya ( Matius 19 ). Murid-murid menyadari bahwa sukar sekali seseorang dapat selamat ( Matius 19:25 ).

Menjadi seorang yang bermartabat anak Allah adalah tanggung jawab bagi orang yang hidup pada zaman Perjanjian Baru. Inilah umat pilihan. Disebut sebagai pilihan, mengesankan bahwa Tuhan dalam kedaulatan-Nya memilih. Tetapi dalam kenyataan hidup ini, nasib manusia juga ditentukan oleh keputusan dan pilihannya. Adam terusir dari Eden bukan karena Tuhan menentukan tetapi karena manusia memilih, dan manusia bertanggung jawab atas pilihan dan keputusannya. Demikian pula apakah seseorang bermartabat anak Allah atau tidak, tergantung keputusannya sendiri dan langkah hidupnya.

Jadi jelas sekali bahwa menjadi seorang yang bermartabat anak Allah juga sangat diperankan oleh pilihan, keputusan dan tindakan masing-masing individu. Setiap orang harus memiliki tindakan konkret untuk menjadi seorang yang bermartabat anak Allah. Dalam hal ini yang menjadi pemicu kuat manusia gagal menjadi seorang yang bermartabat anak Allah adalah pasivitas. Pasivitas artinya keadaan di mana seseorang tidak mengalami pertumbuhan rohani yang melayakkan seseorang menjadi seorang yang bermartabat anak Allah. Kalau pun ada dalam kegiatan gereja, tidak ada perkembangan untuk menjadi seorang yang bermartabat anak Allah. Orang berani membayar harga meresponi anugerah untuk menjadi seorang yang bermartabat anak Allah dengan hanya pergi ke gereja dan berbagai kegiatan pelayanan gereja, tetapi tidak berani membayar harga pengiringan yang benar sesuai dengan harga yang dipatok Tuhan. Harga yang dipatok Tuhan adalah sepenuhnya meninggalkan cara hidup anak dunia. Sebagai akibatnya mereka yang tidak berani membayar harganya hidup suka-suka sendiri setiap hari. Tidak pernah menjadi seorang yang bermartabat anak Allah. Kecerobohan ini akan membawa diri seseorang kepada “menjadi manusia yang terbuang”.

Dalam Matius 22:1-14, Tuhan menunjukkan bahwa Tuhan yang digambarkan sebagai seorang raja yang mengadakan pesta mengundang tamu-tamu istimewa untuk menikmati jamuannya. Tetapi tamu-tamu istimewa yang diundangnya tidak datang. Kemudian raja itu memerintahkan mengundang siapa saja yang bisa dijumpai. Maka banyaklah tamu-tamu undangan dalam pestanya. Tetapi ketika raja itu menjumpai seorang yang tidak mengenakan pakaian pesta, raja itu mengusir tamu tersebut dan menghukumnya. Apa arti perumpamaan ini ? Tuhan memanggil orang-orang untuk menjadi seorang yang bermartabat anak Allah. tetapi apakah orang-orang yang dipanggil menjadi seorang yang bermartabat anak Allah tergantung individu.

Orang yang tidak memakai pakaian pesta menunjuk kepada orang yang tidak serius menanggapi panggilan Tuhan untuk menjadi seorang yang bermartabat anak Allah. Dengan demikian, jelaslah bahwa untuk menjadi seorang yang bermartabat anak Allah harus memenuhi persyaratannya. Persyaratan tersebut adalah respon yang bernilai penghargaan terhadap anugerah yang Tuhan sediakan bagi manusia yang mau atau memberi diri untuk dicintai-Nya.

Dalam zaman Perjanjian Baru, menjadi seorang yang bermartabat anak Allah, makhluk surgawi sama dengan manusia Allah ( 1 Timotius 6:11 ). Seorang yang bermartabat anak Allah adalah manusia yang memiliki keberadaan luar biasa yang berbeda dengan manusia yang tidak terpilih. Kalau seseorang mengaku sebagai seorang yang bermartabat anak Allah tetapi tidak memiliki keberadaan yang luar biasa, ia menipu dirinya sendiri. Tuhan Yesus adalah seorang yang bermartabat anak Allah yang menjadi teladan atau contoh bagi kita semua. Orang yang mengaku sebagai seorang yang bermartabat anak Allah akan terus semakin bertumbuh menjadi seperti Tuhan Yesus.

Orang yang sudah mencapai tingkat menjadi seorang yang bermartabat anak Allah akan mengerti apa artinya menghormati Tuhan sebab ia merasakan dalam jiwanya suatu “kegentaran” terhadap kekudusan Allah. Sebab tidak mungkin orang yang tidak menghormati Bapa bisa masuk ke dalam Kerajaan Bapa di Surga. Hal ini seharusnya menggetarkan jiwa kita. Tuhan Yesus berkata takutlah akan Allah maksudnya adalah memiliki sikap takut dengan hormat kepada-Nya. Tuhan Yesus berkata “takutlah akan Dia” ( Matius 10:28 ). Kata takut dalam Matius 10:28 bukan phrisso tetapi phobeo yang artinya juga memuja, menganggap suci dan menghormati. Jadi takut di sini takut karena menghormati.

Seorang yang bermartabat anak Allah berusaha mewujudkan hidup bagi Tuhan atau hidup untuk kemuliaan-Nya ( 1 Korintus 10:31 ). Hanya orang-orang yang hidup bagi Tuhan yang akan berlanjut di kekekalan. Inilah faktanya, banyak orang yang hidup bagi diri sendiri. Mereka merasa selalu kurang. Untuk dapat mewujudkan Firman Tuhan dalam 1 Korintus 10:31, yaitu “hidup untuk kemuliaan Tuhan atau hidup bagi Tuhan”, seseorang harus mulai mengenal kebenaran Tuhan bertalian dengan tujuan hidup manusia. Ia harus mengerti dan menerima dengan sukacita bahwa hidup ini memang hanya untuk Penciptanya. Kita tidak boleh mengikuti pola hidup manusia umumnya yaitu hidup untuk diri sendiri dan orang-orang yang mereka cintai secara terbatas. Sebenarnya mereka menolak doa Bapa kami : “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Surga”. Irama hidup mereka adalah datanglah kerajaanku, jadilah kehendakku di mana pun dan kapan pun. Ini adalah irama hidup yang diinginkan kuasa kegelapan untuk dimiliki pikiran manusia yang bukan dari Allah adalah pikiran iblis ( Matius 16:23 ). Pikiran Allah akan membawa seseorang kepada tujuan hidup yang benar.

Seorang yang bermartabat anak Allah rela melepaskan segala miliknya dan menyadari kebutuhan yang sesungguhnya dalam hidup ini. Kebutuhannya adalah Tuhan sebagai air kehidupan. Sebab memang jiwa manusia di-desain untuk menjadi kekasih abadi Tuhan. Terpisah dari Tuhan berarti kematian. Keterpisahan inilah kebinasaan. Binasa artinya tidak bernilai. Hidup kekal artinya hidup yang berkualitas tinggi. Hanya segelintir manusia di Perjanjian Lama yang menyadari hal ini. Sungguh suatu anugerah kalau kita diperkenan hidup pada masa di mana kemungkinan untuk memiliki kehausan akan Allah yang luar biasa, sehingga tidak mengingini dunia ini lagi.

Seorang yang bermartabat anak Allah adalah seorang pemenang. Salah satu bahaya yang tidak disadari dalam kehidupan banyak orang Kristen hari ini adalah terlalu optimis menganggap iblis tidak berdaya lagi. Iblis dianggap sudah kalah sama sekali. Petrus menyatakan bahwa iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya ( 1 Petrus 5:8 ). Harus dimengerti bahwa kemenangan Tuhan Yesus di kayu salib bukan membuat iblis tidak berdaya sama sekali. Kalau iblis tidak berdaya sama sekali Petrus tidak perlu mengingatkan jemaat terhadap gerakan musuh itu. Paulus juga mengatakan bahwa orang percaya harus waspada agar tidak memberi kesempatan kepada iblis ( Efesus 4:27 ). Kesempatan di sini dalam teks aslinya adalah topon yang berarti pangkalan atau tempat berpijak. Iblis masih bisa berpijak dalam kehidupan orang yang sudah mengaku dan telah percaya kepada Tuhan Yesus.

Kata menang artinya mengatasi lawan, mengungguli musuh, lulus, menaklukkan. Jadi pemenang artinya orang yang mengatasi lawan, mengungguli musuh, lulus dan menaklukkan lawannya. Tentu seseorang bisa dikatakan sebagai pemenang kalau sudah bergumul melawan musuh atau menghadapi ujian. Dalam teks aslinya kata pemenang di sini adalah hupernikomen ( Inggris : over conquer ). Biasanya berbicara mengenai menjadi umat pemenang, teks yang menjadi acuan dan landasannya adalah Roma 8:31-39. Mari kita perhatikan dengan teliti dan saksama teks tersebut. Dalam konteks apa Paulus berbicara mengenai kemenangan ? Untuk memahami ini kita harus memperhatikan tulisannya secara lengkap. Ia mengatakan bahwa kita adalah umat pemenang karena kita adalah ahli waris Kerajaan Surga ( Roma 8:17 ). Oleh kemenangan-Nya di kayu salib, ia bisa menyediakan langit baru dan bumi baru, yaitu Kerajaan-Nya. Tetapi kita harus menderita bersama dengan Dia untuk mewarisi kemuliaan Kerajaan-Nya bersama dengan Tuhan Yesus ( Roma 8:17-18 ). Inilah proses untuk menerima warisan itu yaitu sebagai seorang yang bermartabat anak Allah ( Roma 8:28-30 ).

Seperti Yesus tegas menolak bujukan untuk menyembah dan berbakti kepada iblis, dengan mengesampingkan perkara-perkara dunia ini, maka kita juga harus bersikap demikian. Kehidupan Tuhan Yesus merupakan teladan yang harus kita ikuti sebagai seorang yang bermartabat anak Allah. Inilah kemenangan Tuhan Yesus. Kalau Tuhan Yesus menyerah kepada keinginan iblis maka tidak akan ada kemenangan sama sekali. Ia pun menjadi pecundang yang kalah. Tetapi ia telah membuktikan keperkasaan-Nya, yaitu ketaatan-Nya kepada Bapa di Surga. Ia taat, bahkan sampai mati di kayu salib ( Filipi 2:5-11 ). Itulah kemenangan-Nya. Kemenangan-Nya bukan pada waktu Ia membuat mujizat termasuk pada waktu Tuhan Yesus mengusir setan, tetapi ketaatan-Nya yang mutlak kepada Bapa di Surga. Tuhan yesus berkata bahwa yang menang akan didudukkan bersama dengan Dia dalam kemuliaan ( Wahyu 3:21 ). demikianlah hanya kalau kita sungguh-sungguh bersikap seperti Yesus, maka kita dapat menjadi manusia rohani dan menjadi pemenang yang sejati. Dengan demikian kita akan dibuat makin memahami kebenaran-kebenaran Allah. Kedewasaan kita akan bertumbuh cepat dan normal. Di tengah-tengah suasana dunia yang materialistis ini, kita harus tetap berpegang teguh kepada kebenaran Allah. pada suatu hari nanti kita akan menerima kemuliaan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kemenangan atas iblis adalah ketika kita tidak memberi iblis pangkalan dalam hidup kita yaitu dalam hati dan pikiran kita ( Efesus 4:27 ).

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 17 Juli 2012, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: