Pikullah Beban yang Dipercayakan !

Kita memikul beban dari Tuhan karena mengerti isi hati-Nya yang menginginkan kita turut dalam rencana agung-Nya.

Sejatinya seseorang seharusnya mengambil bagian dalam pelayanan bukan karena ia belajar teologi; bukan pula karena ia mengerti teknik-teknik pelayanan gereja; apalagi karena mencari keunggulan dalam materi, kedudukan, pendidikan atau segala nilai lebih di mata manusia. Seseorang seharusnya mengambil bagian dalam pelayanan berangkat dari memahami isi hati Tuhan. Ironisnya banyak orang mengejar gelar penginjil atau evangelis, guru injil atau pendeta, bukan karena memahami isi hati Tuhan, melainkan karena mereka ingin dipandang berbeda, dianggap lebih rohani, lebih suci, lebih diberkati dan lebih pandai daripada orang Kristen kebanyakan.

Dengan memahami isi hati Tuhan, pelayanan adalah kerelaan memikul beban Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Kita memikul beban itu karena kita rela bersama-sama dengan Tuhan dalam segala pencobaan. Kita memikul beban itu karena kita rela menderita bersama-sama dengan Kristus. Kita memikul salib, kita minum cawan penderitaan.

Penderitaan itu tidak selalu berarti penderitaan fisik, tetapi kita menderita bagi Kristus dengan mengikuti jejak-Nya. Kita menderita dengan tidak mengasihi nyawa kita sendiri, artinya bersedia meninggalkan kesenangan dunia demi keselamatan jiwa-jiwa atau dipenuhi dan digenapinya rencana Allah di bumi. Seperti Tuhan Yesus tidak menyayangkan apa pun demi keselamatan manusia, demikian pula dengan kita, bila kita juga mau diajak sepenanggungan dengan Tuhan. Dalam hal ini menjadi orang pilihan Tuhan harganya sangat mahal.

Kita rela menderita bukan berarti kita sakit jiwa dengan mencari kesusahan, melainkan karena kita memahami isi hati Tuhan, bahwa Ia ingin memberi kita kesempatan untuk turut memenuhi rencana agung-Nya menyelamatkan dunia ini. Itu harus kita pandang sebagai suatu kehormatan, karena kita yang tidak ada apa-apanya ini bisa dipakai-Nya dalam rencana-Nya yang mulia.

Maka jika kita mau melayani Tuhan, masihkah motivasi kita untuk kepentingan diri kita sendiri ? Sudahkah kita sadar bahwa melayani Tuhan artinya menyerahkan diri untuk menderita ? Itu semua harus kita lalui jika kita ingin dimuliakan bersama-sama dengan Kristus. Jadi jangan berpikir terbalik, dengan menganggap menjadi pelayan Tuhan hari ini artinya mendapatkan kemuliaan di mata orang lain hari ini. Itu bisa membawa kepada kebinasaan kekal kelak.

-Solagracia-

Iklan

About Erastus Sabdono

Preacher of truth, speaker in seminars, TV and radio programs, senior pastor of Rehobot Ministry

Posted on 19 Juni 2012, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: